Mengkritisi Re-Positioning Korea Menjadi "Creative Korea"

Kementerian Kebudayaan Korea Selatan meluncurkan "Creative Korea" sebagai slogan nasional untuk menggantikan "Dynamic Korea," yang digunakan sejak 2002. Memilih kata "kreatif" sebagai kata kunci dari kampanye country brand adalah sebuah ironi, mengingat Korea Selatan selama ini telah dikenal karena keberhasilannya membangun kekuatan ekonomi terbesar di dunia, bukan kekuatan kreatif. creative korea Ketika mengumumkan slogan baru tersebut, pejabat terkait berterus terang bahwa Korea Selatan ingin dipersepsi sebagai negara yang kreatif. "Kreativitas mencerminkan arah ke mana negara ingin bergerak," kata Kim Jong-deok, Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. "Slogan baru ini mempromosikan value Republik Korea yang dijunjung tinggi dan ingin dipromosikan ke luar negeri," tandasnya. Namun demikian, perlu diingat, bahwa jika negara Korea Selatan kurang memiliki bakat kreatif, maka memposisikan brand mereka seperti itu adalah sebuah langkah beresiko. Sebab, langkah itu tidak hanya memaksa orang untuk melihat Korea Selatan  berbeda dengan yang lainnya, namun langkah itu juga merupakan brand promise seumur hidup terhadap dunia. "Namun, jika mereka bisa mewujudkannya dalam waktu dekat, memang bagus," ujar Michael Breen, CEO of Seoul-based Insight Communications Consultants. Ditambahkan Breen, ide dari sebuah brand, dalam kasus Korea Selatan, adalah mereka harus mampu menangkap strategi inti dari sebuah perusahaan atau negara. "Jika strategi inti dari Korea di masa depan adalah kreativitas - ekonomi kreatif, seni dan pendidikan, serta penghargaan terhadap karya individu, maka hal  itu cocok dengan strategi Korea," ujar Breen kepada Korea Times. Pemerintah memilih slogan baru dan logo itu setelah melalui serangkaian jajak pendapat nasional yang meminta warga untuk memikirkan sesuatu yang terbaik guna mewakili "ke-Korea-an" (Koreanness). "Dari 1,2 juta kata kunci yang dipilih warga untuk mewakili Korea, maka mengerucut pada tiga hal, yakni kreativitas, passion, dan harmoni," kata Kim. Ini adalah  kedua kalinya  dalam satu tahun, strategi destination branding Korea menjadi bahan perdebatan, setelah tahun lalu merilis slogan "I Seoul You" untuk ibukota Seoul yang juga mendapat kritikan luas. Bagaimana pun, "I Seoul U" memiliki arti yang membingungkan, serta tidak memiliki brand promise untuk masa depan. Selanjutnya, dengan "creative Korea", mereka memberi tantangan, di mana tekanannya adalah akan dibawa ke mana negeri itu ke depannya. "Terlalu sering menggunakan kata 'kreatif' dapat menyebabkan de-valuing," kata Jacco Zwetsloot, Direktur Inovasi Bisnis di Firma Hukum Korea Hwang Mok Park. "Kata ini bisa bernasib seperti istilah 'freedom' di Amerika Serikat yang hanya menjadi monumen kosong untuk sebuah value positif. Hal ini juga akan membuka kritikan dari luar -- tentang seberapa kreatif Korea yang sebenarnya," tutupnya. (Sumber: Brandinginasia.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Read previous post:
Sudah Saatnya Semarang dan Kudus Menjalankan Destination Branding

Tak banyak pemerintah daerah yang menyadari akan pentingnya destination branding, sebuah proses dalam membangun identitas dan personality yang unik yang...

Close