Run For Health Untuk 50 Tahun Konimex

Pager mako lebih baik dari pager tembok. Kalau kita berkontribusi kepada lingkungan, maka lingkungan akan menjaga kita. Relasi dengan lingkungan akan lebih baik dari pada pagar tembok,” kata Rachmadi Joesoef, Direktur PT Konimex, pada jumpa pers rangkaian kegiatan ulang tahun perusahaan ini yang ke-50 di Solo, Jawa Tengah, pada akhir Maret lalu. Didi, demikian Rachmadi Joesoef, generasi kedua pemilik perusahaan farmasi dan makanan ini biasa disapa, berbicara dalam konteks kegiatan sosial dalam rangka perayaan setengah abad Konimex.

Mengusung tema “Sehat Bersama, Tumbuh Bersama,” perayaan anniversary ke-50 ini dilakukan sepanjang 2017 lewat berbagai kegiatan internal dan ekstenal dengan puncak acara pada 14 Mei berupa lomba lari “Run for Health” yang dieksekusi di Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah.

Menurut Didi, lomba lari ini merupakan upaya Konimex untuk melibatkan masyarakat secara lebih luas dalam program inisiatif sosialnya. Karena untuk setiap kilometer yang dicapai peserta Run For Health, katanya, Konimex akan mengkonversikannya ke dalam jumlah fasilitas sanitasi yang akan dibangun di sekolah-sekolah dasar di Sukohardjo, Jawa Tengah, di mana pabrik Konimex berada. “Ini apresiasi kami untuk masyarakat yang telah mendukung Konimex sehingga bisa berkontribusi kepada Indonesia,” kata Didi tentang lomba lari yang dibagi ke dalam empat kategori ini (5K, 10K, 21K, dan Fun Run for Kids).  ”Kalau kami hanya membangun fasilitas sanitasi ini—tanpa Run for Health—ini kurang melibatkan seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya. Didi berharap dengan pencapaian kilometer para peserta Run for Health nanti, Konimex bisa memperbaiki dan atau mendirikan fasilitas sanitasi setidaknya di 70 Sekolah Dasar di Sukoharjo.

Tidak hanya menyediakan fasilitas sanitasi, menurut Didi, agar hibah ini optimal pemanfaatannya, Konimex menggandeng lembaga swadaya masyarakat atau NGO Persada untuk mengedukasi para pengajar dan siswa SD di kawasan Sukoharjo tentang softskill Perilaku Hidup Sehat dan Bersih. Didi tidak berkenan menyebutkan biaya yang dikeluarkannya untuk menjalankan program sosial ini.

Mengapa fasilitas sanitasi? Menurut Didi, hal ini sejalan dengan visi Konimex ikut menyehatkan bangsa. “Untuk menciptakan bangsa yang sehat, harus sedini mungkin, salah satunya dengan menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat,” ujarnya. Sementara menurut dr. Nasrudin, Kepala Dinas Kesehatan Sukoharjo, angka kesakitan akibat diare saat ini masih tinggi, di mana 1.500 orang meninggal per hari. “Diare adalah salah satu penyakit akibat bakteri makanan dan minuman. Terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah dan sekolah,” ujarnya. Di sisi lain, lanjutnya, fasilitas untuk hidup bersih tidak memadai. Jumlah toilet di sekolah tidak berimbang dengan jumlah siswa. “Setiap 25 anak perempuan atau 40 anak laki-laki idealnya membutuhkan satu toilet. Selain itu, seringkali tidak tersedia air bersih yang cukup, dan tidak ada tempat mencuci tangan yang bersih dengan air mengalir, dan ada pengering,” lanjutnya.

Ditanya tentang alasan memilih program charity ketimbang program inisiatif sosial lainnya seperti cause promotion  atau social campaign yang lebih massif untuk mengubah perilaku hidup sehat segmen anak sekolah secara lebih luas, Didi mengatakan bahwa ini adalah program untuk mengapresiasi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sukoharjo, yang telah mendukung Konimex sehingga bisa berkontribusi kepada masyarakat. “Kami ingin berkontribusi di lingkungan lebih kecil dulu sebelum ke lingkungan lebih luas. Semoga efek nasionalnya bisa terbentuk,” katanya.

Tentang pencapaiannya selama 50 tahun, Didi mengatakan bahwa saat ini Konimex memiliki 121 merek yang didistribusikan oleh perusahaan distributor sendiri di 50 kota dengan 56 cabang dan depo. Khusus untuk produk-produk farmasi seperti Paramex, Konidin, Thermorex, dan Konicare, katanya, Konimex berada di tiga besar market leader. Saat ini pasar produk farmasi non resep dokter (Over The Counter product) seperti yang antara lain digarap Konimex mencapai sekitar Rp 14 triliun. (Lis Hendriani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
AkzoNobel Dukung Inisiatif ‘Kota Humanis’ di Bandung

Untuk kedua kalinya AkzoNobel atau yang lebih dikenal sebagai produsen cat Dulux, kembali bekerja sama dengan masyarakat Bandung dalam menciptakan...

Close