Trend Advertising 2016, Influencer Marketing

Berada di dunia advertising jelas bukan hanya sekedar membuat produk iklan semata, menurut Creative Group Head Dwi Sapta Group Rahma Adriani, intinya adalah menciptakan pesan secara kreatif yang menginspirasi calon konsumen untuk merespon produk yang dipasarkan secara positif tapi juga membangun relationship (engagement) yang baik antara konsumen yang sering mencari informasi dengan brand yang selalu update informasi, menggunakan saluran komunikasi yang beragam, termasuk kanal digital. Maka memasuki 2016, trend advertising di prediksi mengarah ke influencer marketing.

Trend Advertising 2016: Influencer Marketing

Trend Advertising 2016: Influencer Marketing

“Sebagai insan kreatif kita harus memahami ekspektasi baik dari konsumen maupun klien. Bukan hanya. Selain itu harus belajar dari pengalaman beriklan sebelumnya, mengumpulkan informasi untuk strategi yang lebih tepat lagi di brand campaign selanjutnya,” kata Rahma. Trend Advertising pun bergulir seiring dengan trend marketing yang melihat kebutuhan pasar.

Menurut Rahma, trend advertising pada 2016 diprediksi akan merajuk ke influencer marketing karena konsumen kita masih sangat percaya dengan rekomendasi dari orang lain. Hal tersebut, ditunjang dengan menurunnya harga smartphone dan berkembangnya jaringan internet di Indonesia. “Mobile advertising, e-Commerce business, location-based service, mobile TV dan Uber for X akan semakin marak dengan konten sebagai hal yang utama,” kata Rahma.

Mobile marketing akan menjadi trend ketika di jaman sekarang ini setiap orang terutama yang berada di kota besar, kehidupannya sangat bergantung kepada mobile phone atau tablet mereka untuk melakukan kegiatan pekerjaan dan hal lainnya. Khususnya dalam melakukan pembelian produk secara online. “Untuk research produknya (browsing), membandingkan harga secara online, menemukan lokasi toko, sampai pembelian),” imbuh Rahma. Maksudnya, sebut Rahma, dalam industry digital, konten berupa visual, infografik, dan video akan semakin digemari dengan impresi positif.

Guna menjawab tantangan pada 2016, maka strategi utama adalah dengan tetap up-to-date dengan trend pasar, mengerti ekspektasi konsumen dan selalu melibatkan mereka dengan menemukan inovasi baru dalam berkomunikasi dan menyempurnakan strategi di sosial media.

Namun Rahma menggaris bawahi, bahwa tantang tersebut perlu dilihat sebagai dari perspektif creative agency dan advertiser yakni memahami dan mengimplementasikan produk menjadi problem solver yang bisa menguntungkan brand tersebut. “Sebagai insan kreatif, kita harus set the creative standard, orisinil, fleksibel dan selalu menjadi objektif,” pungkas Rahma.

Sederet brand lokal dan global pun pernah ditangani Rahma yang merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti, Jakarta, mulai dari Carrefour, Pertamina, Optik Melawai, Epson Singapore, Bank of China, Land Transport Authority Singapore, Migelas milik Grup Mayora, Tipco, Fatigon C Plus hingga industri perbankan seperti Mandiri Prioritas.

Karir Rahma di dunia advertising diawali ketika ia bekerja di Fortune Indonesia (3 tahun), kemudian sempat menimba pengalaman di Grid Private Limited, Singapore (2 tahun). Hingga akhirnya kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Dwi Sapta Group pada tahun 2013 untuk menempati pos Senior Art Director dan sejak awal 2015 dipercaya menjadi Creative Group Head.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Instant Articles dari Facebook, Revenue Baru untuk Media Online?

Kebiasaan konsumen mengkonsumsi berita melalui mobile, bahkan melalui isu yang beredar di social media, menjadi celah bisnis tersendiri bagi para...

Close