Tujuh Karakter Generasi Milenial yang Penting Dikenali

milenial Persentase usia produktif di Indonesia, 15-35 tahun, kini telah mencapai 40%. Angka itu diperkirakan akan melonjak di tahun 2020, hingga 50-60%. Jumlah yang sangat menggiurkan tentunya bagi para pelaku bisnis maupun pemasar. Tak mengherankan, kini banyak brand yang menyasar generasi milenial—yang notabene mereka yang kelahiran di era 1980-2000—sebagai target marketnya. Bagi pemasar atau pelaku bisnis yang membidik generasi milenial tentu saja harus mengenali atau memahami terlebih dahulu seperti apa karakter dan perilaku mereka. Objektifnya, tentu saja agar strategi pemasaran dan komunikasi yang dirancang sesuai dengan apa yang generasi milenial butuhkan maupun harapkan. Berikut ini tujuh karakter generasi milenial Indonesia, yang diungkapkan Dosen Fakultas Psikologi UI Ivan Sudjana M.Psi. dan Founder Brightspot Market dan The Goods Dept. Anton Wirjono pada Forum Ngobras, yang patut dicermati oleh para pemasar.   #1 Melek Digital Generasi milenial adalah generasi yang sangat melek digital. Bahkan, mereka adalah pengguna terbesar media sosial. Sejatinya, melek digital itulah yang mendorong generasi milenial dengan begitu mudah mengekspresikan diri di akun social media mereka. #2 Konsumtif Generasi milenial tercatat sebagai segmen yang konsumtif untuk bebelanja, traveling, membeli tiket konser, dan film sebagai prioritas. Ivan mengatakan bahwa generasi milenial yang sangat konsumtif tidak bisa dipisahkan dari kemudahan mereka untuk berbelanja. Misalnya, sistem kredit yang jauh lebih mudah dan maraknya belanja secara online. Ditambahkan Anton, perilaku konsumtif generasi milenial dipicu oleh social media yang menuntut mereka untuk selalu meng-up date dan mem-posting apa yang sudah mereka belanjakan pada akun social media mereka. “Tingkat konsumtif mereka, bahkan melebihi dari penghasilan yang mereka peroleh tiap bulannya. Contohnya, dalam satu bulan, mereka dapat membeli dua snicker,” kata Anton. Anton kembali mencontohkan bagaimana generasi milenial rela memperoleh sepatu Nike limited editon dari Kenya West yang hanya dijual 35 pasang. “Pada program itu, generasi milenial yang berminat mencapai 1.200 orang. Mereka memiliki kebanggaan tersendiri kalau bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan peers mereka, untuk kemudian dipamerkan melalui akun social media mereka,” lanjut Anton. #3 Saving untuk Sesuatu yang Diimpikan Menurut Ivan, meski generasi milenial tergolong segmen yang konsumtif, generasi milenial juga tercatat sebagai orang yang suka menabung. Jika generasi sebelumnya menabung untuk jaga-jaga di masa depan, dalam arti uang yang ditabung digunakan sebagai cadangan untuk semua keperluan yang tidak pasti atau tidak terduga di masa depan, maka generasi milenial menabung untuk keperluan yang sudah pasti. “Tipe menabung generasi milenial adalah Easy come easy go. Jadi, mereka lebih mudah membelanjakan uang tabungan untuk membeli sesuatu yang ingin mereka miliki atau lakukan. Contoh, tabungan mereka untuk anggaran traveling di akhir tahun atau untuk membeli produk yang mereka idam-idamkan setiap bulannya. Mereka cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan. Tetapi positifnya, mereka tahu apa yang mereka mau, dan berusaha keras mewujudkannya,” jelas Ivan. #4 Knowledgeable Generasi milenial adalah generasi kritis yang memiliki keingintahuan tinggi. Dengan kemudahan mencari informasi lewat internet, maka generasi milenial tahu betul apa yang mereka mau. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu informasi sebelum mereka melakukan pembelian. #5 Digital sebagai Media Komunikasi Generasi milenial lebih senang berlama-lama di social media dan digital. Oleh karena itu, menurut Anton, berkomunikasi dengan generasi milenial lebih efektif menggunakan media digital dan social media. Namun, ia mengingatkan, generasi milenial menuntut komunikasi di media sosial dan digital dengan cara-cara yang kreatif dan interaktif yang dapat melibatkan mereka. Oleh karena itu, mereka suka konten kreatif yang sifatnya newness atau kekinian, coolness, maupun otentik. “ Bahkan, generasi milenial memilih menjadikan influencer sebagai ‘Hero’-nya. Contohnya, influencer di social media Instagram,” tegasnya. #6 Menjadi Enterpreuner yang Cenderung Tanpa Persiapan Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mentereng, tidak lagi menjadi daya tarik generasi milenial. Sebab kemudahan, terutama di dunia digital, dan dijejali dengan cerita-cerita sukses para startup, menjadikan generasi milenial lebih tertarik menjadi enterpreuner. Sayangnya, menurut Ivan, obsesi menjadi enterpreuner ini kadang dilakukan tanpa persiapan, yang pada akhirnya berakhir dengan kegagalan, alias tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Generasi milenial hanya semangat di awal. Mereka juga sudah punya semangat hard working, tetapi how to-nya tidak dipikirkan. Padahal, sudah ada kemudahan di era digital dalam mencari tahu how ot-nya. Selain itu, kemampuan pendukung atau skill-nya kurang. Kemalasan itulah yang menghambat kesuksesan mereka,” kata Ivan. Sementara menurut Anton, menjadi enterpreuner saat ini memang lebih mudah, karena bisa berpromosi tanpa keluar banyak biaya. Cukup melalui sosial media. “Namun, data menunjukkan bahwa 90% startup gagal. Hal itu karena mereka hanya membayangkan hasil akhir, tetapi melupakan proses. Contohnya, semua orang melihat Google yang sukses, tetapi jatuh bangunnya Google tidak dilihat,” ujar Anton. #7 Mengutamakan Fasilitas dan Apresiasi di Dunia Kerja Generasi milenial lebih memilih fasilitas dan diapresiasi dan tidak menempatkan gaji besar sebagai poin yang utama. Anton mencontohkan, karyawan generasi milenial ingin suasana kantor yang tidak terlalu serius seperti play ground laiknya kantor Google. Mereka juga ingin diperlakukan berbeda, misalnya dengan memberikan apresiasi berupa tiket perjalanan bisnis ke luar negeri yang limited—alias hanya ia sendiri yang memperolehnya.
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Genjot Penjualan TV, LG Luncurkan Tiga Produk di Segmen Premium

Pasar TV nasional pada tahun 2016 ini masih belum membaik. Sama seperti tahun lalu, lesunya pasar televisi nasional disebabkan nilai...

Close