Anda Melakukan Kesalahan? Perbaiki dan Bangkitlah!

 

Bagi pemasar, melakukan kekeliruan adakalanya sulit dihindari. Yang justru penting, bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang sudah dia perbuat, tidak terjebak untuk mengulang hal sejenis dan bangkit meraih kesuksesan.

Sehebat apapun seorang eksekutif pemasar, rasanya tidak ada yang bisa mengklaim dirinya tidak pernah melakukan kekeliruan sepanjang karirnya. Begitu juga dengan seorang entreprenuer. Dalam kisah-kisah sukses seorang pebisnis, pasti terekam beberapa kesalahan yang pernah ia perbuat.  Namun seringkali, justru kesalahan-kesalahan inilah yang menuntun mereka  menggapai tangga sukses.

Sesungguhnya, hal yang terpenting bagi manajer adalah bukan seberapa fatal kekeliruan dan kesalahan yang telah diperbuat. Bagaimana dia bisa memperbaiki kekeliruan yang telah ia perbuat dalam waktu-waktu sesudahnya, merupakan hal yang jauh lebih penting.

Cobaah berkaca pada raja media massa Rupert Murdoch. Dalam buku ‘’Siasat Bisnis Rupert Murdoch’’ , Stuart Crainer menuliskan, bahwa diantara rahasia untuk bisa meniru kesuksesan Murdoch adalah : buatlah kesalahan. Dari kesalahan inilah, katanya, Murdoch  bisa belajar banyak.

Kesalahan terbesar Murdoch, seperti bisa dibaca dari buku itu, bahwa pria kelahiran Australia tahun 1931 ini ialah dia luput memberi perhatian pada bisnis televisi kabel yang saat itu sebenarnya sudah mulai menampakkan prospeknya.

Di tengah jaya-jayanya, Murdoch memang hanya peduli pada televisi yang berbasis satelit. Belakangan, sadar bahwa pandangannya keliru, akhirnya ia memutuskan membeli satu stasiun televisi kabel bernama F/X. Langkahnya ini terbukti tepat. Bisnis televis kabelnya bis jadi mesin uangnya.  Kini dibawah bendera News Corp, Murdoch memiliki 780 usaha yang tersebar di 52  negara.

Contoh lainnya datang dari Dave Illingworth dan Ted Toyoda. Keduanya adalah eksekutif puncak di perusahaan otomotif merek Lexus.  Sebelumnya, ada tradisi pembeli mobil berbunyi begini. ‘’Jangan membeli mobil baru dalam tahun mulai munculnya. Beri mereka waktu setahun untuk membersihkan segala ketidakberesan.’’ Dari ‘’kultur’’ pembeli seperti ini, manajemen Lexus biasanya tidak terlalu agresif dalam memasarkan produk-produk terbarunya. Terutama di tahun pertama.

Tetapi, fakta belakangan bicara lain. Pembeli mobil tak lagi memberikan tenggang waktu. Tidak ada alasan menunggu bagi mereka. Sudah terlalu banyak produk bermutu bersliweran di pasaran. Tentu orang akan mendapatkannya pada kesempatan pertama atau menghadapi resiko ketinggalan. Di lain pihak produsen otomotif Jepang lainnya gencar melakukan pemasaran ketika melempar produk barunya di pasaran.

Lantas, apa yang dilakukan Dave dan Ted setelah menyadari bahwa kebijakan usahanya harus sungguh keliru dan tak lagi relevan dengan perkembangan pasar? Kedua cepat bertindak. Mereka ubah strategi kebijakan usahanya.

Jika sebelumnya, hanya menciptakan 12 prototip, maka setelah itu enggak tanggung-tanggung lagi, mereka membuat 400 prototip produk baru.  Dave dan Ted juga mengadakan kelompok fokus secara luas untuk mendiskusikan produk yang akan mereka lempar ke pasaran.

Upaya megejar kesempurnaan yang dilakukan duo Dave-Ted juga tak main-main. Mereka lakukan selama tujuh tahun untuk mengejar kesempurnaan seperti itu. Akibatnya, mereka harus ‘’membayarnya’’.

Dave bekerja 100 jam seminggu, sedangkan Ted terpaksa memboyong keluarganya  berpindah ke Amerika (tadinya di luar AS) agar bisa lebih konsentrasi mengelola usahanya. Tapi, hasil yang dicapai Lexus saat itu, cukup sebanding. Mereka bisa gandakan penghasilan bisnisnya hingga beberapa kali lipat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)