e-Commerce Bukan Penyebab Lesunya Ritel Konvensional

Yongky Susilo, Staf Ahli Apprindo dan Hippindo

Tahun ini (2018) perilaku belanja konsumen tidak akan banyak berubah dibandingkan tahun lalu. Kelas bawah masih akan mengurangi pembelanjaan karena kemampuan yang mengecil lantaran desakan harga makanan dan harga-harga barang kebutuhan yang sudah tinggi. Sementara itu, kesempatan mencari other income (pendapatan lain) yang biasanya besar, juga dalam kondisi susah. Sebab, kelompok atasnya belum mempunyai konfiden ekspansi usaha. Perlu diingat, GDP per kapita kita sudah terjebak di 4000 USD selama empat tahun. Pertumbuhan ekonomi kurang terhitung cepat.

Fakta menarik lainnya adalah adanya perubahan yang paling signifikan dari perilaku shopper Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini. Kelas Mid Upper, untuk berbelanja memiliki big ticket item, yakni takut pajak, simpan tunai, dan gunakan tunai. Selanjutnya, perilaku kelas Mid Low, menghadapi kekurangan pendapatan dari other income, sedangkan salary atau gaji mereka tetap sama. Mereka juga terdesak oleh kenaikan harga kebutuhan. Jadi, tahun ini, semua konsumen hidup dan belanja yang irit dengan alasan berbeda. Perubahan lainnya, trading down on brand (yang murah) serta trading down on channel (yang format kecil agar belanja tidak kebablasan).

Perubahan perilaku berbelanja tersebut disebabkan ekonomi yang tidak sesuai harapan. Lantaran konsumsi terganggu oleh masalah pajak yang agresif dan masalah-masalah izin yang masih menekan di lapangan, meskipun di pemerintah pusat telah menghapuskannya. Faktanya, di lapangan hal itu masih terjadi.

Saat ini, disrupsi memang tengah terjadi. Akan tetapi, disrupsi bukan penyebab utama pelemahan konsumsi. Beberapa disrupsi berdampak pada terbukanya peluang pekerjaan, seperti GoJek dan GoFood. Artinya, orang bisa membuka usaha dan mendapat pekerjaan dengan memanfaatkan peluang disrupsi. Akan tetapi, dampak disrupsi masih sangat kecil terhadap penurunan pembelian atau belanja konsumen Indonesia.

Lantas, apakah shopper Indonesia mulai beralih ke online? Jawabannya, belanja online memang bertumbuh cepat. Namun, untuk ritel, jumlahnya masih sangat kecil. Dari total revenue ritel Indonesia, yang berasal dari belanja online masih di bawah 2%. Dan, itu pun masih dikuasai oleh kelas menengah atas.

Bahkan, untuk belanja FMCG (Fast Moving Consumer Goods) yang melalui belanja online, masih di angka 1%. Belanja online hanya signifikan di kategori fashion, gadget, dan travel. Artinya, tidak signifikan untuk belanja groseri seperti minyak goreng, sabun, shampoo, air, teh, dan sebagainya.

Anak muda, millennials, hingga dewasa adalah segmen yang intens berbelanja online. Yang menarik, millennials membeli produk-produk yang unik yang memberikan mereka posisi di komunitas. Mereka juga membeli produk-produk yang aspiratif, bukan komoditi.

Saat ini, mereka (pembelanja online) memang disuguhi diskon besar-besaran dan didanai oleh suntikan para Investor e-commerce. Namun, jika diskon diturunkan, kemungkinan revenue penjualan juga ikut turun.

Sementara itu, jumlah para pembelanja konvensional masih sangat besar. Oleh karena itu, ritel tradisional harus dibantu dengan perbaikan ketenangan dalam berbelanja dan berusaha (berbisnis). Jangan juga ditakut-takuti.

Bicara soal tren, tahun ini masih menunjukkan tren yang sama. Shopper masih suka dengan produk yang convenient, healthy, good feeling, dan good looking. Termasuk, produk yang affordable premium.

Era digital memicu munculnya ZMOT (Zero Moment of Truth). ZMOT adalah momen konsumen untuk pertama kalinya bersinggungan dengan brand di internet. Dalam ZMOT, sebelum membeli, shopper melakukan benchmarking atau mencari consumer insight di internet. Lantaran informasi sudah tersedia, maka untuk barang-barang big ticket, tentunya mereka akan secara otomatis menganalisis dari internet. Hal itu menjadi sangat mudah untuk masa sekarang. Sementara itu, untuk small ticket dan impulse, ZMOT masih belum akan berjalan. Adapun untuk kategori brand yang sifatnya menawarkan experience, ZMOT justru makin penting. Bahkan, ZMOT bias mengubah keputusan berbelanja.

Tren ritel lainnya pada 2018 ini adalah produk-produk halal akan meningkat terus dan akan bertumbuh pesat. Lantaran, muslim lifestyle sudah “kencang”. Begitu juga dengan healthy lifestyle juga sudah kencang. Beda dengan green lifestyle yang masih kecil.

Kunci menghadapi tantangan ritel pada 2018 ini adalah dengan menjaga bottom line agar bisa tetap survive dari pelemahan yang berkepanjangan ini. Lakukan pula langkah efektivitas dan efesiensi agar dapat mengecilkan cost. Terakhir, lakukan inovasi dalam service dengan menciptakan hal-hal yang baru yang WOW, tanpa biaya mahal. Dunia yang baru adalah demand yang tinggi, murah, cepat, dan berkualitas tinggi. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)