Good Plan vs Good Execution

Saat ini masih berkembang perdebatan panjang tentang mana yang lebih penting antara Good Plan (Strategy) atau Good Execution.
Amalia

Amalia Maulana

Terlalu banyak rencana tanpa eksekusi kongkrit, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Tujuan tidak tercapai. Terlalu fokus pada operasional eksekusi strategi, biasanya tidak didahului dengan alokasi waktu yang cukup untuk menyiapkan dan memikirkan rencana yang lebih strategic. Fokusnya hanya 'getting things done' saja. Eksekusi model ini tidak efektif dan tidak efisien. Untuk perusahaan yang berorientasi ke analitis, maka yang dianjurkan adalah lebih mengaitkan strategi dengan penyusunan rencana yang lebih membumi. Strategi yang dibuat bukan yang sangat abstrak sehingga tidak dipahami oleh jajarannya. Sebaliknya, perusahaan yang berorientasi ke action, harus dibekali dengan Key Performance Indicator (KPI) yang lebih spesifik. Tidak bisa hanya mengandalkan angka penjualan saja sebagai indikator "sudah berhasil". Sebenarnya Good Strategy dan Good Execution tersebut saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Eksekusi yang menghasilkan sesuatu yang baik berangkat dari persiapan rencana strategi yang juga handal. Karenanya, perdebatan tajam sebaiknya dihentikan dan mulai memikirkan bagaimana untuk merangkai sinergi antara keduanya. Audit Sebelum Planning Dalam workshop Marketing Audit dan Planning 2015 yang saya selenggarakan beberapa minggu yang lalu saya menyampaikan pentingnya Audit yang seksama sebelum pembuatan rencana pemasaran tahun depan. Audit yang mendalam bertujuan untuk tahu persis "where are we now'. Bagaimana performance brand sampai titik dimana planning ini dibuat, dengan menggunakan ukuran-ukuran yang jelas. Hasil Audit ini akan melebarkan perspektif perusahaan yang selama ini hanya mempunyai ukuran angka penjualan untuk mengukur sukses tidaknya sebuah brand. Apabila brand sudah dikenal, tetapi belum dipahami secara baik dan juga masih ada masalah dengan kedekatan emosionalnya, maka titik berat rencana pemasaran tahun depan harus diarahkan kepada penguatan pemahaman brand dan peningkatan non-transactional relationship. Dalam situasi ini, perusahaan yang masih saja alokasi budget peningkatan awareness sudah jelas tidak efektif dan tidak efisien. Pastikan bahwa perusahaan memiliki sumber daya yang handal dan cukup jumlahnya untuk merealisasikan keinginan tersebut. Juga perlu dilihat kualitas dan kapabilitas para partner perusahaan, baik itu Insights Partner (untuk melakukan brand audit) dan Creative Partner (untuk mengerjakan komunikasinya). Dalam rencana pemasaran, biasanya tidak dilengkapi dengan rencana implementasi sehingga akhirnya jajaran yang melaksanakan rencana tersebut masih harus berpikir ulang untuk menterjemahkannya. Saya sarankan untuk mulai menuliskan titik-titik penting evaluasi pencapaian vs rencana, dengan budget berapa (bukan hanya budget marcom saja tetapi budget riset yang menyertainya), dan kapan serta apa saja yang harus diukur pada titik tersebut. Contoh sederhana tetapi kongkrit: Hasil audit: Brand sudah dikenal, tetapi konsumen belum mengerti kelebihan produk. Banyak yang belum punya keinginan membeli. Tujuan komunikasi: Meningkatkan pemahaman. Ukuran 'mengerti brand positioning' adalah apabila konsumen bisa menjelaskan dua atribut terpenting dari Brand. Rencana: Kampanye product knowledge di outlet via SPG dan via website, blog, media sosial selama X bulan. Biaya untuk penyelenggaraan dan risetnya X juta rupiah. Evaluasi terhadap Eksekusi: (1) Cek apakah Kampanye sudah dilakukan sesuai rencana (jumlah outlet dan kualitas conversation di media sosial). (2) Cek apakah konsumen sudah paham brand attribut melalui KUIS di outlet dan di media sosial. Kita butuh strategi yang baik untuk mendapatkan eksekusi yang baik. Strategi yang baik saja memang tidak akan memenangkan pertandingan, tetapi kemampuan implementasi tergantung dari seberapa jelas dan tajam arah yang ditetapkan perusahaan. Tahun 2015 sudah dekat. Pertajam lagi rencana pemasaran dengan perbanyak titik evaluasinya. Rencanakan dengan matang lalu kerjakan eksekusinya mengikuti arah yang dipilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Berkonsep Super Grosir, SaveMax Hadir di Indonesia

Kendati pertumbuhan ritel modern di Indonesia masih didominasi oleh minimarket dan hipermarket, namun Gunung Sewu Group lewat salah satu anak...

Close