Mencermati Dinamika Media 2015

Dalam menghadapi dinamika media, integrasi antar media bisa menjadi kunci untuk tetap survive. Mengingat, saat ini tren mengkonsumi media adalah multi tasking dan multi screen.

Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group, Penulis Buku “IMC That Sells (2011)”, dan Ketua International Affairs P3I Pusat

foto maya mixd

Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group

Setiap tahun, marketer selalu dihadapkan dengan pertanyaan, “bagaimana kondisi media periklanan tahun ini?” Dalam merancang marketing plan, marketer tentu saja harus mencermati landscape dan dinamika media yang tengah terjadi di Tanah Air. Sejatinya, strategi media yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan marketing plan

Di tahun 2014 untuk pertama kalinya belanja iklan hanya naik single digit (6% growth) dimana di tahun-tahun sebelumnya selalu naik seputar 20%.  Total belanja iklan di tahun 2014 adalah Rp 115 triliun dan masih didominasi oleh televisi. Itu artinya, kendati penetrasi digital bertumbuh sangat progresif, namun televisi masih menjadi primadona dengan proporsi spending iklan di TV mencapai 70%.

Data Nielsen 2014 menunjukkan bahwa penetrasi media televisi mencapai 95,19%. Selanjutnya, diikuti oleh media luar ruang yang penetrasinya mencapai  36,3%, internet 28,78%, media transportasi umum 28,07%, radio 19,39%, koran 11,76%, tabloid 5,7%, majalah 3,86%, cinema 3,76%, dan Pay TV 2,47%.

Meskipun televisi masih menjadi primadona, namun tren program televisi mengalami pergeseran. Tren drama seri Asia belakangan makin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Tak mengherankan, jika ANTV menjadi salah satu Top Station lewat sejumlah tayangan drama seri India sekaligus mendatangkan para aktris India ke Indonesia. Tren program yang cepat berubah pun berdampak pada posisi TV share yang tiap minggunya selalu berubah dengan cepat.

Dinamika yang luar biasa juga terjadi di dunia digital. Pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 72 juta orang rupanya berimbas  ke media cetak. Data Nielsen menunjukkan lamanya waktu baca berkurang jauh. Rata-rata waktu konsumsi koran atau majalah berkisar 30 menit, sedangkan konsumsi internet semakin meningkat hingga 2 jam lebih setiap harinya. Efeknya, beberapa majalah dan tabloid yang sempat berjaya, akhirnya harus menutup operasinya di tahun ini dan berpindah ke platform digital.

Digital memang berkembang pesat, karena prasarana semakin mendukung. Gadget semakin terjangkau, jaringan internet semakin bagus dan kencang. Pola konsumsi digital pun akan berubah menuju streaming. Artinya, menonton TV bisa melalui tablet atau smartphone. Kita tidak perlu khawatir ketinggalan acara tertentu,  toh kita bisa mencarinya di YouTube. Beberapa TV station  bahkan sudah punya channel khusus di YouTube, sehingga memudahkan penonton untuk melihat koleksi acara yang sudah pernah tayang.

Lantas, apa yang terjadi dengan TV ketika konsumsi internet meningkat? Secara reach, TV tidak terpengaruh. Terbukti dengan penetrasi TV masih paling tinggi. Hanya saja, cara menonton TV-lah yang berubah. Saat ini, tren menonton TV adalah multi tasking.  Artinya, sambil menonton TV, tangan kanan pegang smartphone, tangan kiri mengenggam remote. Atensi pun terpecah-pecah. Pemirsa menonton TV sambil update status di facebook, membaca lini masa twitter, update infomasi breaking news, atau menjelajah path.

Cukup dimaklumi jika studi Ad Reaction 2014 oleh MillwardBrown menempatkan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi multi-screen tertinggi di dunia. Total waktu  menonton TV dan menggunakan internet di komputer, tablet, atau smartphone dalam  sehari mencapai 9 jam!  Artinya, lebih dari 1/3 waktu kita dalam sehari tidak bisa lepas dari layar TV dan gadget.

Dalam menghadapi dinamika media, integrasi antar media menjadi kunci untuk tetap survive. Misalnya dengan mengintegrasikan TV dan below-the-line activation dan media sosial, hingga berefek pada amplifikasi sekaligus viral yang maksimal.

Strategi media yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan marketing plan” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Kampanye Digital “SHARP Cooklicious” Hadirkan Chef Selebritis ke Rumah Konsumen

PT SHARP Electronics Indonesia (SEID) mengadakan kampanye digital terbarunya bertajuk ”SHARP Cooklicious”. Kampanye ini merupakan strategi yang diterapkan SHARp guna...

Close