Tantangan Industri FMCG di Era E-commerce

Oleh: Ferdi Ferdian *)

Platform E-commerce saat ini semakin bervariasi baik B2B (ralali.com), B2C (lazada, bukalapak) ataupun C2C (olx.id). Ada juga platform Online to Offline/O2O (mataharimall, kudo). Hal ini menjadikan konsumen Indonesia memiliki alternatif belanja online yang semakin variatif.

Produk-produk fashion dan aksesoris menyumbang lebih dari 60% dari total belanja online di Indonesia, diikuti oleh lifestyle dan gadget sebanyak 20% dan sisanya untuk produk-produk lain. Namun demikian kontribusi FMCG masih sangat kecil jauh di bawah 1% dari total belanja online.

Fakta ini terkait perilaku konsumen yang lebih memilih pergi ke retail in-store untuk membeli produk-produk FMCG seperti di hypermarket, supermarket dan minimaret ataupun toko-toko kelontong dibandingkan berbelanja secara online.

Berbeda dengan kebutuhan barang lain, kebutuhan konsumen untuk produk FMCG beragam baik belanja yang dilakukan secara bulanan, mingguan ataupun harian dan juga yang bersifat kebetulan dan impulsif. Isu krusial adalah menarik minat konsumen untuk berbelanja online dengan jaminan kualitas barang yang baik. Mengingat konsumen masih terbiasa untuk melihat barang secara langsung, menyentuh, memastikan kadaluarsa barang dan memastikan kesegaran barang-barang yang akan dibeli seperti telur, ayam, daging dan buah-buahan. Perlu ada insentif atau penawaran berupa diskon atau program menarik agar konsumen mau berbelanja online.

Tantangan situs e-commerce atau marketplace untuk FMCG adalah bagaimana memberikan kenyamanan berbelanja online dengan harga yang kompetitif. Kenyamanan berbelanja salah satunya diartikan pengiriman yang tepat waktu. Platform belanja online seperti Go-Mart dan HappyFresh terlihat unggul dibandingkan dengan gerai retail online tradisional.

Selain waktu pengiriman, tantangan berikutnya adalah mengenai harga. Konsumen on-line sangat sensitif dengan harga—mereka biasanya melakukan survei harga sebelum melakukan pembelian.

Aspek lain yang sering dikeluhkan adalah ketersediaan SKU (Stock Keeping Unit). Para pemain retail menyiasatinya dengan melihat histori permintaan dan penjualan serta sistem manajemen inventori. Berdasarkan pengamatan kami, permasalahan harga murah dan biaya pengiriman yang dibebankan ke konsumen merupakan kendala utama untuk perkembangan retail belanja online sejenis minimarket yaitu Indomaret dan Alfamart. Sementara untuk pemain yang lainnya masih sebatas jangkauan pemasarannya.

Memilih model bisnis belanja online apa yang paling ideal untuk FMCG bukanlah jawaban mudah. Tantangannya adalah memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan dengan harga yang kompetitif. Pemain belanja online harus memiliki jaringan depo (stock point) yang luas di seluruh Indonesia, memiliki harga yang kompetitif serta sistem pengiriman tepat waktu yang andal. Gabungan keunggulan para pemain belanja online yang disebutkan di atas dan men-streamline menjadi sebuah bisnis model yang baru perlu dipertimbangkan berupa sinergi-sinergi baru yang memberikan pengalaman berbelanja online yang menyenangkan sehingga diharapkan minat konsumen untuk berbelanja produk-produk FMCG secara online dapat meningkat ke depannya. *

*) Senior Advisor, PT Qasa Strategic Consulting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)