Akankah “The Death of TV” Terjadi?

Penulis: Uki Utama, CEO Right Hand

Selama beberapa tahun terakhir, kita seringkali mendengar "The Death of TV". Namun, televisi sesungguhnya tidak akan pernah sekarat, karena ia akan terus berkembang--memperluas layar televisi tradisional dengan memasukkan pemrograman dari sumber konten baru yang diakses dengan cara baru.

Ini sangat jelas bahwa lebih banyak konsumen mengalihkan waktu menonton mereka, sambil memilih layanan yang memungkinkan mereka menonton apa yang mereka inginkan, kapan pun mereka mau. Hal itu ditandai dengan terjadinya migrasi menuju video digital asli, seperti Originals YouTube, layanan SVOD seperti Netflix, dan live streaming di platform sosial.

Di tengah lanskap TV yang berubah dengan cepat, perusahaan media tradisional sedang bergerak mencari cara baru dengan melintasi berbagai bidang yang berbeda--mencoba saluran distribusi baru, menciptakan jenis pemrograman baru yang ditujukan untuk pemirsa bergerak/pengguna seluler, dan bermitra dengan perusahaan media digital yang berinovasi.

Selain itu, penyedia kabel TV telah mulai menawarkan alternatif bagi konsumen yang mungkin tidak lagi mau membayar paket TV penuh. Dalam sebuah laporan baru-baru ini dari BI Intelligence dan Nielsen, saya melihat bagaimana tren pemirsa TV, pelanggan, dan periklanan bergeser, tentang di mana dan apa yang ditonton pemirsa saat mereka beralih dari TV tradisional.

Berikut adalah beberapa poin penting dari laporan yang saya baca. 1. Meningkatnya persaingan dari layanan digital seperti Netflix dan iFlix serta perangkat keras baru untuk mengakses konten mengalihkan perhatian konsumen dari program TV langsung.

2. Orang dewasa di Indonesia menonton TV tradisional rata-rata 28 menit lebih sedikit per hari dibandingkan dua tahun lalu, turun 13%. Sejalan dengan ini, langganan TV kabel turun, dan pendapatan iklan TV terus merosot.

3. Orang lebih banyak mengkonsumsi konten media daripada sebelumnya, tapi bagaimana kinerjanya berubah. Setengah dari rumah tangga TV di Indonesia sekarang berlangganan layanan SVOD, seperti Netflix, IndieHome, First Media, Nexmedia, dan iFlix, dan melihat konten video digital asli sedang meningkat.

4. Perusahaan TV Terrestrial terlambat mengantisipasi perubahan ini dan mulai berusaha beralih ke model bisnis baru untuk mengimbangi perubahan tersebut.

Mereka meluncurkan aplikasi mobile bermerek dan situs untuk memindahkan program mereka ke luar kaca TV (vidio.com atau MNC channels), mendistribusikan platform sosial untuk menjangkau pemirsa muda/millenial yang massive, dan membentuk kemitraan dengan berbagai merek media digital untuk membuat konten baru.

5. Industri iklan TV juga mengambil isyarat dari digital. Dari sebelumnya pembelian iklan TV terprogram mewakili hanya 6% dari anggaran iklan TV di negeri ini pada tahun 2015 namun kini meningkat tajam menjadi 36% (2017) dan diperkirakan menjadi lebih dari 55% pada tahun 2019.

6. Sementara itu, TV Network juga mengembangkan konten TV bermerek, serupa dengan dorongan publisher ke konten sponsor.

Secara keseluruhan, laporannya: - Menguraikan pergeseran kebiasaan menonton konsumen, khususnya generasi muda.

- Mengeksplorasi peningkatan layanan streaming berlangganan dan pentingnya konten video digital baru/asli. - Meruntuhkan berbagai cara di mana perusahaan media tradisional mengalihkan strategi konten dan periklanan mereka.

- Dan Membahas teknologi baru yang akan lebih efektif mengukur khalayak di layar dan platform.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Begini Upaya Pertamina Tingkatkan Transaksi Non Tunai

Demi meningkatkan transaksi non tunai di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Pertamina menggelar program consumer promo bertajuk “Pertamina Fuel...

Close