Hegemoni Asing di Industri Periklanan Indonesia

Perputaran uang di industri periklanan Tanah Air sanggup mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2017 misalnya, menurut catatan Nielsen, belanja iklan nasional tembus Rp 145,5 triliun. Tak heran, jika banyak agensi multinasional tergiur mencicipi nikmatnya bisnis periklanan di Indonesia.

Ironisnya, seiring dengan gempuran agensi multinasional di era perdagangan bebas, agensi periklanan lokal yang sempat berjaya di masanya, justru makin terpuruk. Mulai dari memutuskan untuk merger atau terbuka untuk diakuisisi, berdarah-darah menjalani pertarungan hingga tidak lagi bergigi, sampai terpaksa gulung tikar lantaran tak mampu bersaing dengan raksasa multinasional. Sebaliknya, agensi multinasional makin mendominasi.

Tak heran, jika jumlah agensi periklanan lokal yang tersisa saat ini hanya dalam hitungan jari. Agensi lokal yang masih "berbunyi" hingga kini adalah Artek n Partner, DM Pratama, Endeecom, dan CS Media (yang hanya media buying). Sementara itu, Dwi Sapta Group—yang selama ini menjadi leader di agensi lokal—baru saja melakukan merger dengan agensi multinasional Dentsu. Padahal, di era 90-an, puluhan agensi lokal tercatat masih sangat “bergigi” sekaligus dipercaya oleh brand-brand besar. Sebut saja, Hotline, Matari, Avicom, BBDO, AdWork, MACS 909, hingga Cabe Rawit.

Dinilai Maya Dewi AR., President Director Artek n Partner sekaligus CEO Artek Group, sudah saatnya pemerintah turun tangan melindungi agensi lokal. “Saat ini, sudah kartu merah, bukan kartu kuning lagi. Pemerintah sudah harus bergerak dan turun tangan melindungi agensi (periklanan) lokal. Salah satunya, dengan mengeluarkan regulasi yang dapat membuat agensi lokal mendapat tempat di negeri sendiri. Tentu, kita tidak ingin melihat agensi lokal mati semua akibat gempuran agensi multinasional,” ungkapnya.

Sejatinya, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sebagai kepanjangan tangan pemerintah, dapat memainkan perannya. Mengingat, industri periklanan termasuk subsektor yang dibawahi Bekraf. “Sayangnya, yang saya rasakan, sampai saat ini, idealisme Bekraf untuk melindungi agensi lokal hanya baru pada tataran wacana. Sedangkan agensi lokal yang berguguran terus bertambah. Terus terang, saya tidak melihat fungsi dan peran Bekraf pada industri ini,” ucapnya.

Apa saja keprihatinan sekaligus tuntutan agensi lokal terhadap pemerintah terkait dominasi multinasional? Lantas, apa jawaban Bekraf tentang kekecewaan para pelaku agensi lokal? Sudah sejauh mana Bekraf mewujudkan idealismenya untuk berpihak kepada agensi lokal?

Simak jawaban lengkapnya sekaligus wawancara khusus Majalah Mix dengan Wakil Kepala Bekraf pada Majalah Mix edisi Februari 2018...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)