Core Performance Team TCash

Sejak dibentuk pada 2015, tim Lifestyle Marketing TCash adalah core performance team. Seiring dengan perkembangan prospek e-money, jumlah anggota tim terus bertambah, dari delapan menjadi 30 orang. Tim yang didominasi anak muda ini diproyeksikan menjadi growth engine TCash.

Ketika TCash pertama kali hadir sebagai sebuah brand electronic money (e-money) pada 2007, tantangan terbesarnya ada pada produk, yaitu bagaimana supaya produk TCash diterima, dipercaya, dan digunakan user dengan aman, nyaman, dan mudah. Pada 2015 TCash hadir dalam bentuk stiker yang bisa ditempel di ponsel. Dalam bentuk inilah TCash semakin dikenal konsumen Indonesia. Mereka semakin aware dengan apa itu TCash, bisa dipakai untuk apa saja, di mana saja, dan apa saja merchant atau partner-nya.

Puput Hidayat, Head of TCash Lifestyle Marketing & Customer Engagement, menceritakan bagaimana tantangan perkembangan TCash sebagai produk e-money. “Waktu pertama kali TCash Tap diluncurkan ke publik, tantangan utamanya adalah mengedukasi konsumen bahwa brand e-money itu aman digunakan. Karena yang namanya financial product, pasti hand in hand dengan kenyamanan dan keamanan pelanggan,” katanya kepada MIX di kantornya di kawasan SCBD, Jakarta.

Meskipun masyarakat Indonesia ketika itu sudah digital savvy, e-money sebagai produk lifestyle, belum terlalu populer. Karena itulah, objektif Telkomsel meluncurkan TCash Tap saat itu adalah untuk menjadikan e-money sebagai produk gaya hidup orang Indonesia.

Pada awal penetrasinya, kata Puput, TCash tidak hadir dalam wujud fisik yang diakuinya hal ini menjadi kelemahan dalam pengembangannya. “Enam tahun running secara elektronik tanpa physical aspect yang bisa dipegang oleh pelanggan. Itulah kelemahan TCash saat itu.” Beruntung kemudian (pada 2015) Telkomsel mendapat ide untuk menghadirkan TCash dalam bentuk fisik. “Agar menjadi lebih dikenal, Telkomsel meluncurkan TCash Tap. Dan ternyata respon masyarakat sangat baik, animo mereka tinggi. TCash Tap ini menjadi 'pegangan' bagi pengguna dan seperti menjadi ada jaminan bahwa uang Anda aman.” TCash Tap hadir menyerupai kartu debit yang bisa diakses dengan PIN. “Jadi bukan sesuatu yang unik lagi buat pelanggan, karena penggunaannya seperti pakai kartu debit.” Sejak itulah, lanjut Puput, TCash mulai menjadi trusted payment brand yang convenient untuk semua orang.

Siapa di balik Golden Moment TCash ini? Menurut Puput, adalah tim Lifestyle Marketing yang berada di balik core performance TCash. Tim ini terdiri dari empat divisi, yaitu Marketing Product Growth, Product Development, Event and Activation, Brand and Creative Communication, dan Digital Marketing. Tim yang terdiri dari 30 orang ini bertugas me-maintain day to day improvement active user, transaction TCash di merchant atau mitra lain.

“Tim ini bisa dibilang engine growth TCash. Tim kami juga terus berkembang, dari yang hanya ada sekitar 8-12 orang pada 2015, sekarang udah double in size total ada 30 orang. Skill operation kita juga sudah banyak meningkat dari tahun lalu. Saya yakin, tim ini dibesarkan supaya bisa menjadi growth engine TCash,” kata Puput.

Menurut Puput, saat ini, total pengguna TCash sudah lebih dari 20 juta, sebanyak 20%-30% adalah pengguna aktif, dan secara keseluruhan pengguna TCash adalah digital savvy user.

Dengan profil konsumen seperti ini, TCash lebih memfokuskan strategi komunikasinya lewat digital media dibandingkan traditional media. Untuk day to day interactivity dan engagement dengan user, sebagian besar menggunakan social media dan broadcast di kanal YouTube. “Kami melihat bahwa media behaviour user TCash itu mostly di digital media. Semuanya sudah serba digital, dan ini match dengan target market TCash. Untuk itu strategi dan program kami juga menyesuaikan karakteristik target market. Dan buat technology company seperti kami, it is more effective dan efficient,” jelas Puput.

Salah satu program komunikasi TCash pada 2018 adalah kampanye bertajuk “Menang Banyak” yang diselenggarakan pada awal tahun. Fokus program ini adalah pembelian pulsa melalui TCash Wallet, di mana user akan mendapat cashback 30% dan 50% untuk user baru. Program ini sukses mendapat animo masyarakat. Di YouTube, TCash membuat ad series yang ditonton hingga sekitar 6 juta view. Lalu di social media, TCash juga aktif memperkenalkan layanannya, seperti bagaimana cara mengunduh TCash Wallet, bagaimana eksekusi transaksi, dan sebagainya. Dari program ini, sekarang total ada 8 juta user yang sudah mengunduh aplikasi TCash Wallet.

Dan sejak setahun terakhir pindah ke Energy Building, SCBD, Jakarta, TCash menunjukkan improvement yang sangat signifikan. Selain program “Menang Banyak”, baru-baru ini TCash juga meluncurkan programTCash Semua Bisa”, di mana TCash resmi melayani semua operator. Jumlah merchant TCash juga meningkat. “Tahun lalu kami closing belasan ribu, sekarang sudah lebih dari 50 ribu merchant, dan target sampai akhir tahun bermitra dengan 80 ribu merchant. Total transaksi yang tadinya rata-rata 60 juta per-tahun, sekarang rata-rata 10 juta per bulan. Lalu, layanan cash in cash out point juga semakin luas, sudah bisa di Alfamart, Indomart, Family Mart, dan Circle K.”

Ke depan, lanjutnya, Telkomsel menargetkan TCash dapat digunakan oleh semua pengguna operator seluler, bukan cuma untuk pengguna Telkomsel. “Untuk itu, komunikasi kami fokus bahwa TCash semua bisa dan TCash untuk semua, sehingga konsumen semakin tahu layanan dan manfaat TCash. Dengan begitu, mimpi kami untuk jadi bagian tak terpisahkan dari non-cash payment di Indonesia, terjadi,” pungkas Puput. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)