PowerSwitch, Jagoan Field Marketing Indonesia

Dalam waktu enam tahun, PowerSwitch telah memiliki ribuan frontliner Field Marketing di Aceh hingga Papua. Tahun lalu agensi ini meraih Gold Winner untuk kategori Operational Success of the Year di ajang Field Marketing and Brand Experience 2016 di London, Inggris.

Berdiri pada 2011, awalnya PowerSwitch hanya mengerjakan sampling produk Nestle. Namun seiring berjalannya waktu dan melihat proyeksi kebutuhan industri ritel di masa yang akan datang, PowerSwitch kemudian menggarap bisnis Field Marketing secara lebih komprehensif dengan spesialisasi antara lain di bidang retail management, sampling, merchandiser, dan distribusi.

Field Marketing adalah eksekusi ilmu marketing di tingkat outlet di mana orang yang merepresentasikan brand (biasanya dikenal dengan istilah Sales Promotion Girl/SPG) berhadapan langsung dengan konsumen. Di sejumlah perusahaan, field marketing mencakup distribusi dan koordinasi tim penjualan, sementara di perusahaan lain field marketing identik dengan street promotions.

Sebagai agensi Field Marketing, PowerSwitch memiliki heavy resources, yaitu 8.000 frontliner (merchandiser & sales promotion girl/SPG) yang tersebar dari Aceh hingga Papua. PowerSwitch juga diperkuat dengan kantor regional yang membawahi ribuan frontliner tersebut di 27 propinsi di Indonesia.

Coverage kami sekarang hampir di seluruh Indonesia. Didukung dengan kantor region di 27 propinsi. Ini salah satu key factor PowerSwitch bisa bertumbuh cepat. Untuk memenuhi kebutuhan prinsipal, kami melengkapi region kami dengan infrastruktur yang mumpuni, ada fasilitas training, mantaining, gudang, dapur, serta tim regular yang bertanggung jawab di region tersebut,” ungkap Husain Haykal, CEO PowerSwitch.

Berbeda dengan agensi pada umumnya, PowerSwitch membagi unit bisnisnya ke dalam dua tim besar berdasarkan expertise atau skill karyawan, yaitu unit bisnis Sampling dan unit bisnis Retail. Kalau agensi komunikasi pada umumnya membagi tim ujung tombak-nya berdasarkan account client, maka PowerSwitch mengembangkan profil timnya berdasarkan skill yang dibutuhkan, karena pemahaman dunia ritel dan sampling sangat berbeda sehingga sulit meminta satu orang account executive, misalnya, untuk meng-handle klien dengan kebutuhan sampling dan ritel sekaligus.

“Tidak mungkin satu orang bisa handle sampling dan handle ritel juga, terlalu kompleks. Jadi di mata klien juga kami tidak terlihat sembarangan menempatkan satu orang, seakan dia mengetahui segalanya, padahal mungkin skill-nya tidak mumpuni,” terangnya.

Menurut Haykal, trend Field Marketing di Indonesia kini lebih sophisticated. Kalau dulu, merchandiser dan SPG semata berfungsi untuk mendukung distribusi dan penjualan produk di outlet—sehingga penempatannya seringkali tidak mempertimbangan banyak faktor dan terkesan sembarangan. Kini, katanya, orientasi field marketing lebih ke data mining. Jadi, para SPG tidak hanya bertugas menawarkan produk, melainkan mereka diutilisasi untuk mengumpulkan consumer insight melalui wawancara para shopper. Sedangkan para merchandiser tidak hanya bertugas merapikan pajangan produk, melainkan ikut berperan dalam mengawasi dan mengidentifikasi out of stock, dan display produk kompetitor.

Tidak sampai di situ, mereka juga bertanggung jawab mendapatkan data di lapangan dengan cepat dan melaporkannya dengan segera pula—kalau perlu real time—kepada prinsipal yang menjadi kliennya. “Ini erat kaitannya dengan penggunaan teknologi. Jadi informasi yang diperoleh para frontliner saat ini, juga harus didapatkan oleh para prinsipal sekarang juga. Sehingga prinsipal bisa dengan cepat menentukan action—untuk menghadapi persaingan atau kondisi di lapangan saat itu,” ujar Haykal.

Memasuki tahun ke-enam anniversary-nya, Haykal bersyukur PowerSwitch dapat bertumbuh signifikan. Saat ini PowerSwitch ber-partner dengan 13 klien perusahaan nasional maupun multinasional, dan 70 brand, antara lain Nestle, Reckitt Benckinser, P&G, Apple, Microsoft, Indofood, Kimberly Clark, Quaker, Pepsi, Combiphar, dan lainnya.

“Jadi PowerSwitch itu ibarat saklar lampu yang menyala atau switching on. Kami bukan agensi yang create idea, but what we do is turning on the idea. Kami tidak menonjolkan diri sebagai agensi yang banyak ide dan sangat kreatif, tetapi kami berusaha menjadi agensi yang kuat di eksekusi sehingga dapat 'menghidupkan' sebuah ide. Kami ingin lebih dikenal sebagai agensi yang kuat di 'eksekusi',” pungkas Haykal. Terbukti, tahun lalu, PowerSwitch adalah satu-satunya agensi dari Asia Tenggara yang menerima penghargaan FMBE di London, Inggris. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Inilah Daftar Program PR Terbaik Indonesia dan PR People 2017

Tahun ini anugerah “Indonesia PR Of The Year” yang digelar Majalah MIX-Marketing Communication memasuki usianya yang ke-11. Malam penganugerahan yang...

Close