Tiga Millennials di Balik Sukses EATLAH

Hadir sejak dua tahun lalu (Juni 2016), makanan siap saji EATLAH sudah sukses melakukan ekspansi hingga 14 gerai yang tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Semarang. Hingga akhir tahun ini, restoran bermenu andalan "Salted Egg Chicken" tersebut siap melakukan ekspansi ke Bali dan Surabaya.

Sukses EATLAH bertarung di resto cepat saji di Tanah Air tak lepas dari tangan dingin tiga millennials, yakni Charina Prinandita (27 tahun), Riesky Vernandes (26 tahun), dan Michael Chrisyanto (30 tahun). "Kami yang waktu itu sama-sama berkuliah di Singapura bercita-cita menjadikan EATLAH sebagai Yoshinoya-nya Indonesia. Kami ingin ada makanan siap saji Indonesia yang bisa masuk ke pasar internasional," harap Charina.

Ketiganya pun berbagi tugas dalam membesarkan EATLAH. Riesky Vernandes menjabat Chief of Operation, Charina Prinandita ditugaskan sebagai Chief of Marketing, dan Michael Chrisyanto menempati posisi Chief of Branding & Design EATLAH.

Sebagai pendatang baru, sepak terjang EATLAH patut diperhitungkan. Dalam kurun waktu dua tahun, ia mampu menggandeng partner untuk melancarkan ekspansi. "Dari 14 gerai, ada 12 yang merupakan gerai dari hasil partnership. Partner kami cukup memberikan modal untuk biaya staf, bahan baku, operasional, dan tempat. Nantinya, kami yang melatih para staf dan menyediakan bahan baku agar terjamin quality control-nya. Selanjutnya, bagi hasil antara kami dan partner 50:50," ceritanya.

Ia mencontohkan untuk gerai yang ada di dalam mal, seperti di Gandaria City Mall yang baru dibuka Agustus ini, investasi yang harus dikeluarkan mencapai Rp 80-100 juta (belum termasuk sewa tempat di mal). "Pengalaman dari gerai-gerai sebelumnya, transaksi yang terjadi per hari per gerainya mencapai 200-400 box. Adapun balik modal, biasanya butuh waktu satu tahun," papar Charina, yang menyebutkan harga menu utamanya berada di kisaran Rp 35 ribu-Rp 65 ribu.

Diakuinya, awalnya, EATLAH menyasar pasar millennial usia 16-35 tahun. Oleh karena itu, sebagai langkah awal, EATLAH fokus pada media sosial untuk strategi pemasarannya. "Kam mencoba membuat viral campaign di media sosial. Contohnya, waktu buka gerai di daerah Tanjung Duren, kami menggelar program promo Free 100 untuk konsumen mahasiswa yang datang ke EATLAH paling awal. Kami pilih mahasiswa, karena di sana adalah kawasan kampus. Senentara untuk gerai di Gandaria City Mall, kami lakukan untuk karyawan perkantoran karena daerahnya termasuk kawasan perkantoran," ucapnya.

Sejalan dengan perkembangan bisnis, lanjut Charina, pasar EATLAH diperluas ke mass market. Oleh karena itu, kanal komunikasi yang dimanfaatkan tidak hanya media sosial. Akan tetapi, juga memanfaatkan media cetak dan pendekatan Public Relations (PR) lewat media. "Kami juga menggandeng ojek online untuk meningkatkan penjualan. Untuk gerai-gerai di luar mall, kontribusi pendapatan dari ojek online mencapai 60%," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)