Inisiatif Nutrition International Tingkatkan Gizi Masyarakat

Masalah stunting pada balita masih menjadi salah satu isu utama masyarakat Indonesia. Lantaran, masalah malnutrisi—yang umumnya pemicu stunting—masih terjadi pada sekitar 9,2 juta atau 37% dari anak-anak yang mengalami stunting.

Pada tahun 2010, stunting pada balita di Indonesia mencapai 35,6%. Angka itu terus bertumbuh, menjadi 37,2% di tahun 2013. Adapun kisaran prevalensi stunting yang terendah (26,3%) ada di Provinsi Riau dan tertinggi (51,7%) di Nusa Tenggara Timur. Mirisnya, 20 provinsi di antara 33 provinsi, memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi dari data nasional. Demikian studi yang dirilis Riskesdas 2013.

Fakta itulah yang mendorong Nutrition International--organisasi global di Kanada yang bergerak dalam pemenuhan gizi bagi ibu hamil, anak balita, dan remaja—untuk menggelar berbagai inisiatif sosial berupa program edukasi kesehatan di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Dijelaskan Direktur Nutrition International Indonesia Sri Kusyuniati, Nutrition International telah bekerja di Indonesia sejak tahun 2006. Bersama dengan Pemerintah Indonesia—seperti dengan Kementrian Kesehatan, Kementrian Pendidikan, Kementrian Agama, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Bappenas/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, serta pemerintah provinsi—Nutrition International Indonesia menggelar program yang dapat memperkuat kesehatan dan gizi di Indonesia. Termasuk, meningkatkan status gizi kelompok yang paling rentan di Indonesia, terutama perempuan, remaja putri, dan anak-anak.

Lebih jauh ia menegaskan bahwa ada berbagai program peningkatan gizi masyarakat yang sudah dan akan terus digelar Nutrition International Indonesia. Mulai dari meningkatkan jumlah anak yang menerima suplemen kapsul vitamin A dua kali setahun, membantu membangun dan meningkatkan penerapan tatalaksana balita diare sesuai rekomendasi nasional dengan oralit osmolaritas rendah dan zinc, meningkatkan jumlah rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium secara memadai, meningkatkan jumlah wanita hamil yang menerima suplemen zat besi dan asam folat (TTD) dan minum secara rutin dan sesuai anjuran, mengurangi anemia di kalangan remaja putri yang bersekolah melalui suplemen zat besi dan asam folat mingguan, pendidikan gizi, dan konseling, hingga memperkuat program Nasional untuk fortifikasi tepung terigu.

Pada hari ini (19/9), Nutrition International Indonesia juga menggelar program edukasi kepada media terkait isu stunting dan peningkatan gizi masyarakat. Melalui format talkshow kesehatan tersebut, sejumlah pakar dihadirkan. Antara lain, DR. Sri Kusyuniati, dr. Sedya Dwisangka, M.Epid selaku Kasubdit Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI (kiri ke kanan), Dr. Juwalita Surapsari selaku Dokter Spesialis Gizi Klinik, DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, Sp. A(K) selaku Pakar Kesehatan Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Rozy Afrizal Jafar selaku Praktisi Garam Beryodium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)