Dian Siswarini: Inklusivitas Bisnis Perempuan Berdampak pada Kemakmuran Perusahaan dan ROI

MIX.co.id - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi salah satu isu prioritas yang dibahas dalam G20 Empower. Mengingat, UMKM menjadi salah satu bentuk bisnis yang paling cocok untuk womenpreneur yang ingin memiliki bisnis.

Diungkapkan Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini, yang hadir di perheletan G20 Empower di Yogyakarta pada Mei ini (18/5), "G20 Empower adalah wadah untuk berkolaborasi dan bersinergi guna meningkatkan UMKM. Sebab, untuk menciptakan multiplier effect, kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri."

Sebagai salah satu private sector yang tergabung dalam G20 Empower, diakui Dian, sebenarnya apa yang dicita-citakan G20 Empower telah dijalankan XL Axiata. Antara lain, melalui inisiatif Sisternet dan Sispreneur. Inisiatif yang mendukung kemajuan perempuan tersebut akan makin diperkuat dan dikembangkan melalui G20 Empower. "Bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), kami ingin meningkatkan UMKM dalam skala global atau mendunia," ucapnya.

Menurut Dian, selama ini  kebanyakan perusahaan hanya mendukung secara finansial  kepada UMKM. Hal itulah yang membuat program tidak berjalan. "Yang harus dibangun adalah seluruh ekosistem. Artinya, tidak hanya memberikan akses pada finansial, tetapi bagaimana memembantu dan mendampingi mereka dalam  mengelola akses, bagaimana akses terhadap market,  hingga akses terhadap komunitas lain untuk berbagi. Termasuk, bagaimana membebaskan mereka dari sosial bias yang ada dan akses terhadap legal right," lanjut Dian.

Ekosistem itulah yang harus dibangun bersama, di mana masing-masing anggota aliansi dapat berperan sesuai dengan kemampuannya. "Dalam aliansi ini, XL melalui insiatif Sisternet dan Sispreneur akan menargetkan 1.000 penerima manfaat UMKM perempuan sepanjang April hingga Agustus 2022," ujarnya.

Dian yang juga menjabat Co-Chair W20 menegaskan bahwa saat ini, pada level manajerial di XL, 30%-nya sudah diisi oleh perempuan. Padahal, di BUMN saja kuota perempuan masih di angka 15%.  Untuk mencapai itu, sejumlah upaya telah dilakukan XL.

Pertama, memberikan pemahaman kepada leaders di perusahaan bahwa inklusivitas bisnis perempuan itu positif. Artinya, ada ROI (Return of Investment)-nya, "Selain itu, kemakmuran perusahaan juga dapat meningkat karena kehadiran perempuan," katanya.

Kedua, XL  benar-benar  mencari kandidat perempuan berdasarkan profil pekerjaan yang cocok, alias bukan hanya demi memenuhi kuota. "Kami merekrut untuk fitting certain profile," katanya.

Kembali Dian menegaskan bahwa agenda pemberdayaan perempuan itu adalah agenda finansial, bukan sosial atau kuota, atau emotional decision (keputusan emosional). Oleh karena itu, apabila dalam sebuah posisi yang dibutuhkan lebih tepat dikerjakan oleh kandidat laki-laki, maka XL akan lebih memiliki laki-laki  dibandingkan kandidat perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)