Inisiatif Sosial Optik Tunggal untuk Anak Penderita Katarak Kongenital

Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di subtropis. Fakta lainnya, terdapat 0,78% kebutaan akibat katarak yang tidak diterapi di Indonesia. Demikian data yang dirilis situs www.perdami.id. Data lain menunjukkan, sekitar 10% dari 66 juta anak sekolah di Indonesia menderita kelainan refraksi (salah satu kondisi yang dapat menyebabkan penglihatan buram).

Dijelaskan Alexander F. Kurniawan, Chairman PT Optik Tunggal Sempurna, jumlah anak-anak usia di bawah 18 tahun di Indonesia terhitung cukup signifikan, yakni mencapai 29,4?% atau 77 juta. “Ketika kami cek ke Kemenkes, tercatat ada 10% anak-anak Indonesia yang memerlukan alat bantu kacamata. Tahun 2014, kami melakukan screening mata untuk anak-anak ke sekolah-sekolah. Hasilnya, ada 40-50% anak-anak membutuhkan alat bantu kacamata. Bahkan, saat melakukan screening di salah satu sekolah internasional di Jakarta, ada 72% anak di sana yang membutuhkan alat bantu kacamata,” paparnya pada hari ini (2/4), di Jakarta.

Fakta itulah yang membuat Optik Tunggal melalui Optik Tunggal Next Generation—gerai kacamata khusus untuk anak usia 2 bulan hingga 14 tahun--berinisiatif menggelar program “90 Kacamata bagi Anak-Anak Penderita Katarak Kongenital”. Gerakan bagi-bagi kacamata gratis untuk anak-anak penderita katarak kongenital itu juga sebagai bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun Optik Tunggal yang ke-90.

Diterangkan Alex, kacamata bayi dengan lensa yang cukup tebal di Indonesia belum ada banyak. “Untuk itu, Optik Tunggal melalui Optik Tunggal Next Generation, tergerak untuk mengadakan kacamata bayi yang fleksibel dan tidak membuat alergi. Dengan demikian, membuat anak-anak bebas bergerak dan beraktivitas. Kami menggandeng lensa terbaik di dunia, Zeiss Lens. Mereka menyanggupi, namun memang membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni 30 hari kerja, karena pembuatan lensa memang langsung dari Jerman,” papar Alex.

Lebih lanjut ia menerangkan, menghadirkan optik mata khusus untuk anak tidaklah mudah. Sebagai pionir di Indonesia dan Asia Tenggara untuk optik mata khusus anak, Optik Tunggal Next Generation memperhatikan betul karakteristik anak. “Perlu penangangan dan layanan khusus bagi anak-anak. Oleh karena itu, kami memilih staf yang menyukai anak-anak, serta telaten dan sabar dalam menghadapi anak. Kami mendatangkan dua profesor dari Filipina untuk memberikan pelatihan khusus selama 1,5 tahun untuk para staf,” lanjutnya.

Keseriusan Optik Tunggal terhadap anak-anak penderita kelainan mata itu diikuti pula oleh inisiatif sosial bertajuk “90 Kacamata bagi Anak-Anak Penderita Katarak Kongenital” yang digelar di tahun ini. Sebelumnya, program Corporate Social Responsibility (CSR) tersebut sudah dimulai pada tahun 2018 lalu. “Tahun lalu, kami membagikan kacamata gratis untuk anak penderita katarak kongenital, satu buah setiap bulannya,” lanjutnya.

Dalam menggelar gerakan peduli anak-anak penderita katarak kongenital, Optik Tunggal menggandeng Asri Welas, selebritis yang memiliki anak penderita katarak konginetal, Muhammad Ibran. “Setelah melakukan operasi katarak, Ibran membutuhkan kacamata khusus untuk kesehariannya, yang dapat membantunya berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Setelah menggunakan kacamata khusus dan mengikuti terapi, lensa kacamata Ibran turun dari plus 18 ke plus 14,” ujarnya.

Bersama Asri, Optik Tunggal juga menggelar program edukasi kepada para orangtua tentang pentingnya memeriksakan kondisi kesehatan anak sejak dini. “Untuk mengedukasi, saya memanfaatkan akun media sosial di Instagram dan Youtube. Dari sana, ternyata, banyak anak-anak yang mengalami kelainan yang sama seperti Ibran,” cerita Asri.

Selain itu, Optik Tunggal juga menggelar edukasi melalui media. Di antaranya, dengan menggelar Editor Luncheon pada hari ini (2/4), di Jakarta. Pada kesempatan itu, para awak media berkesempatan memperoleh pengetahuan tentang anak-anak penderita katarak kongenital.

Rencananya, ke depan, gerakan tersebut akan menjadi program berkelanjutan. Namun, diakui Alex, untuk tetap menggelar program tersebut dibutuhkan dana yang tidak kecil. Mengingat, biaya yang dibutuhkan untuk membuat kacamata mencapai Rp 8 juta-Rp 9 juta per itemnya. “Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak,” harapnya.

Sementara itu, sejak digelar Januari 2019, hingga kini Optik Tunggal sudah mendapatkan 90 anak yang akan menerima kacamata katarak konginetal gratis. “Mekanismenya, kami menerima informasi sekaligus memverivikasinya, untuk kemudian ditindaklanjuti untuk melakukan pemeriksaan dan dibuatkan kacamata secara custom. Saat ini, sudah ada 59 data yang sudah terverifikasi. Kami juga mengkomunikasikan program ini melalui akun resmi Youtube Optik Tunggal,” tutur Alex.

Sejak didirikan pada tahun 2017, Optik Tunggal Next Generation dihadirkan dengan ambiance yang playful dan  penuh warna. Antara lain, ada area tempat bermain anak. Saat ini, Optik Tunggal Next Generation sudah mencapai empat gerai. Tiga gerai ada di daerah Jakarta—Kelapa Gading, Kota Kasablanka, dan Plaza Indonesia. Satu gerai ada di Tunjungan Plaza, Surabaya. “Di tahun ini, kami berecana buka satu gerai di daerah Selatan Jakarta. Dan, di 2020 mendatang, kami bersiap membuka gerai Optik Tunggal Next Generation di kota lain, seperti Semarang, Bandung, dan Medan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)