Mengintip Strategi Huawei Membesarkan Pasar Modem

Pengguna internet di Tanah Air, menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), sudah menyentuh angka 82 juta orang. Dengan perolehan tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-8 di dunia. Sementara itu, menurut studi Yahoo dan Mindshare, hingga tahun 2013 ada sekitar 41,3 juta pengguna smartphone dan 6 juta pengguna tablet di Indonesia. Diprediksi angka pengguna smartphone akan melonjak tajam di tahun 2017, yakni mencapai 103,7 juta pengguna smartphone dan 16,2 juta pengguna tablet di Indonesia.

huawei

Seksinya pengguna internet dan smartphone rupanya tak berbanding lurus dengan pasar modem di Indonesia. Menurut Bobby Ivan, Marketing Manager Datascrip yang menangani brand Huawei, potensial pasar modem—baik perangkat mobile WiFi maupun dongle—baru pada angka 8 juta pengguna tiap tahunnya.

“Penetrasi pasar modem di Indonesia memang masih rendah jika dibandingkan pengguna internet maupun smartphone. Tahun 2014 lalu, secara nasional penjualan modem di Indonesia baru 3-4 juta. Dan, Huwaei masih menjadi market leader-nya dengan penguasaan pasar 60%,” ungkap Bobby.

Kendati demikian, pasar modem di Indonesia diprediksi akan makin menjanjikan ke depannya. Terutama, seiring dengan hadirnya layanan 4G-LTE yang kini tengah giat-giatnya digalakkan oleh seluruh operator di Indonesia—seperti XL, Indosat, maupun Telkomsel.

Huawei pun mencium “sedap-nya” pasar modem dari salah satu pemain yang sukses menjadi perangkat pertama yang menawarkan layanan 4G-LTE pada Desember 2013 lalu, BOLT. Sejatinya, 4G-LTE adalah layanan yang memang sudah dinanti-nanti oleh netizen Indonesia yang membutuhkan solusi berupa akses internet yang cepat sekaligus coverage stabil. Tak mengherankan, hanya dalam tempo satu tahun, agresivitas BOLT sudah membuahkan hasil, yakni dengan meraih angka 1 juta pelanggan 4G—di mana Huawei menjadi salah satu mitra yang menyediakan perangkatnya.

Huawei pun tak mau melewatkan “manisnya” pasar modem. Huawei yang selama ini lebih dikenal dengan market B2B (Business to Business), kini memutuskan mengincar pasar ritel atau B2C (Business to Consumer). Keseriusan Huawei menggarap pasar B2C ditandai dengan langkah Huawei yang menggandeng Data Scrip sebagai partner distribusi sekaligus pemasarannya di Indonesia pada Agustus 2014.

Salah satu strategi yang dilakukan Huwaei dalam menggenjot pasar ritelnya adalah dengan aktif membesarkan pasar modem, baik perangkat mobile WiFi maupun Dongle. Itu artinya, Huawei dituntut untuk mampu bersaing dengan sang incumbent, BOLT.

Strategi pertama yang dilancarkan Huawei adalah dengan menghadirkan produk-produk modem yang mampu menjadi solusi bagi netizen Indonesia, termasuk menjab eskpektasi mereka. Itu sebabnya, setelah meluncurkan Mobile Wi-Fi Huawei E5336, Wireless Dongle Huawei E8231, 3G Dongle Huawei E3531, dan Ultra Slim Dongle Huawei E3533 pada Agustus 2014 lalu, Huawei kembali melempar produk modem anyarnya.

Tepat pada pertengahan Februari 2015 (18/1), Huawei melempar modem 4G-LTE dan 3G terbaru, yakni 4G-LTE Mobile WiFi Huawei E5373, 4G-LTE Dongle Huawei E3372, 3G Ultra Slim Mobile WiFi Huawei E5338, 3G Mobile WiFi Huawei E5730, dan 3G WiFi Router Huawei B68L.

Diungkapkan Nick Lee, Director of Indonesia Huawei Consumer BG, “Kehadiran 4G-LTE di Indonesia harus didukung dengan perangkat yang dapat mengakses teknologi jaringan terbaru ini. Dengan lebih dari 20 tahun ekahlian yang kaya dalam teknologi informasi serta 16 pusat R&D di berbagai negara, Huawei menghadirkan aneka perangkat yang dapat mendukung jaringan tersebut. Langkah ini juga menjadi cara kami dalam menjawab ekspektasi pengguna internet di Indonesia.”

Bobby menambahkan, ada sejumlah tantangan yang perlu dilalui oleh Huawei dalam membesarkan market modem di Indonesia. Antara lain, tantangan untuk mengedukasi market Indonesia yang belum paham betul akan benefit yang ditawarkan dari perangkat modem internet. Tantangan lainnya adalah stigma negatif yang sudah telanjur tertanam di benak konsumen Indonesia akan produk-produk asal China.

Sejumlah strategi pun dilancarkan Huawei. Pertama, untuk memperkenalkan produk ke market, Huawei bergerilya melakukan branding di sejumlah pusat atau gerai TI (Teknologi Informasi). Kedua, Huawei juga menciptakan brand experience lewat flagship store-nya di daerah Roxi Mas, Karawaci, dan Cempaka Mas. “Di sana, pengunjung dapat langsung mencoba dan merasakan langsung produk-produk modem Huawei,” tutur Bobby, yang menyebutkan bahwa flagship store Huawei juga menjadi salah satu upaya edukasi market.

Langkah ketiga adalah co-branding dengan sejumlah partner operator, seperti Indosat, 3 (Three), dan Satelindo. “Bersama para mitra operator, kami juga melakukan kampanye edukasi bersama untuk membesarkan market modem di Indonesia,” terang Bobby, yang menyebutkan ke depan Huawei terbuka untuk melakukan kerja sama dengan operator lainnya.

Masih belum cukup, Huawei juga melakukan marketing campaign lewat media online maupun social media guna menciptakan Word of Mouth. “Porsi untuk marketing campaign Huawei di media online dan social media cukup besar, mengingat target market kami adalah para pengguna internet dan smartphone di Indonesia, yang notabene aktif di media digital dan mobile,” tutup Bobby, yang menargetkan penjualan modem 4G Huawei—baik mobile WiFi dan dongle—di tahun 2015 ini bisa mencapai 500-800 ribu unit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)