7 Millennial Disruption

Sementara itu disrupsi akibat munculnya generasi baru konsumen dari kalangan millennial itu ditunjukkan oleh perubahan preferensi dan perilaku konsumsi. Menurut Siwo, ada tujuh disrupsi millennial yang terjadi, yaitu:

#1 Millennial are Killing Golf. Tren dunia menunjukkan 10 tahun terakhir viewership aneka ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya pada 2015. Tahun lalu bahkan turun drastis 75%. Porsi kalangan millennial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%. Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan millennial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak popular pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan punah. “Millennial will kill golf, eventually,” tutur Siwo.

#2 Millennial Are Killing Car Ownership. Millennial tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi digital. Platform sosial memungkinkan mereka dapat terkoneksi dan berinteraksi satu sama lain. Layanan berbasis digital seperti ride sharing membuat kepemilikan kendaraan menjadi kian tidak relevan. Selain simple, millennial tidak perlu pusing-pusing memikirkan biaya pajak, perawatan, parkir di kantor, atau membangun garasi di rumah.

Tentunya shifting perilaku konsumen dari Owning ke Sharing , dalam jangka panjang dapat berdampak pada penjualan otomotif. “Is it the end of car ownership?” Yuswohady mempertanyakan nasib kendaraan pribadi di masa depan.

#3 Millennial & Entertainment: From Mall to Home. Millennial adalah Convenience-Seeker sekaligus Simplicity-Seeker. Mereka menonton film tak hanya di gedung bioskop. Mereka makan tak harus di resto di mal. Hadirnya Netflix membuat millennial lebih simpel nonton film box office di rumah ketimbang di gedung bioskop. Hadirnya layanan food delivery berbasis Apps seperti Go-Food membuat millenial lebih nyaman memesan makanan dari rumah sambil nonton di film Netflix. Millennial kini menciptakan “ekosistem hiburan” sendiri di rumahnya tanpa harus pergi ke mal, resto, atau gedung bioskop.

#4 Millennial are Killing Workplace. Millennial menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa, sepanjang kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini, mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% millennial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama. Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya, workcation (kerja sambil liburan).

#5 Millennial Love Fintech. Mengapa Go-Pay begitu sukses menarik minat millennial, sementara layanan yang sama oleh bank tradisional tidak? Menurut Yuswohady, kuncinya adalah kemudahan dan kesimpelan, dengan hanya dalam genggaman tangan, di handphone. Artinya, hidup millennial adalah di handphone, bukan di kartu atau di kantor cabang. Ada dua hal yang akan “dibunuh” millennial. Pertama adalah kartu kredit, kartu debit, dan kartu-kartu yang lain. Kedua adalah kantor cabang bank.

Bagi generasi Baby Boomers dan Gen-X, ketika di dompet mereka ada sepuluh kartu kredit dari berbagai bank, mereka begitu bangga dan merasa prestige. Namun, tidak demikian dengan millennial. “Mereka menginginkan simplicity ketimbang prestige, dimana semua transaksi bisa dilakukan di handphone dengan mudah, murah, dan nggak ribet,” lanjutnya.

#6 Millennial Embrace Minimalist Lifestyle. Merujuk riset Goldman Sachs Asset Management, banyak millennial lebih mengutamakan faktor Akses dibandingkan dengan kepemilikan. Setidaknya, tren tersebut dipicu oleh tiga hal, yaitu price sensitivity, sharing asset, dan value experience. Ketiga faktor itu menyebabkan millennial cenderung memiliki gaya hidup minimalis dan sangat hyper value oriented.

Mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk mendapatkan pengalaman dibandingkan barang. Mereka lebih memilih berbagi dibandingkan memiliki. Dan, mereka mengutamakan mobilitas. Dalam hal memilih tempat tinggal misalnya, millennial enggan memiliki rumah yang luas karena tidak mau ribet mengisi banyak perabotan. Bagi mereka memiliki banyak barang berarti memiliki banyak masalah,” tukasnya.

#7 Millennial are Killing Traditional Travel Agent. Hidup di era digital yang serba praktis dan simple membuat millennial menuntut layanan end-to-end solution. Bagi millennial, “simplicity is the king.” Bagi millennial seluruh solusi harus selalu ada di dalam genggaman, termasuk dalam hal liburan.

Melalui smartphone di tangan, mereka mencari informasi (look for), memesan hotel dan pesawat (book), dan membayar (pay). Semua dilakukan secara end-to-end di smartphone mereka. Millennial paling benci keribetan, karena itu mereka meninggalkan travel agent tradisional.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)