Belajar dari Viral Iklan OOH Go-Jek dan Lazada

Laporan Nielsen Consumer & Media View pada Q3 2017 menunjukkan bahwa penetrasi orang yang melihat billboard atau media luar ruang (Out of Home) di Indonesia menempati peringkat kedua, yakni mencapai 52% dari total penduduk. Sementara posisi pertama, masih ditempati oleh mereka yang menonton TV, di mana penetrasinya mencapai 96% dari total penduduk.

Selanjutnya, diikuti oleh penetrasi orang yang menggunakan internet yang mencapai 43%, mendengarkan radio 37%, membaca media cetak 8%, menonton TV berbayar 8%, dan menonton bioskop 5%.

Tak heran, jika pemasar menjadikan Out of Home (OOH) seperti billboard sebagai kanal komunikasi alternatif untuk mengkampanyekan brand maupun produk mereka. Alasan lainnya, tentu saja karena kondisi kemacetan di daerah urban yang membuat orang lebih banyak menghabiskan waktu mereka di jalan.

Sebagai kanal komunikasi alternatif, tentu saja pengelola merek dituntut untuk kreatif dalam mengemas pesan di layar billboard. Maklum saja, hanya dalam kurun waktu beberapa detik, iklan billboard harus mampu menarik minat mereka yang melintas. Dan, kemacetan akan menjadi hal yang menguntungkan bagi pengiklan di billboard, karena peluang dilihat menjadi jauh lebih besar.

Contoh brand yang sukses menghadirkan konten iklan yang kreatif di billboard adalah Go-Jek dan Lazada. Belakangan ini, kedua iklan tersebut telah menjadi viral di dunia maya. Go-Jek misalnya, telah lebih dulu hadir dengan kreatif iklan berupa tulisan penuh yang berisi curhatan betapa Go-Jek mampu menjadi solusi dari permasalahan keseharian setiap orang. Inti pesannya adalah solusi berupa “Go-Jekin Aja”.

Dengan konten tulisan yang kecil dan rapat, memang tingkat keterbacaan iklan billboard Go-Jek sangatlah kecil. Sepertinya, objektif Go-Jek terhadap iklan billboard tersebut memang tidak mengajak mereka yang melintas untuk membacanya di lokasi. Melainkan, memicu orang untuk meng-capture atau mem-foto dengan smartphone, untuk kemudian di-share dan di-viral-kan di media sosial maupun Whats App Group (WAG). Terbukti, foto-foto iklan Go-Jek di billboard pun menjadi viral sekaligus menjadi perbincangan pro-kontra di antara para netizen.

Hal serupa terjadi juga dengan Lazada. Menyusul iklan Go-Jek, iklan situs belanja online tersebut juga mencoba menarik minat lewat iklan billboar yang dibuat terbalik. Menurut Direktur Marketing Lazada Indonesia Achmad Alkatiri, iklan tersebut memang sengaja dipasang terbali demi menyambut program terbaru yang dilakukan Lazada di akhir tahun, yakni “Diskon Mengguncang Semesta". Diskon yang ditawarkan diklaim sangat heboh, sampai-sampai bisa membuat orang terguncang dan terbalik.

Alhasil, iklan billboard Lazada yang terbalik pun menjadi viral. Banyak netizen mengambil foto sekaligus membaginya ke media sosial dan WAG. Tentu saja, disertai dengan percakapan apakah billboard yang dipasar terbalik tersebut sebuah kesengajaan atau kesalahan pasang.

Sarah Hanney, dalam tulisannya yang dirilis di www.business2community.com menyebutkan bahwa ada empat cara yang dapat dilakukan pemasar dalam menciptakan kreatif iklan media luar ruang yang efektif.

#1 Gunakan Data Seperti halnya kampanye pemasaran, perencanaan merupakan unsur penting untuk menciptakan iklan media luar ruang yang sukses. Untuk itu, tentukan audiens Anda dan tetapkan tujuan atau objektif dari iklan di media luar ruang. Tetap juga pesan apa yang ingin dikomunikasikan di sana? Lalu, di titik billboard mana iklan tersebut akan dipasang? Pikirkan juga, untuk berapa lama iklan tersebut dipasang?

Ia juga menganjurkan bahwa pemasar juga dapat menggunakan data online untuk menentukan tempat terbaik untuk menempatkan iklan media luar ruang dengan menggunakan alamat IP dan pelacakan seluler. Tujuannya, untuk mengidentifikasi lokasi mana yang rasio klik melihat-dan tayangnya tercatat sebagai yang terbesar.

#2 Pesanlah Lokasi Media Luar Ruang Secara Strategis Setelah Anda menggunakan data Anda untuk menentukan siapa yang Anda targetkan, kapan iklan ditayangkan, dan di lokasi billboard mana iklan itu akan dipasang, maka langkah berikutnya adalah memesan situs OOH yang ingin Anda iklankan.

Di masa lalu, iklan OOH menggunakan investasi cadangan untuk kampanye periklanan nasional. Tapi akhir-akhir ini, Anda tidak memerlukan anggaran pemasaran yang sangat besar untuk menjalankan kampanye iklan media luar ruang. Alat pemesanan OOH online membuat pemasar lebih mudah untuk memilih situs OOH sesuai dengan kebutuhan unik Anda. Dan, layar OOH digital memungkinkan Anda dapat memilih untuk menampilkan iklan hanya pada waktu tertentu pada hari Anda kemungkinan besar akan menjangkau konsumen Anda

#3 Komunikasikan Pesan Harus Efektif

Rentang perhatian rata-rata seseorang yang melewati iklan OOH ada di antara 2-3 detik. Dalam 2-3 detik tersebut, iklan harus mampu membuat seseorang melihat merek Anda, mengerti pesan merek yang ditayangkan di sana, dan apa yang perlu mereka lakukan untuk meresponsnya.

#4 Mengintegrasikan Iklan OOH dengan Media Sosial

Efek iklan billboard akan menjadi sepuluh kali lipat lebih efektif jika digunakan bersamaan dengan media sosial. Caranya, bisa sesederhana memilih hashtag yang unik dan mengesankan untuk ditampilkan di iklan Anda, seperti kampanye #SaveTogether OOH National Geographic.

Awal tahun ini, Cancer Research UK menghubungkan media sosial ke layar digital OOH di London Underground untuk meningkatkan kesadaran akan acara penggalangan dana mereka. Mereka menggunakan Twitter, Facebook, dan Instagram guna mendorong pengikut untuk memposting gambar mereka sendiri menggunakan tag #RaceLace.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)