Facebook Garap Online Video Ads, Bagaimana Tanggapan YouTube?

Baru-baru ini Facebook mengumumkan akan semakin serius di segmen online video ads, yakni dengan menerapkan sistem bagi hasil pendapatan iklan dengan para pembuat video. Tujuannya jelas, untuk menggenjot jumlah konten bermutu sekaligus meningkatkan jumlah iklan online. Jika strategi ini berhasil, banyak yang memperkirakan bahwa Facebook akan menjadi ancaman serius bagi portalĀ  YouTube.

facebook_vs_youtube__1436165869_93274

Pasar online video ads akan semakin crowded dengan kehadiran Facebook

Namun diluar perkiraan, YouTube justru tidak memandang Facebook sebagai ancaman bagi mereka di dalam segmen online video ads. Portal video online milik Google Inc ini yakin bahwa kondisi pasar saat ini masih lebih dari cukup untuk mendorong pertumbuhan kedua penyedia layanan video tersebut.

Menurut Robert Kyncl, Head of Content and Business Operation di YouTube sebagaimana dikutip MIX dari artikel milik Seb Joseph, diperkirakan masih ada waktu sekitar satu dekade lagi sebelum YouTube dan Facebook saling berbenturan. Para pengiklan dan pemilik media memperkirakan bahwa suatu saat nanti online video ads mampu mengambil alih pasar iklan di media tradisional seperti TV atau pun display. Namun, mereka juga sepakat bahwa migrasi ini akan berjalan lambat karena adanya tantangan-tantangan untuk menentukan matriks tingkat engagement audiens.

"Sebelumnya hanya ada TV," tutur Kyncl. Namun, hanya dalam waktu dua tahun saja kondisi pasar berubah menjadi crowded. YouTube tidaklah hanya berkompetisi dengan Facebook, tapi juga dengan media sosial lain yang menawarkan fitur serupa seperti Snapchat dan Vine milik Twitter. Sejauh ini, YouTube masih jauh mengungguli pesaing-pesaingnya tersebut. Menurut Kyncel, pendapatan iklan untuk YouTube telah meningkat sebesar 50 persen setiap tahunnya sejak tiga tahun belakangan ini.

Satu hal lagi yang membuat YouTube tidak khawatir akan kehadiran Facebook, yakni karena saat ini keduanya menawarkan fitur yang cukup berbeda. Kedua situs itu pun memancing behavior konsumen yang berbeda pula. Para pengguna YouTube biasanya mengunjungi situs tersebut secara aktif untuk mengakses konten, sedangkan Facebook menampilkan video iklan di antara posts sehingga menawarkan jenis experience yang relatif pasif. Dengan demikian, para marketers dapat menggunakan keduanya secara pararel untuk memaksimalkan kampanye brand mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)