Marketers Harus Cermati Perubahan di Twitter

Twitter adalah galeri pribadi yang bisa diatur. Tidak seperti Facebook yang sering membuat penggunanya bingung bahkan kesal. Twitter menggunakan rumusan algoritma agar user bisa menentukan apa yang ingin mereka lihat di timeline mereka. Tetapi semua itu akan berubah.
Twitter

Twitter

  CEO Twitter Dick Costolo tidak menampik bahwa social media berlogo burung tersebut mengalami perubahan di timeline. Pada akhir pekan lalu, perubahan timeline ditemukan pada aplikasi Twitter di mobile. Beberapa user mungkin menyadarinya. Biasanya di timeline mereka hanya ada tweet dan retweet dari akun yang mereka follow serta ads. Kini di timeline mereka, tweet yang difavoritkan followers mereka pun akan muncul. Dengan adanya perubahan ini, Twitter pun memberi edukasi kepada user dalam post yang berjudul “What is a timeline?”. Ada fitur lain yang akan muncul di timeline Anda seperti akun yang harus di-follow atau konten lain yang populer atau yang temanya berhubungan dengan tweet yang sering Anda post. Artinya Anda suatu waktu akan melihat tweet dari akun yang tidak Anda follow. Tweet ini akan muncul berdasarkan pilihan kami, dengan berbagai kriteria tentunya seperti popularitas tweet ataupun masih berhubungan dari followers atau following Anda. Sebenarnya tujuan kami adalah menjadikan timeline Anda lebih relevan dan menarik,” demikian tertera dalam post yang bertajuk 'What is a TImeline?' yang dilansir MIX Marcomm. Menarik perhatian user pasif Menurut salah seorang narasumber, perubahan hanya ditemukan di aplikasi mobile. Tweet yang muncul di timeline berhubungan dengan tema yang sering di-tweet atau dilihat oleh user. Twitter juga tidak menampik bahwa perubahan nantinya juga termasuk kemungkinan adanya konten dari brand yang beriklan di Timeline. Aplikasi Twitter di mobile menjadi fokus perusahaan karena ruang lingkupnya lebih kecil. Twitter versi desktop ada fitur Discover. Intinya, pihak Twitter ingin memindahkan isi di fitur Discover ke timeline user, sehingga terlihat lebih menarik. Saat ini perubahan tersebut tidak memberi dampak kepada Advertisers di Twitter. Tujuan adanya perubahan tampilan di aplikasi Twitter Mobile memang tidak ada kaitan dengan Advertiser, hanya untuk meningkatkan engagement, khususnya dengan konten dari pengguna lain. Twitter mengakui bahwa ini adalah program yang menantang. Twitter biasanya jarang mengumumkan adanya perubahan dan tidak juga memberi tahu kepada para advertiser-nya. Sean Muzzy, CEO digital agency Neo@Agency menemukan sendiri perubahannya. Menurutnya, perubahan ini banyak mendapat reaksi negatif. Perubahan sebenarnya ditujuakan untuk pengguna pasif yang jarang menggunakan Twitter, agar mereka tertarik dan menjadi sering berinteraksi di Twitter ataupun follow akun lebih banyak lagi. Keuntungan dari advertiser Twitter memang meningkat, tahun lalu saja meningkat dari 129%, atau tepatnya USD277juta. Namun engagement user tidak ada perubahan positif. Jumlah user aktif bulan juni lalu 271 juta, tidak ada perkembangan seperti yang diharapkan. Sedangkan pertumbuhan di timeline view, Twitter's metric menunjukkan bahwa timeline yang di-refresh oleh pengguna aktif justru menurun. Facebook playbook Saat Twitter membuat perubahan di Timeline, Facebook justru menggunakan strategi Twitter yang lama, yakni menggunakan algoritma yang berdampak pada tampilannya. Sebenarnya Twitter tidak ingin dibandingkan dengan Facebook, karena user Facebook yang aktif tercatat lima kali lebih banyak. Lee Maicon, Senior VP-strategy di 360i mengungkapkan bahwa kompetitor yang cocok untuk Twitter adalah Amazon. Perusahaan e-commerce tersebut mempopulerkan mesin rekomendasi, fitur yang menampilkan konten berdasarkan behaviour user. Menurutnya, Twitter sejatinya mengaplikasikan hal yang sama. Ada kesempatan bagi marketers untuk ikut terlibat dalam percakapan mereka. Perubahan tersebut juga membantu dalam kampanye media, seperti promosi dengan menggunakan selebriti atau popular user Twitter lainnya. “Mereka seperti melakukan apa yang host pesta lakukan, yakni memperkenalkan orang satu sama lain,” ungkap Maicon. “Mereka harus melakukan hal yang berbeda seperti platform yang user dapat gunakan,” tegasnya. Namun masih saja ada yang membandingkan Twitter dengan Facebook. Tampilan baru profil di Twitter memang terlihat serupa dengan Facebook, tentu saja Facebook lah yang meniru tampilan timeline Twitter. Dengan perubahan yang baru terjadi di minggu ini, Menurut Robert Peck analis dari SunTrust Robinson Humphrey, Twitter ingin meningkatkan platform dengan tujuan agar keuntungan dari iklan bertambah. “Twitter punya panduan tersendiri yang mirip Facebook. Agar sukses mereka harus ikuti panduan tersebut”, tambahnya. Diungkapkan Peck, masih ada kemungkinan bagi Twitter untuk mengembangkan advertising-nya. Tercatat advertising di Facebook sebanyak 5% atau satu advertising di setiap 20 posting. Sementara penetrasi advertising di Twitter kurang dari setengah angka tersebut. Ini kabar gembira untuk para advertiser yang ingin mencoba ranah baru di Twitter. Namun beberapa marketers justru mengkhawatirkan jika Twitter meniru strategi Facebook. Misalnya mengikuti strategi membatasi organic reach, yakni jumlah orang yang melihat konten, yang berkaitan dengan page Anda melalui newsfeed atau ticker orang tersebut. Bila Twitter benar-benar mengikuti strategi Facebook, artinya setiap post kemungkinan tidak tersebar ke setiap followers jika marketer tidak membeli ads. Bila Twitter dapat menambahkan konten di timeline, berarti Twitter juga bisa tidak menampilkan posting tertentu. “Sebenarnya ini belum terjadi. Kami hanya memprediksi dan tidak akan kaget bila Twitter menerapkan strategi ini,” ungkap Muzzy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)