10 Trend Bakal Terjadi di Social Media, Marketers Harus Perbarui Strategi?

Dalam satu dekade terakhir, tak sedikit marketers yang telah melakukan upaya trial-and-error untuk mengembangkan social media sebagai salah satu saluran komunikasi brand. Di tahun 2015 ini, tak sedikit merek yang berhasil menemukan cara-cara terbaik dalam memanfaatkan social media untuk kepentingan bisnis mereka. Dan, hanya merek-merek yang tak mampu beradaptasi dengan trend-lah yang membuat kerja keras mereka di dunia digital menjadi sia-sia.

Social Media

Oleh karena itu, disarankan Peter Kim, Chief Digital Officer Cheil Worldwide, seperti yang dikutip dari The Guardian, marketers harus mampu memperbarui strategi mereka di social media. Mengapa? Diyakini Peter, karena selama sepuluh tahun ke depan, tren social media akan berubah. Inilah sepuluh tren yang bakal terjadi di social media.

1. Evolving Cara konsumen menggunakan situs dan cara merek berpartisipasi dan terlibat telah berubah secara fundamental selama 10 tahun terakhir. Merek harus menghentikan taktik yang telah berhasil dilakukan pada tahun 2005, kemudian mengadopsi custumer relationship dan strategi engagement yang memanfaatkan data untuk pertumbuhan jangka panjang.

2. Shoppable Sudah saatnya bagi merek untuk memonetisasi media sosial mereka. Merek fashion, seperti Burberry dan Ralph Lauren, memahami hal itu dan telah membuat video runway mereka shoppable. Sekarang, setiap merek sudah seharusnya memonetisasi setiap konten media sosial mereka.

3. Snackable Konsumen akan semakin sulit untuk mencerna setiap konten social media yang terhitung panjang. Saat browsing, pengguna ingin langsung masuk ke jantung pesan secepat mungkin. Semakin snackable sebuah merek dalam membuat konten, maka konten harus bersifat lebih sosial. Itu artinya, konten mudah dipahami serta mudah bagi pengguna melakukan sharing. Konten seperti itu akan memperoleh hasil yang lebih baik.

4. Automated Saat ini, placement iklan dan publishing di media sosial dilakukan dengan proses manual. Hal itu akan terus berkembang dan lebih memanfaatkan data dan komputer. Sebagian besar pengiklan sudah mulai menggeser media buying mereka ke iklan display dan video. Media sosial pun akan mengikutinya. Mengapa? Karena, semua konsumen membenci iklan, yang dinilai sebagai gangguan dan tidak relevan. Penempatan iklan dalam sebuah program atau built in branding—dengan menyisipkan iklan dan konten ke situs media sosial—dapat membuat iklan lebih relevan dan efesien dalam menyampaikan pesan merek.

5. Connective

Ke depannya, social media memiliki kemampuan untuk mengembangkan aplikasi yang transformatif, yang tidak hanya mampu menghubungkan individu ke individu, tetapi juga berpotensi lebih besar yagn dapat menghubungkan antar masyarakat.

6. Filtered Teknologi yang semakin kuat dan terjangkau memungkinkan orang untuk membuat lebih banyak konten daripada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, 90% dari data di dunia telah dibuat selama dua tahun terakhir. Karena informasi yang berlebihan itulah, orang akan menyaring pesan untuk hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar, menciptakan saluran media tersegmentasi dan terlindung.

7. Integrated Iklan TV, billboard, website, dan akun media sosial harus dikemas secara terpadu dan terintergrasi dengan menggunakan platform yang mampu membangun hubungan jangka panjang.

8. Cina Cina saat ini menyumbang persentase terbesar untuk pertumbuhan PDB global. Namun, banyak situs media sosial Cina tetap fokus pada pasar lokal. Selama 10 tahun ke depan, situs tersebut akan beralih fokus ke luar dan memasuki pasar luar negeri.

9. Subcutaneous Konsep yang dihadirkan di social media haruslah addressability—kemampuan perangkat untuk menerima pesan atau sinyal—yang merek buuthkan. Evolusi alami dari consumer device merupakan teknologi yang utama.

10. Empowering Beberapa merek, seperti Dove dan Nike, telah menjumpai bahwa pendukung yang bersifat sosial dapat memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan yang bersifat individual. Merek lain akan mengikuti dan menggunakan upaya media sosial untuk mencari long tail, mengidentifikasi peluang, agar selaras dengan nilai-nilai merek.

Merek harus mengubah pola pikir mereka agar berhasil menciptakan engagement di masa depan. Marketers harus merangkul para “pecandu” digital dan belajar untuk mencintai teknologi. Untuk memanfaatkan tren, mereka harus mampu melihat jauh ke depan, khususnya di sebelah Timur di mana Asia akan memimpin. Marketers juga harus menyadari bahwa teknik mereka saat ini sudah ketinggalan jaman. Untuk itu, mereka harus menciptakan strategi baru untuk social media mereka, agar sukses pada dekade berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)