Infobesitas dan Panic Buying

Suka atau tidak suka informasi tentang Covid-19 yang diterima masyarakat saat ini kini telah melebihi ambang batas penerimaan seseorang terhadap informasi. Penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat, LSPR, April 2020 lalu menunjukkan trend peningkatan yang tinggi perbincangan masayarakat tentang Covid-19.

Selama 2 Maret – 14 Maret, terdapat 821 Perbincangan di media sosial. Angka itu meningkat tajam selama 2 Maret - 7 April 2020 yang mencapai 23.229 perbincangan. Sebagian besar perbincangan Covid-19 itu terjadi di website ((8.855 perbincangan), 1.584 di Facebook, 2.904 di Youtube dan 9.886 di Twitter.

Orang jenuh menerima informasi tentang Covid-19 dan informasi yang diterima membuat orang semakin sulit memahami masalah Covid 19 itu secara efektif. Akibatnya, orang lebih takut akan kengerian (horror), kelebihan (overload), kesimpangsiuran (confusion) informasi, dan lain-lain tentang Corona itu.

Dalam ilmu komunikasi, istilah yang tepat untuk menjelaskan gejala ini disebut infobesity. Infobesitas adalah kondisi ketika seseorang atau suatu pihak mengalami kelebihan informasi, terutama ketika ini membuatnya lebih sulit atau tidak mungkin untuk membuat keputusan yang rasional.

Infobesitas ditambah dengan gangguan psikologis akibat tinggal terlalu lama di rumah (cabin effect), menurut saya, dapat membuat orang makin mudah gelisah, lebih sensitif, ketakutan, dan kekhawatiran.  Ketika awal-awal isu pandemi beredar, orang mendengar temulawak misalnya, spontan terjadilah perlombaan membeli temulawak.

Efek lainnya adalah terjadinya panic buying. Dalam kesempatan berbicara di Webinar yang berttema ”Strategi Pemasaran dan Perilaku Konsumen Era Pandemi” dan diselenggarakan Asian Association of Consumer Interest and Marketing (AACIM), Rabu pekan lalu,  Prof. Dr. Tatik Suryani, Psi., M.M. dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya, menyatakan ada enam  faktor yang dipandang berpengaruh penting, yaitu: (1) dorongan untuk survive, (2)  persediaan barang yang jauh dari jumlah permintaan, (3)  kontrol diri yang rendah, (4)  kecemasan antisipatif, dan (5) ketularan, dan (6) rumor dan informasi yang tidak benar.

Yang menarik adalah panic buying dapat memacu terjadinya  pembelian impulsif pada konsumen lainnya.  Konsumen yang sebelumnya tidak punya rencana untuk membeli barang terpengaruh untuk membeli, yang sebelumnya merencanakan membeli dalam jumlah sedikit terpengaruh untuk membeli dalam jumlah yang besar.

Dalam studinya Santini et al. (2019) menyatakan bahwa pembelian impulsif dapat terjadi karena pengaruh dari faktor lingkungan. Ketika lingkungan di toko atau tempat perbelanjaan menunjukkan terdapat banyak orang yang  melakukan aksi borong untuk item-item tertentu, maka konsumen lain terpengaruh untuk melakukan hal yang sama.

Dr. Prita Prasetya

Dalam Webinar yang dimoderatori Dr. Prita Prasetya dari Prasetiya Mulya dan Dr. Sri Hartono itu, selain Prof Tati juga ikut berbicara Dr. Zeffry Alamsya, Dr. Akhmad Edhy Aruman dari Institut Bisnis dan Komunikasi LSPR Jakarta, Agus Masrianto, MM; Dr. Suprehatin, dan Hera Laxmi Devi Septiani, M.Si., M.Comn.

Menurut Prof Tati, situasi sosial di toko yang menunjukkan para konsumen membeli dalam jumlah banyak hanya pada item-item tertentu akan menguatkan keyakinan konsumen, bahwa dia harus melakukan hal yang sama supaya tidak mengalami masalah.

Meskipun konsumen sebelumnya tidak punya rencana belanja item tertentu, namun  situasi tersebut akan menekannya untuk bertindak serupa. Efek seperti ini menular ke konsumen lainnya apalagi jika konsumen tidak mempunyai informasi yang cukup, dan  ditambah lagi oleh ketidakjelasan informasi  mengenai ketersediaan barang.

Panic buying, menurut Tatik, perlu disikapi secara positif dengan berusaha untuk mengurangi kemungkinan terjadinya PBB dan mencari solusinya. Disini peran pemerintah, pengusaha dan konsumen sangat diharapkan dan solusi yang terintegrasi dari ketiganya sangat dibutuhkan.

Pemerintah dalam hal ini berperan strategis melalui kebijakan yang ditetapkan agar baik pengusaha dan konsumen memiliki komitmen untuk membantu mengatasi panic buying. Pemerintah juga berperan penting dalam menegakkan kebijakan yang ditetapkan, mendorong ketersediaan barang  yang dibutuhkan oleh konsumen dan melakukan komunikasi serta edukasi  kepada semua pihak.

Pengusaha retail juga dapat proaktif untuk mengantisipasi terjadinya panic buying, menciptakan suasana toko yang mendorong pembelanja menjadi pembelanja bijak serta mencari solusi dengan tetap mengedepankan layanan yang bermutu kepada konsumen. Konsumen juga dapat jika ada kesadaran dan komitmen diri untuk berempati dalam situasi pandemik global seperti ini.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)