Ini Strategi Adira Finance Hadapi Tantangan di Masa Pandemi

Sebelum masa pandemi Covid-19, pasar memperkirakan bahwa ekonomi global akan bertumbuh di tahun 2020. Namun, merebaknya virus Covid-19 di awal tahun 2020 telah menimbulkan krisis ekonomi global. Hampir semua negara telah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas dan social distancing guna mencegah penyebaran Covid19. Keterbatasan mobilitas tersebut kemudian menyebabkan terganggunya kegiatan perekonomian sehingga mendorong ekonomi ke dalam resesi. Akibatnya, hal ini menimbulkan pengangguran dan menekan daya beli konsumen.

Pandemi Covid-19 berakibat pada ekonomi global maupun Indonesia. Pada kuartal pertama (Q1) 2020 misalnya, perekonomian Indonesia masih membukukan pertumbuhan positif, yakni sebesar 2,97% (year-on-year). Selanjutnya, pasca penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Q2 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar -5,32%. Ini merupakan yang terendah sejak krisis keuangan di tahun 1998.

Konstraksi tentu saja terjadi di hampir semua industri, termasuk otomotif maupun jasa keuangan. Penjualan mobil baru domestik ritel tercatat menurun sebesar 44%  (year-on-year) di tahun 2020, sedangkan penurunan penjualan sepeda motor baru domestik ritel mengalami penurunan sebesar 38% di tahun 2020.

Secara keseluruhan, penurunan tersebut disebabkan oleh lemahnya daya beli konsumen, penurunan investasi, gangguan kegiatan usaha, dan adanya pengetatan dalam akuisisi pembiayaan baru dalam menghadapi risiko kredit yang meningkat.

Guna menghadapi kondisi tersebut, diungkapkan Direktur Utama Adira Finance Hafid Hadeli, Adira Finance melancarkan sejumlah strategi dalam  merespon tantangan di tahun 2020. Di antaranya, memastikan kegiatan operasional berjalan dengan baik dengan penerapan BCP (Bisnis Continuity Plan), memberikan restrukturisasi kredit bagi nasabah yang terkena pandemi Covid-19, mengelola kualitas aset guna menjaga NPL dalam batasan internal, lebih selektif dalam mendistribusikan pembiayaan baru, menjaga likuiditas untuk memenuhi kewajiban keuangan perusahaan dan kebutuhan bisnis melalui kegiatan pendanaan, serta mengintensifkan pembayaran angsuran nasabah.

Selain itu, Adira Finance juga telah berpartisipasi dalam program restrukturisasi kredit pemerintah bagi konsumen yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19. Hingga akhir Desember 2020 misalnya, jumlah nasabah yang pinjamannya telah direstrukturisasi telah mencapai 827 ribu kontrak atau sekitar Rp 18,9 triliun. Itu artinya, mewakili sekitar 35% dari piutang yang dikelola per Februari 2020. Seiring waktu, sekitar 80% dari pinjamanan nasabah yang telah direstrukturisasi telah mulai membayar kewajiban cicilannya.

Lebih jauh ia menjelaskan, Adira Finance juga terus berinvestasi untuk masa depan. “Kami juga beradaptasi dengan perubahan pasar dengan melanjutkan investasi dalam digitalisasi dan mempercepat digitalisasi selama pandemi sedang berlangsung,” kata Hafid.

Oleh karena itu, Adira Finance juga telah meluncurkan AdiraKu, sebuah aplikasi mobile bagi nasabah dan calon nasabah untuk melakukan berbagai layanan lengkap seperti ‘digital branch’, yang dapat digunakan antara lain untuk melihat pembayaran angsuran nasabah, pengajuan kredit, mengecek status dan perkembangan pinjaman, juga berhubungan dengan agen layanan pelanggan. “Hingga Desember 2020, jumlah konsumen yang telah mengunduh aplikasi ini sekitar 889 ribu konsumen dan jumlah konsumen yang terdaftar sekitar 399 ribu konsumen,” katanya.

Strategi lainnya dalam menghadapi tantangan di masa pandemi, Adira Finance juga  terus berinvestasi dalam organisasi yang fokus pada  customer centric. Dia mencontohkan, Adira Finance telah meluncurkan AdiraPoints yang merupakan sistem poin reward dan program loyalitas bagi pelanggan setia Adira Finance.

Di tengah penurunan tajam penjualan otomotif, diakuinya, Adira Finance mampu membukukan pembiayaan baru di tahun 2020 sebesar Rp 18,6 triliun atau turun 51% (year-on-year) dari pencapaian tahun sebelumnya.

“Pembiayaan baru pada segmen mobil dan sepeda motor masing-masing menurun sebesar 46% dan 52% (year-on-year). Dengan demikian, pangsa pasar kami pada segmen mobil dan sepeda motor juga ikut turun masing-masing menjadi 4,1% dan 9,5% di tahun 2020. Kami juga lebih berhati-hati dalam melakukan akuisisi pembiayaan baru pada tahun lalu untuk menghadapi peningkatan risiko kredit,” ucap Hafid.

Sementara itu, untuk menghadapi tantangan baru di tahun 2021, lanjut Hafid, Adira Finance telah mempersiapkan strategi dan inisiatif untuk mengembangkan bisnis. Di antaranya, memperkuat dan meningkatkan pangsa pasar di bisnis otomotif dengan memberikan berbagai program penjualan yang menarik bagi nasabah, memperluas usaha pada bisnis non-otomotif (produk multiguna, dan fee based income dan lain-lainnya), mempercepat investasi dalam digitalisasi dan inisiatif yang berpusat pada customer centric, serta terus menyederhanakan proses bisnis Adira Finance menjadi lebih sederhana, cepat, dan efisien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)