Metamorfosis Image Angelina Jolie

Angelina Jolie yang sekarang dikenal karena aktivitas kemanusiaannya sebenarnya tetaplah sama dengan Angelina Jolie yang dulu populer karena tato di tubuhnya dan sensualitasnya.

Beberapa waktu lalu, Jolie mengagetkan dunia. Di rubrik Opinion milik harian New York Times, Jolie mengatakan alasannya menjalani operasi mastektomi ganda, yakni sebagai tindakan preventif karena hasil tes lab menunjukkan dirinya kemungkinan besar akan menderita penyakit kanker payudara dan ovarium.

angelina jolie - humanitarian Sejak tahun 2001, Angelina Jolie aktif melakukan aksi kemanusiaan.

Itulah sepenggal kisah Angelina Jolie saat ini, yang dulu reputasinya terkenal sebagai aktris bergaya Gothic tapi ramah, yang dulu dicap sebagai perusak rumah tangga oleh fans Jennifer Aniston. Kemudian image-nya berubah lagi menjadi seorang ibu yang mencintai enam anaknya, lalu berubah lagi menjadi selebriti yang memiliki kemampuan politik sehingga mendapat kehormatan berbicara di Council on Foreign Relations. Dan kini reputasinya berubah lagi sebagai perwakilan kaum wanita yang berbicara masalah kesehatan.

Artikel yang dibuatnya di rubrik Opinion tersebut di satu sisi bersifat serius dan sisi lain terbuka, penuh dengan detail pribadi misal tentang hubungannya dengan sang ibu serta hubungan dengan buah hati. Lalu dia juga mengungkapkan kepada publik tentang kondisi kesehatannya hingga menyebut mahalnya biaya kesehatan. Tujuannya semata adalah untuk menginspirasi wanita tentang sebuah pilihan dalam masalah kesehatan, seperti yang dikatakannya:

“Aku memilih untuk tidak menyembunyikan masalah ini karena di luar sana banyak wanita yang tidak tahu bahwa diri mereka mungkin saja berada di bawah bayang-bayang kanker. Harapanku adalah mereka akan melakukan tes genetik. Jika mereka memiliki posibilitas tinggi terkena kanker, mereka punya pilihan sepertiku, yaitu apakah hanya menyembunyikannya atau berbicara kepada khalayak dengan tujuan menginspirasi.”

Kalimatnya tersebut jelas menggambarkan bahwa ia melakukan pendekatan kepada publik. Tapi hasilnya, sejauh ini berhasil mendapat respons positif di blog dan social media, bahkan dari orang-orang yang biasanya sinis terhadap dirinya.

Sejak tahun 2001, Jolie sudah mendapat citra positif sebagai aktivis kemanusiaan. Berdasarkan survey dari Marketing Evaluations, 'Q score' nya (dalam hal ini berhubungan dengan ukuran seberapa banyak disukai oleh publik) berada diatas rata-rata sejak ia menjadi aktivis kemanusiaan. Normalnya Q score berkisar 16 dengan adanya awareness 30% dari publik berusia lebih dari 6 tahun. Sedangkan Q Score Jolie pernah menyentuh angka 29 dan saat ini berada di angka 20 dengan 81% awareness.

Menurut Executive VP Marketing Evaluations Henry Schafer, Jolie kemungkinan akan menjaga Q score nya tersebut dengan tidak melakukan hal-hal gegabah yang dapat merusak reputasinya seperti mengemudi dalam keadaan mabuk. Ia juga menduga bahwa kemungkinan hal-hal yang dilakukan Jolie bukan sekedar untuk menjaga, tetapi juga menaikkan citranya, seperti yang baru-baru ini dilakukannya yaitu mengumumkan tentang masalah kesehatannya tersebut.

“Menurutku setelah pengumuman yang dilakukannya itu, akan ada persepsi positif mengenai dirinya, dan tentunya awareness namanya akan meningkat karena mengangkat permasalahan kanker payudara,” ujarnya. Lanjut Schafer, karakter Jolie yang terbuka juga merupakan komponen penting dalam meraih respek sebagai seorang selebriti.

Sebenarnya perbuatan menolong orang dan menolong diri sendiri berbeda tipis. Tapi melihat sejarah reputasi Jolie, kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya menuai pertanyaan, apakah ia benar-benar ingin menolong dunia atau menaikkan reputasinya. Di tahun 2008, New York Times membuat analisis bahwa Jolie memang mengontrol bagaimana dirinya digambarkan di media. Misalnya, dulu ia pernah memberikan tawaran: akan memberikan foto Maddox kepada media jika media mau mempublikasikan aktivitas kemanusiaan ibunya.

Sementara itu, Robin Bronk, CEO Creative Coalition, agensi yang membantu orang industri entertainment untuk terlibat di kegiatan kemanusiaan, yakin bahwa satu-satunya alasan selebriti menjadi aktivis kemanusiaan adalah karena ingin menolong. Namun ini bisa jadi memunculkan beragam reaksi dari beberapa fansnya, kemungkinan mereka akan jengkel karena menganggap sebagai ajang menciptakan image positif. “Banyak orang berpendapat bahwa selebriti melakukan hal-hal yang baik semata-mata untuk publisitas. Padahal sebenarnya mereka tulus,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)