Strategi Beko Menggarap Pasar Home Appliances di Indonesia

Data yang dirilis Asosiasi Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia (GABEL) menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, industri consumer electronic mengalami penurunan hingga 10%. Namun, tidak semua sektor consumer electronic yang mengalami penurunan. Jika sektor audio-video mengalami penurunan, maka di sektor home appliances justru masih mengalami pertumbuhan. Lantaran, penetrasi sejumlah kategori produk seperti AC dan kulkas masih belum tinggi.

Tak heran, jika merek home appliances asal Turki, memutuskan masuk ke pasar Indonesia. Hadir di Indonesia pada akhir 2018, merek home appliances nomor satu di Eropa itu tentu saja tak mudah melenggang masuk. Beko harus mampu menghadapi para incumbent yang selama ini telah merajai pasar home appliances di Tanah Air. Antara lain, merek-merek asal Jepang dan Korea, seperti LG, Sharp, Samsung, dan sebagainya.

Diungkapkan Ali Cagri Gonculer, Country Manager PT Beko Appliances Indonesia,”Indonesia merupakan negara yang pertumbuhan ekonominya cukup bagus. Pertumbuhan GDP-nya mampu mencapai 5-6% per tahun. Dengan pertumbuhan ini, kami yakin juga berdampak pada pertumbuhan pasar home appliances. Dan, masuk ke pasar Indonesia memang merupakan rencana kami sudah sejak lama, karena Beko memang ingin menggarap pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.”

Sejumlah strategi pun dilancarkan Beko untuk mengarap pasar Indonesia. Pertama, Beko menghadirkan rangkaian produk small appliances yang mengusung konsep healthy living dengan harga yang kompetitif. Antara lain, melalui produk kulkas, mesin cuci, AC, hingga small home appliances.

Saat ini, Beko sudah hadir dengan salah satu produknya, kulkas, yang menawarkan teknologi NeoFrost, yakni pendingin ganda dengan memisahkan antara sistem pendingin dan pembeku. Produk kulkas Beko jenis dua pintu berkapasitas 200 liter misalnya, dibandrol dengan harga yang cukup kompetitif, yakni pada kisaran Rp 3 juta.

Diakui Ali, sampai saat ini, produk-produk big home appliances Beko yang ada di Indonesia, diimpor langsung dari Thailand dan Turki. Sementara itu, untuk produk small home appliances, produk Beko diimpor langsung dari China. “Semua produksi Beko memiliki Quality Control dan berstandard Eropa,” ia menegaskan.

Kedua, melakukan penetrasi melalui berbagai kanal distribusi. Sebagai langkah awal penetrasi, ditambahkan Sales Director PT Beko Appliances Indonesia Arief Setiawan, dalam enam bulan pertama, Beko akan fokus pada pasar Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi).

Penetrasi dilakukan melalui kanal tradisional, modern, dan online. Di kanal tradisional, Beko sudah hadir di lebih dari 100 toko tradisional. Sementara di kanal modern, Beko sudah hadir di Electronic City, Carrefour, Hypermart, Informa, Mitra 10, dan sebagainya. “Di online, kami sudah hadir di sejumlah marketplace, antara lain di Tokopedia melalui official store,” ujarnya.

Dituturkan Arief, demi meyakinkan para pemilik toko atau gerai untuk mau menerima produk Beko, tentu saja dibutuhkan strategi. Oleh karena  itu, Beko menawarkan solusi kepada para mitranya, yakni “Bagaimana Berbisnis Sehat dengan Beko”. Ada tiga nilai lebih yang ditawarkan Beko kepada pemilik toko. Pertama, mereka cukup hanya dengan men-display produk, tanpa harus memikirkan inventory atau gudang untuk menyimpan produk. Kedua, Beko juga mendukung mereka untuk menggelar consumer promo. Ketiga, insentif menarik untuk setiap target penjualan yang berhasil mereka capai.

“Para mitra juga kami mudahkan dengan platform aplikasi Toko Beko yang mengusung konsep Integrated Supply Chain. Artinya, dengan berbekal aplikasi Toko Beko, pemilik toko tak perlu dipusingkan untuk menyimpan barang dan mengantarkannya ke konsumen. Mereka cukup memesan lewat aplikasi sesuai pesanan konsumen, yang kemudian pihak Beko yang akan mengirimkannya ke rumah konsumen,” urai Arief.

Tak cukup, Beko juga akan menjalankan strategi direct selling dengan menggandeng distributor. Melalui kerja sama itu, produk Beko akan dijual door to door dalam waktu dekat ini. “Sampai akhir tahun ini, kami masih akan fokus di pasar Jabodetabek dan Pulau Jawa. Sebab, jika Jabodetabek berhasil, maka daerah lainnya akan mudah masuk. Dalam lima tahun ke depan, kami targetkan Beko sudah menjangkau seluruh pasar Indonesia,” tukas Arief, yang menyebutkan bahwa respon pasar Indonesia terhadap produk Beko sudah cukup bagus, yakni tumbuh 25% pada bulan Januari dan Februari 2019.

Ketiga, membangun brand awareness melalui pendekatan Public Relations (PR), influencer marketing, dan brand activation. Sebagai langkah awal, Beko menggelar media briefing sekaligus launching Beko di hadapan media. “Memperkenalkan sekaligus mengedukasi produk Beko kepada media merupakan langkah penting, karena media merupakan informasi yang dinilai kredibel oleh publik,” ucap Arlisa Ardhiani, Marketing Manager PT Beko Appliances Indonesia.

Selain itu, Beko juga menggunakan strategi influencer marketing dengan menggandeng sejumlah influencer yang berlatar belakang nutrisionis dan psikolog. Hal itu sejalan dengan positioning produk Beko, yang mengusung konsep healthy living. “Kami juga menggelar kampanye di akun media sosial Beko, baik di Facebook maupun Instagram,” lanjut Arlisa.

Upaya lain yang juga dilakukan Beko untuk membangun brand awareness adalah dengan melakukan pendekatan langsung ke market lewat roadshow ke berbagai pusat belanja. Antara lain, di Pondok Indah Mall, Living World, dan sebagainya. “Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kami masih akan melakukan hal itu untuk membangun brand awareness Beko, termasuk menggandeng komunitas,” tutup Arlisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)