Ini Laporan Colliers International tentang Kinerja Property di Jakarta pada Q1 2015

Industri property Tanah Air tak pernah bisa lepas dari kawasan ibukota Jakarta. Maklum saja, sebagai Central Business District (CBD), Jakarta senantiasa menjadi barometer dari pertumbuhan property di Indonesia. Pada kuartal pertama (Q1) 2015 ini, merujuk data Penelitian & Prakiraan Laporan Colliers International Indonesia, di Jakarta diproyeksikan bakal hadir ruang kantor baru sekitar 600.000 meter persegi di pasar tahun 2015 ini. Hal itu akan menjadi pasokan tahunan bersejarah tinggi. Mengingat pasokan besar, tingkat hunian di CBD harus drop pada akhir tahun yang kemungkinan besar akan memberikan tekanan ke bawah pada harga sewa.

Colliar International Rilis Kinerja property di Jakarta

Colliers International Indonesia Rilis Kinerja property di Jakarta sepanjang Q1 2015

Bagaimana dengan harga sewa di sektor perkantoran di Jakarta? Masih merujuk data tersebut, pertumbuhan tarif sewa rata-rata untuk bangunan dalam US$ mencapai 23,7% pada tahun 2013. Sayangnya, tarif sewa pekantoran turun alias -0,6% pada tahun 2014. Sayangnya, tarif sewa tersebut lebih jauh menurun -1,1% pada Q1 2015.

Di sektor apartemen, para pemain di Jakarta sikap “wait and see” akibat pemilihan umum nasional terjadi pada tahun lalu, 2014. Sementara itu, perlambatan ekonomi akibat penguatan dolar AS terhadap mata uang lokal di kawasan Asia Pasifik turut mengurangi tingkat pertumbuhan pasokan apartemen tahun lalu.

Hanya setengah dari total proyeksi pasokan apartemen pada 2014 yang berhasil terwujud, yakni sekitar 10.000 unit. Tahun 2015, diprediksi jumlah apartemen yang akan selesai terwujud mencapai 29.451 unit. Sementara itu, harga apartemen hanya akan naik sedikit 2,7% pada Q1 2015. Itu artinya, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun lalu, yakni 3,1%. Adapun tingkat penyerapan proyek apartemen pada Q1 2015 turun sebesar 3,7% menjadi 68,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014.

Jika perkantoran dan apartemen melesu, maka hunian sektor ritel di Jakarta justru telah stabil dan tumbuh 86,8% pada Q1 2015. Hal itu berkat moratorium ritel di DKI Jakarta yang membatasi penerbitan izin untuk pusat perbelanjaan baru. Bahkan, ke depan, pasar ritel mengantisipasi masuknya peritel asing baru dan peningkatan jumlah toko baru oleh pengecer untuk melakukan bisnisnya di Jakarta. Jika pusat perbelanjaan kelas atas umumnya menikmati hunian tinggi, sebaliknya pusat perbelanjaan kelas menengah bawah mengalami penurunan dalam hunian.

Bagaimana dengan sektor hotel di Jakarta? Jakarta telah mengantisipasi kamar tambahan dari pengoperasian 39 hotel baru, dengan menyediakan 6.963 kamar selama 2015 - 2018. Sayangnya, kinerja hunian hotel di Jakarta setiap tahunnya turun dari 64,3% menjadi 53,7%. Hal itu dipicu karena tingginya penggunaan ruang hotel untuk kegiatan politik selama kampanye pemilu selama bulan-bulan awal di 2014.

Di sektor industri estate tidak ada perubahan yang signifikan. Tetapi, 82,18 hektar lahan yang ditransaksikan Q1 2015 sudah setara 26% dari total penjualan tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa pasar industri estate telah mengikuti tren penjualan tahun 2013 dan 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)