Karakteristik Konsumen Afrika

african consumer Sejatinya, untuk produk konsumen, Afrika masih menjanjikan. Sebagian besar produk konsumen yang diekspor ke Afrika adalah produk yang harus bersaing dengan produsen global seperti Nestle dan Unilever. Pengalaman di Indonesia, banyak merek produk lokal yang mampu bersaing dengan merek global. Keunggulan merek lokal adalah pengetahuannya tentang karakter konsumen lokal. Sekarang baik Unilever, Nestle dan produk Indonesia harus bersaing di arena yang pengetahuannya tentang konsumen Afrika – anggap saja – sama. Dengan demikian, kemampuan bersaing masing-masing tergantung pada kecepatan belajar mengenali konsumen Afrika. “Konsumen Afrika masih kurang terlayani, namun overcharged,” kata Frank Braeken, bos Unilever di Afrika seperti dikutip the Economist. Afrika Selatan misalnya, masih membutuhkan sampo khusus untuk rambut Afrika, atau kosmetik untuk kulit hitam, memiliki sedikit pilihan, selain produk impor dari Amerika yang mahal. Unilever melihat kesempatan, mereka berinvestasi untuk produk makanan dengan harga terjangkau, sabun cuci bubuk, produk perawatan semisal sampo dan kondisioner dan sekarang sedang hit. Tahun lalu Unilever membuka the Motions Academy di Johannesburg. Setiap tahun, Unilever akan melatih hingga 5.000 penata rambut yang ingin membuka salon sendiri. Hal ini juga laboratorium untuk menguji produk dan mencoba model bisnis baru. Jika berhasil, Unilever berencana mengembangkannya ke tempat lain di Afrika. Tak mudah menggarap pasar Afrika. Tantangan menggarap pasar Afrika adalah membuat produk yang harga dijangkau konsumen. Perusahaan-perusahaan global seperti Nestlé terus berusaha menawarkan produk yang disebut Popularly Positioned Products, atau produk yang diterima pasar dan mampu mengatasi kekuarangan gizi dan harganya terjangkau. Misalnya, Nespray, sebuah susu bubuk instan, yang mengandung nutrisis penting untuk anak seperti kalsium, zinc dan besi. Inovasi produk memang diperlukan. Merancang produk yang menarik bagi penduduk setempat hanya sebagian dari tantangan. Di Afrika Selatan sekalipun, yang memiliki infrastruktur terbaik, konsumen sulit dijangkau. Untuk itu, Nestlé mendeliveri langsung ke toko-toko spaza (informal convenience stores) yang merupakan 30% dari pasar ritel nasional, bahka di Nigeria jenis rite seperti itu, jumlahnya mencapai 50% dari pasar ritel. Sebagian besar berada di daerah-daerah terpencil dan pemiliknya sering tidak mampu menyediakan van pengiriman. Nestlé telah mendirikan 18 pusat distribusi yang memberikan ke spaze. Padahal untuk mendirikan pusat distribusi tersebut, biayanya sama seperti membangun outlet besar. Dengan populasi sekitar 1 miliar orang yang tersebar di lebih dari 30 juta km2 dan lebih dari 50 negara, Afrika menjadi pasar yang beragam dan terfragmentasi. Meskipun ada perbaikan dalam hal tata kelola, Afrika masih menghadapi tingginya tingkat birokrasi dan korupsi di banyak daerah. Kawasan ini juga memiliki defisit infrastruktur yang sangat besar. Tingkat kepadatan jalan dan rel kereta api sangat rendah sehingga menyulitkan pemindahan barang dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Meskipun perbaikan, penilaian Bank Dunia tentang kemudahan berbisnis masih peringkat negara yang paling buruk di Afrika. Hal ini dapat diterjemahkan ke dalam biaya yang lebih tinggi untuk melakukan bisnis dan keengganan perusahaan untuk melakukan bisnis di Afrika dibandingkan bagian lain dari dunia. Pemadaman listrik merupakan hal yang biasa dan menambah beban bisnis serta distribusi di wilayah tersebut. Untungnya, sebagian besar pemerintah Afrika menyadari itu dan memulai program ekspansi infrastruktur. Kurangnya keterampilan dan pengalaman juga ada di pertengahan manajer atau tingkat senior manager di banyak negara Afrika, yang membuat berkembang dan kemudian melaksanakan Afrika strategi yang lebih menantang bagi perusahaan FMCG. Dengan lebih banyak perusahaan memasuki pasar persaingan untuk bakat sedang memanas dan menarik bakat telah menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan FMCG. Mengingat tantangan di atas, perusahaan harus beradaptasi dengan kondisi perdagangan di Afrika. Hal ini mensyaratkan perusahaan investasi di infrastruktur mereka sendiri seperti membangun sendiri pabrik pengolahan air mereka (Heineken) dan bahkan paving jalan. Untuk mengintegrasikan dengan lingkungan ritel yang unik, perusahaan FMCG telah membangun hubungan yang kuat dengan pedagang informal dengan memiliki staf penjualan lokal di tanah untuk mengidentifikasi outlet baru dan untuk membantu pedagang ini membangun bisnis mereka. Dengan demikian, mereka memperluas cakupan mereka dengan minimal pengeluaran modal. Solusi ini telah ditambah dengan insentif yang kuat untuk ini pedagang informal untuk meningkatkan penjualan dan visibilitas merek. Coca-Cola telah menarik banyak perhatian dengan menggunakan Micro Pusat Distribusi (MDC) model di mana depot milik lokal yang didirikan di daerah padat penduduk. MDCs ini kemudian didukung oleh kantor pusat Coca-Cola lokal dengan keahlian teknis dan pembiayaan operasional. Pada gilirannya, ini depot milik lokal kemudian lebih lanjut mendistribusikan ke daerah pedesaan menggunakan truk kecil dan kadang-kadang sepeda atau gerobak dorong. Cara lain untuk mengatasi masalah ini adalah dengan inovasi produk. Promasidor mengganti lemak hewan dalam susu bubuk dengan lemak nabati untuk mengurangi ketergantungan pada transportasi berpendingin sehingga lebih mudah untuk mendistribusikan. Tantangan distribusi juga merupakan faktor di sisi input sering ada ketidakpastian sekitar pasokan dan variabilitas dalam kualitas bahan baku. Perusahaan harus fokus pada membangun hubungan pemasok yang kuat atau bahkan oleh integrasi vertikal dalam rangka membangun rantai pasokan yang lebih kuat. Afrika terdiri dari pasar yang unik yang membutuhkan pendekatan inovatif untuk distribusi untuk mengatasi tantangan dan menjangkau konsumen. Insentif yang kuat pertumbuhan tinggi untuk perusahaan FMCG dalam pasar ini terus mendorong perusahaan-perusahaan untuk menemukan cara yang unik untuk mendekati benua. Untuk menarik konsumen Afrika, menawarkan produk yang mempertimbngkan perbedaan regional atau budaya sangat penting. Sebagai contoh, perusahaan bir seperti SAB Miller atau Diageo telah mengembangkan brews daerah berdasarkan selera regional. Sehingga jangan heran bila di Afrika Anda akan menjupai brews berbahan dasar jagung, sorgum, dan singkong tergantung pada konsumen di setiap pasar. Untuk memenangkan persaingan merek produk konsumen di Afrika mirip di tempat lain. Kehadiran merek di toko ritel sangat penting di pasar massal. Di Afrika ini berarti merek harus ada di pasar terbuka, kios dan toko lingkungan kecil. Merek yang memiliki kehadiran tinggi di jalan dan di dalam toko yang berbagi kedekatan dengan konsumen, dianggap sebagai pemimpin atau merek bagus oleh konsumen Afrika. Menarik segmen anak muda juga penting, dengan demikian besar dan berkembang penduduk muda, merek dan produk yang menargetkan pasar remaja memiliki kesempatan yang lebih baik sukses jangka panjang. Pemuda ini semakin perkotaan, merek fokus dan mengejutkan terhubung dengan ledakan internet di ponsel, penggunaan tertinggi menjadi situs jejaring sosial. Konsumen Afrika memiliki tingkat tinggi ketidakpercayaan tentang merek baru dan produk jadi percobaan adalah suatu pertimbangan penting. Memastikan strategi dan eksekusi rencana pemasaran fokus pada percobaan untuk merek-merek baru atau produk adalah penting. Perusahaan juga harus memahami selera lokal. Untuk Kamerun misalnya, seperti yang dikatakan Bruno Olierhoek, managing director Nestle untuk Afrika Tengah, untuk memasarkan produk Maggi di Kamerun, Nestle membuat produk dengan rasa yang berbeda dengan yang ditawarkan kepada konsumen di negara tetangganya, Nigeria. "Masakan dan cara memasak masyarakat Kamerun tidak sama dengan Nigeria," jelasnya. "Solusi kami adalah menyesuaikannya dengan selera lokal. Jadi kita menggunakan merek yang sama di Kamerun dan Nigeria, tetapi dengan rasa dan komposisi yang berbeda." Charles Elame, direktur penjualan Diageo untuk Kamerun, mengatakan bahwa saat memutuskan membeli atau tidak, sensitivitas harga diantara konsumen sering mengalahkan preferensi mereka terhadap merek. Untuk alasan ini, industri minuman beralkohol biasanya melakukannya dengan promosi penjualan. Elame juga menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk memahami bagaimana jaringan distribusi bekerja di negara itu. Dengan sebagian besar masyarakatnya belanja di tempat-tempat informal (menurut Nielsen sekitar 98%), maka penting pada perusahaan untuk memastikan bahwa produk mereka ada di pasar informal. Nilai dan keterjangkauan adalah kunci. Ini tidak berarti harga produk harus murah. Keterjangkauan berarti konsumen harus benar-benar mampu membelinya tanpa harus mengorbankan kualitas. Di Afrika, keterjangkauan itu diterjemahkan ke dalam strategi yang berfokus pada ukuran kecil dan kemasan yang dirancang untuk penggunaan tunggal atau sachet. Ini berlaku untuk banyak produk mulai dari sampo, susu bubuk hingga vodka. Group Wings yang dikelola Keluarga Katuari mempunyai pengalaman panjang bersentuhan dengan konsumen Afrika-nya. Produk-produk andalan toiletries-nya yang dipasarkan di beberapa negara Afrika menuai kesuksesan. Beberapa produk yang dipasarkan dalam bentuk lebih “ekonomis” di sana mendapat sambutan hangat. Bahkan beberapa produk yang sudah tidak begitu laku dijual di Indonesia, masih laku keras disana. Misalnya sabun cuci batangan biru masih diminati. Patrick Mandengue, head of Central Africa for Unilever, menyarankan kepada perusahaan yang akan memperkenalkan produk baru ke pasar Afrika harus dimulai dengan ukuran paket yang lebih kecil yang dapat dijual dengan harga murah. Strategi ini banyak dilakukan oleh perusahaan FMCG untuk pasar dengan konsumen yang sensitive terhadap harga. Dengan penduduk yang kecil seperti di Kamerun, karena skala ekonomi strategi ini kurang menguntungkan. Yang menarik, kemasan kecil atau sekali pakai tersebut juga sesuai dengan bidaya onsumen Afrika. Di kebanyak negara Afrika, sebagian besar konsumen perkotaannya memiliki sifat “on the go” konsumsi. Jika diperhatikan, sebagian besar konsumen berbelanja di pedagang kaki lima atau convenience outlet. Ini membarikan petunjuk bahwa kenyamanan dan produk tunggal bukan hanya menghasilkan keterjangkauan, tetapi sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen untuk on-the-go konsumsi tadi. Mandengue mencatat bahwa kemasan kecil sekali pakai bisa menjadi strategi yang sangat penting, terutama saat memperkenalkan produk baru. Strategi tersebut sangat bermanfaat karena sttrategi itu memungkinkan konsumen untuk menguji produk mereka. Ukurannya yang kecil dan harganya yang murah membuat mereka sedikit menanggung risiko. Dengan demikian, produk baru dapat bersaing dengan lebih dipercaya dan dapat memantabkan merek tersebut di pasar. Dari perspektif kualitas, konsumen Afrika sering berani membayar lebih untuk merek atau produk yang menawarkan kualitas lebih tinggi tanpa kompromi dan dianggap sebagai merek dunia. Sering kali Anda akan mendengar konsumen mengatakan “sesuatu yang murah adalah yang mahal". Pada dasarnya, Afrika bisa disebut sebagaipasar yang sedang tumbuh. Ini mengindikasikan dinamika yang tinggi sehingga perusahaan harus terus memonitor perkembangan yang berlangsung. Setiap perubahan harus damati dan ditangkap perusahaan sebagai peluang. Bila lolos bisa jadi peluang itu berubah menjadi ancaman. Boubakar Diarra, direktur operasi di pabrik produk kecantikan Biopharma, mengatakan penelitian dan pengembangan merupakan salah satu faktor penting bagi keberhasilan jangka panjang. Ini karena melalui penelitian misalnya perusahaan dapat menangkap kebutuhan dan kesempatan untuk menjadi inovatif. Penelitian juga diperlukan untuk mengidentifikasi titik harga yang tepat untuk produk konsumen. Sementara sebagian besar konsumen adalah harga-sensitif dan mendasarkan keputusan pembelian mereka pada apa yang mereka mampu, ada juga gerakan menuju kesadaran kesehatan. Diarra mencatat tren ini mungkin lebih diucapkan di Kamerun daripada di negara-negara lain, dan menyarankan perusahaan untuk menghabiskan waktu untuk meneliti titik harga yang tepat yang membahas kebutuhan konsumen untuk kualitas dan keterjangkauan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)