Nielsen: Kuartal Kedua 2015, Belanja Iklan Meningkat

Hari ini (19/8), Nielsen mengumumkan hasil riset tentang belanja iklan pada kuartal kedua 2015. Survey yang melibatkan media TV dan print ini menunjukkan bahwa belanja iklan pada kuartal kedua 2015 menunjukkan pergerakkan positif, yaitu meningkat 6% setelah sebelumnya mengalami penurunan sebesar 1% pada kuartal pertama 2015.

nielsen__1439973831_99859

Hasil riset terbaru Nielsen tentang ad spend di kuartal 2 2015

“Pada Q2 2015, pemain pasar sudah mulai adjusting dan sudah mulai punya strategi untuk mengatasi challenge yang ada di Indonesia seperti lemahnya rupiah dan naiknya harga BBM. Sehingga rasa percaya diri juga sudah mulai naik,” ujar Hellen Katherina, Direktur Media, Nielsen Indonesia.

Kendati mengalami kenaikan, menurut catatan Nielsen, pertumbuhan belanja iklan tahun ini merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir. Di kuartal yang sama tahun lalu, pertumbuhan iklan adalah 12%, sementara di tahun 2013 pertumbuhan 25% dan pada 2012 sebesar 22%.

“Biasanya pertumbuhan di periode yang sama di tahun sebelumnya selalu double digit. Sebenarnya kalau kita lihat, memang sebenarnya secara perekonomian, mulai tahun 2014, sebenarnya growth belanja iklan sudah mulai softening. Sementara di Indonesia, tahun lalu masih kuat karena growth belanja iklan ini disumbangkan dari iklan parpol, pilkada, dan capres,” tambahnya.

Sementara itu, TV berkontribusi paling besar dalam pertumbuhan belanja iklan 9%. Sedangkan periklanan di media cetak mengalami penurunan sebesar 8%.

Di iklan TV, rokok kretek merupakan pengiklan terbesar dengan total nilai belanja iklan lebih dari Rp 2.2 milyar. “Biasanya rokok hanya masuk dalam top 5 highest spender. Menurut kami hal tersebut terjadi karena adanya peraturan dari pemerintah lokal tentang larangan beriklan lewat banner atau billboard bagi pelaku industri rokok kretek sehingga mereka mengalokasikan dana tersebut untuk beriklan di TV,” papar Hellen.

Sedangkan pengiklan terbesar kedua adalah industri hair care dengan total nilai belanja sebesar Rp 2.056 milyar. Kemudian diikuti oleh industri coffee & tea dengan belanja iklan sebesar Rp 1.8 milyar.

Secara pertumbuhan nilai belanja iklannya, industri rokok kretek mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, lebih dari Rp 700 milyar. Tiga kontributor terbesar di industri ini yaitu Djarum Super Mild, Dji Sam Soe 234, dan Sampoerna Mild. Industri susu mengalami pertumbuhan belanja iklan tertinggi kedua, dengan nilail ebih dari 363 milyar. Tiga highest spender di industri ini yaitu SGM Eksplor 1 Plus , Dancow 1+ Madu , dan Lactogen 3 . Pertumbuhan belanja iklan tertinggi ketiga berasal dari industri layanan online dengan pertumbuhan nilai belanja iklan sebesar lebih dari Rp 250 milyar. Tiga highest spender di industri ini adalah Traveloka.com, Tokopedia.com, dan Blibli.com.

“Seperti yang kita ketahui, perkembangan e-commerce cukup pesat di Indonesia. E-commerce memiliki peluang yang sangat besar untuk semakin berkembang ke depannya, dan tentu saja peluang ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku bisnis e-commerce sehingga mereka tidak ragu berinvestasi untuk beriklan di televisi,” paparnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)