PERTUMBUHAN PASAR DAIRY INDONESIA

Tahun ini Fonterra Brands Indonesia berencana menambah tiga varian susu baru di kategori produk dairy.  Ketiga varian tersebut adalah Anlene Move Max, yaitu produk susu untuk nutrisi sendi dan otot yang rencananya akan diluncurkan dalam waktu dekat; Anmum Nuelipid, susu ibu hamil; dan Boneeto varian baru (namanya belum diperkenalkan).

          “Konsumen saat ini sangat mengenal Anlene sebagai susu nutrisi tulang untuk mencegah osteoporosis. Dan kami akan mengembangkan Anlene dengan meluncurkan varian baru Anlene Move Max, susu nutrisi sendi dan otot untuk konsumen yang memiliki aktivitas tinggi,” kata Tria Septariana, Head of Consumer Insight & Marketing Research Fonterra Brands Indonesia, di Jakarta pada akhir Januari lalu.

          Varian kedua yang akan diluncurkan adalah Anmum Nuelipid, menyasar ke ibu-ibu hamil yang akan diluncurkan pertengahan tahun ini. Sementara varian ketiga yang akan diluncurkan sekitar November 2017 adalah varian baru Boneeto.

          Langkah yang diambil Fonterra tersebut didasarkan pada hasil kajian yang melihat potensi pasar yang besar terhadap produk kesehatan seperti susu dan turunannya.  Indonesia dengan populasi penduduk sekitar 255 juta jiwa memiliki pelanggan baru (new consumer) sebanyak 90 juta jiwa pada 2030 mendatang.

          New consumer ini akan meningkatkan spending belanja terhadap produk makanan. Karena, menurut Tia, spending consumer  Indonesia yang tahun lalu nilainya sebesar Rp 1.307 triliun, separuhnya dibelanjakan pada produk makanan.

          Dan kabar baiknya, sekarang masyarakat selektif dalam memilih produk makanan. Mereka cenderung memilih produk makanan-minuman yang sehat. Pertumbuhan spending belanja rata-rata per tahun terhadap produk makanan sehat di Indonesia adalah 13% yang ekuivalen dengan Rp 44 triliun pada 2019. “Fonterra melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat prospek untuk memasarkan susu dan olahannya sebagai produk yang menyehatkan,” lanjutnya.

          Dalam riset Fonterra juga terungkap bahwa tingkat konsumsi susu di Indonesia rata-rata hanya 12 liter/kapita/tahun. Tertinggal jauh dibandingkan dengan Singapura yang mencapai 61 liter/kapita/tahun, atau Malaysia yang tingkat konsumsi susu sebesar 48 liter/kapita/tahun. Pemerintah mencanangkan meningkatkan konsumsi susu sebesar 5% per tahun sebagai progam peningkatan gizi masyarakat.

          Lebih jauh, pertumbuhan market dairy sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat urban di Indonesia. Bahkan pola hidup sehat kini telah menjadi gaya hidup  (life styles). Sesuai data Fonterra, 97,8% keluarga yang tinggal di perkotaan (urban) menyatakan membeli susu sebagai produk sehari-hari dalam rentang belanja selama setahun. Sebesar 91,3% berupa susu yang dikombinasikan dengan buah (sweet condensed milk), 74,8% susu cair (liquid milk), 68,2% susu bubuk (powder milk), 41,9% yoghurt drink , dan 21,1% keju.

Konsumsi  sweet condensed milk di Tanah Air pada 2016  meningkat 9,9% dibandingkan pada 2015 dan sekitar  4% merupakan pembeli baru (new buyer). Pada liquid milk, juga meningkat sebesar 12,1% dengan 4% pembeli baru. Sedangkan pada powder milk, peningkatan konsumsi sebanyak 9,8% dengan 3% pembeli baru.

Peningkatan konsumsi terbesar terjadi pada produk yoghurt drink yang mencapai 32% dengan 9% pembeli baru. Sementara pada keju (cheese), kendati tingkat konsumsinya hanya tumbuh sebear 8,1%, namun produk keju mampu menggaet 9% pembeli baru.

          Fonterra melihat potensi besar market  yoghurt dan keju di Indonesia sehingga pihaknya berencana memasarkan kedua produk tersebut di pasar ritel Indonesia dalam bentuk keju oles, slice, maupun makanan ringan (snack). "Sedangkan yoghurt dipertimbangkan dari beberapa inovasi, seperti jenis minuman, thick, ataupun yang mayoritas prebiotik," papar Tria Septariana,

          Selain menjual susu kemasan, Fonterra juga memasok susu bahan baku untuk industri makanan dan minuman di Tanah Air. Tahun lalu, perusahaan ini menyuplai 88 ribu metrik ton susu, termasuk 24 ribu ton susu bubuk, 23 ribu ton susu bubuk skim dan 13.000 ton keju.

          Pasokan tersebut di-delivery kepada 6 ribu industri makanan dan minuman, termasuk hotel, industri dapur dan restoran cepat saji menggunakan produk turunan seperti mentega, keju dan krim dengan  brand Anchor Food Professionals. (W Setiawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)