PROSPEK EKONOMI INDONESIA 2017

Barangkali tidak berlebihan prediksi McKinsey tentang perekonomian Indonesia yang diperkirakan akan masuk 10 besar dunia pada 2020 kelak, dan berada di posisi ketujuh pada 2030. Ini antara lain tercermin dari kondisi perekonomian saat ini yang kuat ditopang oleh konsumsi penduduk yang tergambar dalam dinamika industri ritel Indonesia.

Meskipun dalam tiga tahun terakhir (2014-2016) kinerja sektor ritel Indonesia cenderung terus menurun—terlihat dari penjualan produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG), kategori produk andalan industri ritel, yang terus menurun—dibandingkan di negara lain di kawasan Asia Pasifik, pertumbuhan penjualan produk FMCG di Indonesia paling tinggi (nominal growth 11,3%). Padahal, menurut Yongky Susilo, staf ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Executive Director Nielsen, Indonesia masih punya peluang menggarap ritel di luar Pulau Jawa yang saat ini kontribusinya baru mencapai 30%-40%.

Apalagi, lanjutnya, secara global, Consumer Confidence Index atau Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia tertinggi ketiga di Asia Pasifik, setelah India dan Filipina. Temuan Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions yang dirilis oleh lembaga riset Nielsen Indonesia baru-baru ini menunjukkan bahwa IKK Indonesia terus naik sehingga pada 2016 menembus 122 (triwulan III), meningkat tiga poin dibandingkan dengan kuartal kedua 2016 sebesar 119. Indeks yang menunjukkan optimisme konsumen Indonesia.

Menurut Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin, peningkatan IKK tersebut dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, keyakinan konsumen terhadap kondisi keuangan pribadi dalam 12 bulan ke depan dengan skor 84, meningkat tiga poin dari kuartal II 2016. Kedua, faktor keinginan berbelanja konsumen yang mencapai nilai 60%, meningkat enam poin dari 54% di kuartal II 2016.

"Meski begitu, indikator keyakinan konsumen akan prospek lapangan pekerjaan menunjukkan sedikit penurunan dengan skor 68%, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 70%," ujarnya saat memaparkan hasil riset yang digelar di kantor Nielsen Jakarta pada awal November 2016 lalu,

Posisi IKK Indonesia dipengaruhi pula oleh menurunnya persepsi masyarakat terhadap isu keadaan resesi ekonomi dalam negeri. Pada kuartal III 2016, konsumen online yang berpendapat bahwa Indonesia sedang tidak dalam keadaan resesi ekonomi sebesar 53%. Angka ini terus meningkat sejak kuartal III 2015 dari 27%, kemudian naik menjadi 31% pada kuartal IV. Kenaikan serupa terjadi pada 2016, yakni 42% pada kuartal I 2016 dan 49% pada kuartal II 2016.

Kendati demikian, pencapaian IKK Indonesia relatif lebih baik jika dibandingkan dengan negara penghasil minyak di wilayah Timur Tengah yang menunjukkan tren penurunan seperti di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Meski kedua negara itu masih di atas standar optimisme dengan IKK 104, namun masing-masing turun 4 poin persentase dan 2 poin persentase dari kuartal sebelumnya.

Sementara itu, pada 10 negara teroptimis di dunia, terdapat enam negara dari wilayah Asia Pasifik. Selain Indonesia, India dan Filipina; Vietnam berada di posisi kelima dengan IKK 109, kemudian Cina posisi ke-6 dengan IKK 105 dan Thailand urutan ke-8 juga dengan IKK 105.

Poin IKK tersebut juga mengindikasikan kegairahan konsumen di Tanah Air, termasuk dalam berbelanja online. Hari Belanja Online Nasional 2016 yang digelar pada Desember lalu misalnya, selama tiga hari penyelenggaraannya membukukan transaksi total sekitar Rp 3,3 triliun. Tercatat tiga kategori produk yang menjadi primadona saat belanja online, yaitu fashion dan sportwear (68%), travel (35%), dan kosmetik (29%).

Jika dirinci, produk fashion yang paling diincar adalah pakaian, tas, dompet, dan sepatu. Travel didominasi penerbangan dan hotel, sedangkan kosmetik paling banyak dibeli adalah produk make up (lipstick, bedak, blush on), pembersih muka, dan parfum. Kehadiran beragam produk yang dijual online berpengaruh pada ritel dengan menambah produk non grocery seperti pakaian, elektronik, footwear, appliance, home garden, dan leisure, di samping produk grocery. Secara keseluruhan, Nielsen mencatat total revenue retail pada 2015 mencapai Rp1377 triliun, melonjak hingga Rp3341 triliun pada 2025.

Belanja online yang sedang happening di Tanah Air akan terus berlangsung sampai beberapa tahun mendatang. Bahkan, Indonesia tergolong negara dengan pertumbuhan pasar online (e-commerce) tertinggi di dunia. Pada tahun 2020, market size online Indonesia menduduki peringkat ke-10 dengan nilai marketnya mencapai 3,2 triliun dolar AS dan merangkak naik di urutan ke-6 pada tahun 2030 dengan nilai 9 triliun dolar AS.

Gairah industri ritel ini juga terlihat dari belanja iklan (advertising expenditure/Adex) yang dialokasikan merek-merek produk consumers di mana media elektronik TV masih dominan dengan porsi sebesar 77%, diikuti koran 22% dan sisanya majalah dan tabloid. Dari 10 besar kategori produk yang beriklan di TV dan media cetak, enam di antaranya adalah brand produk consumers, yaitu antara lain produk rokok kretek dengan total belanja iklan Rp 4,9 triliun atau tumbuh 48%, dan produk perawatan rambut dengan total belanja iklan sebesar Rp4,3 triliun tumbuh 28%. (W Setiawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)