Bukalapak Meningkatkan Penetrasi dengan Menggandeng Warung

Cap Madesu (masa depan suram) yang belakangan menghantui ritel offline di Indonesia diyakini tidak akan terbukti. Lantaran, tak sedikit pelaku e-Commerce yang memilih pendekatan O2O (Online to Offline) untuk mengembangkan ekosistem ritel online, termasuk menggandeng ritel offline berskala Usaha Kecil Menengah seperti warung-warung kelontong sebagai upaya untuk mengembangkan bisnis ritel online di Tanah Air.

Bukalapak sebagai salah satu pelaku bisnis e-Commerce terbesar di Tanah Air meyakini bahwa masa depan ritel offline skala UKM justru akan berkembang dalam lima tahun mendatang. Menurut Evi Andarini, Corporate Communication Manager Bukalapak, saat ini saja Bukalapak sedang mengembangkan program “Mitra Bukalapak” untuk menggandeng warung-warung kelontong memanfaatkan fasilitas e-commerce Bukalapak.

“Program ini bertujuan mendorong para pelaku bisnis offline seperti warung-warung di berbagai pelosok Tanah Air untuk dapat menikmati pemanfaatan digital. Dengan demikian, para pemilik warung dapat terkoneksi dengan berbagai masyarakat melalui teknologi,” ujar Evi.

Program Mitra Bukalapak. lanjutnya, merupakan wujud nyata dari komitmen Bukalapak dalam memberdayakan usaha kecil secara menyeluruh serta mendorong penetrasi digital ke kalangan mereka. Melalui Mitra Bukalapak, warung dapat semakin naik kelas karena semakin terhubung dengan teknologi. Pada aplikasi Mitra Bukalapak terdapat fitur ‘Warung Terdekat’ dan Call Order Delivery (COD) yang memungkinkan pemilik warung memesan stok barang dagangan dan meminta pengirimannya dilakukan oleh distributor. Pada fitur ini juga ada layanan “Saldo Bantuan”.

“Kami berharap, program ini dapat terus berkontribusi untuk mendorong pertumbuhan digital di masyarakat, memberikan solusi bagi kebutuhan masyarakat melalui produk dan fitur Bukalapak, dan tentunya menggandeng seluruh lapisan masyarakat untuk maju ke tingkat selanjutnya. Kami juga berharap penetrasi digital dan literasi perbankan masyakarat di tahun mendatang dapat semakin merata terutama di daerah-daerah terpencil,” harapnya.

Diakui Evi, salah satu tantangan terbesar Bukalapak adalah bagaimana merangkul seluruh UKM yang ada di Indonesia untuk memanfaatkan keuntungan digital agar dapat meningkatkan penghasilan mereka. Sebab, ia yakin dan percaya bahwa UKM adalah pilar bagi ekonomi nasional. Untuk itu, para pelaku UKM pun seharusnya bisa lebih menonjol.

“Kami ingin bergotong royong bersama dengan para pelaku UKM menularkan semangat untuk maju dan tumbuh melalui platform digital. Tidak mudah memang, tapi tidak ada yang mustahil bukan? Segala tantangan mengingatkan kita bahwa kreativitas dan semangat pantang menyerah itu pasti akan membuahkan hasil,” yakinnya.

Saat ini, sumbangsih ritel online terhadap total pendapatan ritel nasional, menurut Evi, sudah semakin signifikan. Sebab internet pada era sekarang membuat segalanya semakin cepat. Dan, hadirnya e-Commerce seperti Bukalapak tidak hanya membantu memudahkan masyarakat Indonesia untuk berbelanja, tetapi juga mendorong mereka meningkatkan transaksi.

Hal itu ditandai dengan tingginya transaksi online di sejumlah kategori, salah satunya di kategori produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Menurut Evi, peningkatan produk FMCG di Bukalapak terjadi setiap bulan untuk semua kategori produk. Ia mencontohkan, pada bulan Ramadan tahun lalu, peningkatan tertinggi datang dari transaksi kategori food seperti mie instan, frozen food, gula, serta biskuit. Untuk kategori lainnya yang juga mengalami peningkatan adalah perlengkapan bayi, rumah tangga, dan perawatan kecantikan.

“Dengan melihat tren yang selalu naik setiap tahun, maka kami optimistis produk FMCG akan terus meningkat ke depannya. Hal ini diperkuat juga dengan data eksternal dari Kantar World Panel yang menunjukkan penjualan FMCG di pasar global secara online diprediksi meningkat 4%-10%. Hal itu bisa disebabkan oleh semakin terbiasanya konsumen berbelanja produk kebutuhan sehari-hari secara online dan meningkatnya kepemilikan smartphone untuk mengakses e-Commerce,” paparnya.

Tidak hanya menjadikan warung kelontong sebagai target penjualan produk FMCG, melalui program Mitra Bukalapak, start up Unicorn ini menggandeng warung kelontong menjadi mitra penjual produk FMCG. Untuk menekan biaya pengiriman yang mahal, di mana harga produk-produk FMCG cenderung murah, Bukalapak menggandeng warung kelontong yang sudah bekerja sama dengan distributor besar—yang mempunyai jaringan gudang dan logistik yang tersebar di seluruh Indonesia. Bukalapak menggunakan teknologi dan sistem Mitra Bukalapak yang bisa mendistribusikan banyak varian stok warung secara cepat, efisien dan efektif.

“Untuk pengiriman, saat ini kami juga masih bekerja sama dengan beberapa partner logistik yang ada di Indonesia. Tentunya, kami akan berinovasi dalam hal pengiriman untuk menekan biaya tersebut, namun untuk saat ini kami belum bisa share sejauh apa inovasi tersebut,” tandas Evi.

Singkatnya, dalam meningkatkan penetrasi pasar, Bukalapak terus mengembangkan berbagai produk dan fitur yang memudahkan masyarakat. Selain itu, Bukalapak juga memiliki kantor-kantor Research and Development yang akan membantu mereka untuk menciptakan berbagai inovasi dan pengembangan, di antaranya produk teknologi dan kecerdasan buatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)