Danone AQUA-Nirudaya Kembangkan Kopi Konservasi Tirto

Danone-AQUA bersama Yayasan Nirudaya mengembangkan Kopi Tirto yang dibudidayakan dengan kaidah konservasi di berbagai daerah tangkapan air (catchment area).

Budidaya Kopi Tirto melibatkan lebih dari 120 petani dampingan yang tersebar di wilayah Jempanang Badung (Bali), Wonosobo (Jawa Tengah), Pandaan (Jawa Timur) dan Tanggamus (Bandar Lampung).

Menurut Budi Rahardjo, Agriculture and Economic Development Manager Danone Indonesia, selain untuk memberikan kesejahteraan kepada petani, progam kolaborasi bersama Nirudaya ini adalah untuk menjaga kualitas dan kuantitas air serta keberlanjutan lingkungan.

“Untuk itu, dibutuhkan pemahaman dari para mitra petani melalui berbagai pembekalan untuk dapat menerapkan sistem pertanian kopi yang ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan visi Danone One Planet, One Health di mana kesehatan dan keberlanjutan lingkungan adalah hal yang saling berhubungan,” jelas Budi dalam diskusi secara virtual, Jumat (18/12) di Jakarta.

Keunikan Kopi Tirto adalah dari sisi budidayanya, yakni dilakukan dengan sistem agroforestri ramah lingkungan yang dilengkapi dengan pembuatan rorak. Sistem ini mampu membantu mengurangi air hujan langsung mengalir ke  permukaan yang lebih rendah dan mengoptimalkan peresapan air hujan ke dalam tanah sehingga turut berkontribusi terhadap konservasi air.

Danone-AQUA bekerja sama dengan berbagai mitra lainnya melakukan pendampingan kepada para petani agar dapat membudidayakan kopi sesuai dengan kaidah konservasi.

Martin Kreshna, Executive Director Yayasan Nirudaya berharap kemitraan dengan Danone-AQUA mendorong terwujudnya perdagangan kopi yang adil bagi petani dan lingkungan.

“Kami menyambut baik inisiatif Danone-AQUA dalam melakukan pendampingan budidaya Kopi Tirto di berbagai area tangkapan air. Di sisi lain, kami berupaya untuk memasarkan kopi ini agar pendapatan petani meningkat,” tuturnya.

Pihaknya mengajak partisipasi masyarakat dengan melibatkan anak muda desa untuk mau terjun ke usaha kopi. Salah satunya adalah dengan melakukan pelatihan tentang standarisasi kualitas kopi dan roasting, serta pemasaran kopi.

“Harapan dari pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai tambah kopi konservasi dan adanya regenerasi profesi petani kopi. Peserta dari pelatihan itu hampir semuanya adalah anak muda di Desa Mlandi, Wonosobo,” terang Martin.

I Ketut Kartika Yasa, petani kopi Tirto yang hadir dalam kesempatan itu mengakui manfaat yang dirasakan dengan membudidayakan kopi konservasi. Sejak mengikuti program ini tahun 2019, petani kopi di Badung (Bali) mulai merasakan manfaat dari segi peningkatan penghasilan.

“Kami juga tidak khawatir lagi dengan kekeringan karena tanaman kopi itu juga mampu menyerap atau menampung debit-debit air hujan. Karena air yang diserap nanti akan mengalir ke sungai-sungai,” tandas Yasa. ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)