Filosofi Kedai Kopi

Ketika Denis Diderot, filsuf Perancis, sedang mengedit tulisan, Voltaire sedang menghirup kopi. Filsuf Perancis, yang sering mengunjungi Le Procope- rumah kopi Paris yang terkenal - sekarang berubah menjadi restoran -- itu mengonsumsi lima puluh cangkir kopi per hari. Hegel juga memiliki kesukaan minum kopi, begitu juga dengan jutaan orang lain selama abad ke delapan belas. Bagaimana dengan Anda?

Pythagoras mungkin tidak pernah menikmati kopi; Socrates juga tidak pernah menyeruput macchiato.   Aristoteles mungkin selalu memikirkan hal-hal luar biasa, tetapi matanya tak merah karena kurang tidur.  Tapi Anne Conway, filosof Inggris abad 17an, mungkin sudah akrab dengan kopi, tapi mungkin bukan bukan pengopi berat. Kenapa? Selama masa hidupnya kopi masih diresepkan oleh apoteker apoteker Inggris sebagai obat sakit kepala.

Barangkali karena itu gagasan Novartis mengeluarkan obat migraine Excedrin.  Ini sekaligus sebagai petanda bahwa disiplin filsafat memang mendahului kopi lebih dari satu milenium, namun kopi, mungkin lebih dari substansi lain, yang telah diidentifikasi dengan pemikiran filosofis Barat sejak diperkenalkan ke Eropa melalui Venesia pada abad ketujuh belas.

Hal ini diyakini karena beberapa bukti menunjukkan bahwa orang-orang di tanah Mediterania kuno begitu faham tentang kopi. Namun seribu tahun yang lalu, para pemikir Persia yang luar biasa, dokter, dan ilmuwan Abu Ali al-Hussain Ibnu Abdallah Ibn Sina, yang lahir pada 980 SM di dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan) dan dikenal di Barat hanya sebagai Ibnu Sina - atau dalam bahasa Latin bernama Avicenna - menulis tentang kopi dan kualitasnya yang luar biasa.

Zaman pencerahan benar-benar bersinar karena kehadiran kopi, dan filsuf Perancis Denis Diderot memasukkan gambar-gambar pabrik kopi dalam proyek Encyclopédie. Ini adalah upayanya untuk meletakkan kopi di atas kertas semua pengetahuan yang diketahui generasi saat itu di Eropa. Ini juga termasuk artikel oleh pria hidup terkenal, termasuk tokoh Amerika yang eksotis Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson.

Hasilnya, L’Encyclopédie, ou Dictionnaire Raisonné des Sciences, des Arts et des Métiers, yang diterbitkan di Paris antara 1762 dan 1777, adalah kemenangan intelektual pada zaman itu. Ketika Diderot sedang mengedit, Voltaire sedang menghirup kopi.

Filsuf Perancis, yang sering mengunjungi Le Procope, rumah kopi Paris yang terkenal -- sekarang berubah menjadi restoran --  itu mengonsumsi lima puluh cangkir kopi per hari. Hegel juga memiliki kesukaan untuk minum kopi, tetapi begitu juga jutaan orang lain selama abad kedelapan belas.

Pada tahun 1832, seorang jenderal Angkatan Darat AS Roger Jones menerbitkan sebuah perintah yang bertujuan mengekang penyalahgunaan alkohol di jajaran. Sejak itu, ransum wiski dihilangkan, diganti dengan kopi dan teh, kecuali dalam keadaan khusus. Undang-Undang Kongres pada 1862 menghentikan keadaan khusus, dan kopi menang. Puluhan ribu tentara Union diperkenalkan pada kebiasaan minum kopi selama dinas militer sesudah Perang Sipil.

Selama prang saudara, suatu ketika pemikir politik Abraham Lincoln berkomentar kepada seorang pelayan di Rumah Presiden, “Jika ini adalah kopi, tolong bawakan saya teh; tetapi jika ini teh, tolong bawakan saya kopi.” Filosof Amerika paling terkemuka pada masa itu adalah penyair Walt Whitman Rostow yang memperkenalkan teori tahap-tahap pertumbuhan ekonomi tidak mengenal referensi kopi. Namun, sekarang ada Starbucks di Walt Whitman Mall, di Huntington Station, New York.

Anda dapat pergi ke sana, membeli Tall. Itu adalah ukuran kopi dua belas ons yang Anda dapatkan jika Anda memesan "kecil" di Starbucks, meskipun ada ukuran yang disebut short, atau delapan ons dan tidak terdaftar di papan menu rantai itu.

Di Amerika Serikat, periode setelah perang saudara adalah salah satu pencerahan di kota-kota Utara, dan filsuf sosial seperti Jane Adams dari Hull House di Chicago membuka kedai kopi sehingga orang-orang kelas pekerja dapat datang ke kedai dan membeli makanan tanpa godaan alkohol.

Kemenangan revolusi industri kedua memungkinkan kopi, dikurangi menjadi biaya nominal dengan produksi massal, untuk menjadi minuman universal yang melintasi garis-garis kelas dan stasiun di seluruh dunia, yang memacu caffeinatics filsuf abad kesembilan belas termasuk Goethe dan Rousseau.

Tahun 2017, National Coffee Association (NCA) melaporkan tentang konsumsi kopi orang Amerika. Kesimpulan hasil penelitian itu mengengangkan karena ternyata Amerika adalah negara yang sangat berkafein. Ini mungkin tidak mengejutkan karena Starbucks dan rantai kopi lainnya misalnya, bersama dengan kedai kopi lokal, menjadi destinasi pokok di hampir setiap kota di Amerika.

Yang mengejutkan adalah jenis kopi yang diminum. Menurut laporan NCA tentang Tren Minum Kopi Nasional, 59% kopi yang dikonsumsi setiap hari diklasifikasikan sebagai "gourmet." Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah tren laporan selama 67 tahun bahwa lebih dari setengah konsumsi kopi harian termasuk dalam kategori khusus ini.

Orang-orang muda mendorong pertumbuhan ini dan konsumsi kopi di luar rumah; orang berusia 65 tahun ke atas minum sebagian besar kopi mereka di rumah, sementara peminum kopi di bawah usia 35 lebih cenderung meminumnya saat bepergian.

Laporan The Specialty Coffee Association (SCA) membedah lebih mendalan hasil penelitian NCA. Menurut penelitian SCA, tahun 2017, 46% kopi dikonsumsi di luar rumah. Dari semua kopi yang dikonsumsi, 59% adalah kopi spesial dan 41% bukan kopi khusus.

Yang menarik adalah, selama 18 tahun terakhir, jumlah peminum kopi khusus tumbuh menguat. Hanya 9% orang dewasa AS yang minum kopi spesial setiap hari pada tahun 1999. Pada tahun 2017, jumlah itu mencapai 41%. Bahkan jumlah peminum meningkat 10 poin persentase pada tahun lalu saja, naik dari 31% pada tahun 2016. Peminum khusus mengkonsumsi 2,97 cangkir kopi per hari pada tahun 2017, meningkat dari 2,24 cangkir pada tahun 2001.

Dalam beberapa tahun terakhir coffee shop (kedai kopi) tumbuh luar biasa. Budaya kopi menghadirkan pemasaran lintas budaya di mana konsumen memiliki selera, nilai, bahasa, pandangan sosial, sikap dan perilaku yang sama yang dibangun di sekitar konsumsi kopi di kedai kopi.

Seperti restoran lainnya, kedai kopi sangat beragam. Seperti restoran Italia atau toko sandwich; mereka  menyajikan produk yang sangat mirip, tetapi sering kali berbeda. Ada kedai kopi yang menyediakan  item menu non-kopi, menu makanan, minuman beralkohol, atau non-alkohol . Ada juga yang hanya menyediakan kopi; ada juga yang hanya menawarkan minuman berbasis espresso dan tidak memiliki peralatan seduhan ala Amerika Utara.

Budaya kopi dan kedai kopi berasal dari budaya oriental. Namun, budaya barat mengubah budaya kopi – yang sebenarnya diadopsi dari Timur -- menjadi ruang publik modern. Kedai kopi menjadi tempat orang berkumpul dan bersosialisasi.

Merek kedai kopi terkemuka di dunia adalah Starbucks, yang diperingkat sebagai merek global ke-91 oleh Perusahaan Interbrand untuk 2013 (Interbrand, 2013) dan mengoperasikan hampir 18.000 toko di 55 negara. Sebagai kedai kopi besar seperti Starbucks merupakan pioneer penyebaran budaya kopi global di dunia dan kemudian menghadapi persaingan di pasar sasaran mereka dari kedai kopi lokal.

Budaya kopi global menempatkan kedai kopi sebagai tempat pertemuan bagi teman, kekasih, dan pebisnis; tempat belajar bagi pelajar dan mahasiswa; dan tempat untuk bersantai serta membaca buku dan majalah. Kedai kopi yang menstimulasi keintiman fisik dan fisiologis dari interaksi tatap muka, menciptakan tempat percakapan santai untuk kelas menengah dan menawarkan cara yang nyaman dan menyenangkan untuk bersosialisasi.

Karena kedai kopi adalah bisnis jasa, pemasarannya berbeda dengan pemasaran barang. Lingkungan fisik dan produk yang dijual adalah elemen dari pengalaman kedai kopi. Lingkungan fisik umum di kedai kopi terdiri dari pajangan seni visual, musik latar, menu hedonis (seperti muffin, sandwich, dan sebagainya), kehangatan yang diciptakan oleh furnitur dan warna, estetika khas, pilihan media yang berorientasi seni dan gambar yang berhubungan dengan kopi.

Kepuasan pelanggan juga sebagian besar didasarkan pada proses pemberian layanan dan interaksi antara staf dan pelanggan serta produk dan harga. Misalnya, interaksi barista-pelanggan sangat penting dalam konteks pengalaman kedai kopi Starbucks. Melalui perilaku mereka, barista menggambarkan merek kepada pelanggan sebagai lingkungan yang nyaman, stabil dan menghibur.  Disitulah orang mendapat pengalaman dan disitulah inti dari kedai kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)