Geliat Binis Rokok Elektrik di Indonesia

Sejak legalitas rokok elektrik (vape) direstui pemerintah Indonesia melalui tarif cukai, bisnis vape makin menggeliat. Penerimaan cukai liquid rokok elektrik pada periode Oktober hingga Desember 2018 misalnya, sanggup melebihi Rp 200 miliar.

Bahkan, menurut catatan Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), jumlah pengguna rokok elektrik di Indonesia telah tembus lebih dari 1,2 juta orang per 2018. Padahal, rokok elektrik mulai masuk Indonesia baru pada tahun 2010 dan mulai popular sekaligus dikenal masyarakat Indonesia pada tahun 2013-2014.

Sementara itu, merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Jumlah produsen liquid di Tanah Air pun telah mencapai lebih dari 300, produsen alat dan eksesoris lainnya lebih dari 100, distributor atau importir lebih dari 150, pengecer lebih dari 5.000, dan kategori pengusaha rokok elektrik lainnya mencapai lebih dari 50.

Tren rokok elektrik di Indonesia tak lepas dari kesadaran perokok Indonesia yang mulai memutuskan untuk berhenti merokok. Dan, salah satu cara mereka untuk menghentikan kebiasaan merokok konvensional adalah menggantikannya dengan rokok elektrik.

Tak heran, jika salah satu produsen liquid vapor kelas dunia, Nasty Worldwide, melirik pasar Indonesia. Menggandeng produsen produk vapor terkenal di Tanah Air, HEX, Nasty Worldwide resmi menggarap pasar Indonesia. Keduanya mendirikan perusahaan patungan PT NCIG Indonesia Mandiri, dengan merilis produk perdananya di Indonesia dengan merek NCIG.

Sementara itu, guna mendukung industri lokal, PT NCIG Indonesia Mandiri juga menggandeng PT YNOT Kreasi Indonesia untuk melakukan produksi e-liquid dan pengepakan catridge (N Pod) NCIG. Dan, NCIG merupakan POD pertama yang bercukai di Indonesia.

Dikatakan CEO NCIG International Shariffuddin Bujang, “Dengan kualitas yang dihasilkan dan jaringan distribusi Hex yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, membuat kami yakin kolaborasi Nasty dengan Hex mampu memenuhi kebutuhan pengguna rokok elektrik di Indonesia.”

Roy Lefrans, CEO NCIG Indonesia, menambahkan, NCIG merupakan satu-satunya produk closed system yang diluncurkan resmi di Indonesia yang sudah memenuhi standard internasional, di antaranya dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, Tobacco Products Directive (TPD) Eropa, dan Canadian Counselling and Psychotherapy Association (CCPA) Kanada.

Menurut Roy, nilai lebih NCIG adalah desainnya yang compact, stylist, dan ringan sehingga mudah dibawa kemana saja. Selain itu, NCIG juga lebih praktis karena dapat langsung digunakan. “NCIG adalah produk full closed system yang praktis, pengguna bisa langsung pakai tanpa perlu repot mengisi liquid ataupun mengganti kapas,” ucapnya.

Demi kenyamanan, lanjutnya, cartridge NCIG (NPOD) dapat langsung diganti ketika liquid-nya sudah habis. “NCIG hadir sebagai representasi cara merokok di masa depan dan memberikan alternatif rokok elektronik yang aman serta berkualitas bagi pengguna di Indonesia,” klaim Roy.

Resmi hadir di Indonesia, NCIG akan dibanderol dengan kisaran harga Rp 600.000. “NCIG akan tetap dipasarkan secara ketat untuk konsumen dewasa sesuai batas usia merokok atau di atas 18 tahun. Adapun target produksi NCIG sampai akhir tahun 2019 sebesar 1 juta starter kit,” patok Roy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)