Hadapi Pandemi, 43% Masyarakat Indonesia Berinisiatif Mencari Informasi tentang Asuransi

Hampir separuh masyarakat Indonesia, 43%, menyatakan telah berinisiatif mencari informasi seputar produk dan layanan asuransi dalam rangka merespons pandemi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan responden dari negara-negara lain, yang rata-rata hanya 32%. Fakta itu terungkap dari hasil studi “Manulife Asia Care” yang baru saja dirilis Manulife.

Studi “Manulife Asia Care” menjaring sekitar 4.000 responden di seluruh Asia, yang sudah memiliki polis asuransi atau berencana membeli polis dalam enam bulan ke depan. Di antara seluruh responden, terdapat 519 responden dari Indonesia.   

Melalui studi ini terungkap juga bahwa di tingkat kawasan Asia, hampir semua (95%) responden yang mencemaskan dampak Covid-19 telah melakukan langkah proaktif untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, terutama dengan berolah raga secara teratur (58%) dan memperbaiki pola makan (54%).

Sementara di Indonesia, hampir semua responden (98%) menyatakan mereka telah mengambil langkah untuk mengelola kesehatan dan keuangan di tengah situasi Covid, dengan tiga perempat responden (74%) menyebutkan langkah-langkah itu meliputi berolah raga teratur dan 70% memperbaiki pola makan.  

Masih berdasarkan studi ini, ternyata hampir semua responden di Asia (92%) memantau kondisi kesehatan dan kebugarannya, termasuk dari segi berat badan, kualitas tidur, tekanan darah, detak jantung, dan jumlah langkah yang dicapai.

Di Indonesia, 97% dari responden justru memantau sendiri kesehatannya, dengan tiga perempat (72%) turut memantau berat badan. Sebanyak dua pertiga (67%) responden Indonesia menyatakan mereka mengawasi kualitas tidurnya. Selain itu, dua dari lima orang responden (41%) di Indonesia memantau jumlah langkah yang dicapai. Separuh responden Indonesia (51%) juga menyatakan mereka menggunakan alat pantau kesehatan, dibandingkan dengan rata-rata kawasan sebesar 46%.

“Di Indonesia, kami melihat minat yang tinggi terhadap perlindungan kesehatan dan perencanaan pensiun selama pandemi. Kami memahami di tengah situasi yang menantang ini, masyarakat ingin dapat lebih mengendalikan kondisi kesehatan serta kemapanan finansialnya. Berbekal pengalaman dan keahlian Manulife,  kami menyediakan rangkaian solusi komprehensif meliputi MiUltimate Health Care  untuk perlindungan kesehatan, MISSION dan MISSION Syariah  untuk perlindungan kesehatan, jiwa, maupun investasi untuk mendukung kebutuhan nasabah kami dan membuat semakin hari semakin baik,” papar Ryan Charland, Presiden Direktur & CEO Manulife Indonesia.

Fakta lainnya yang terungkap dari hasil studi ini adalah perencanaan masa pensiun yang dirasa kian penting oleh masyarakat Indonesia. Sebanyak 88% responden Indonesia menyatakan, sejak Covid-19 terjadi, perencanaan masa pensiun kini dipandang semakin penting. Angka ini sangat tinggi dan berada jauh di atas rata-rata Asia, yakni mencapai 73%.

“Minat tinggi terhadap perencanaan masa pensiun ini mencerminkan kekhawatiran yang dirasakan masyarakat Indonesia  terhadap kemungkinan menurunnya kesejahteraan akibat Covid-19. Minat ini juga mencerminkan ketertarikan mereka terhadap perencanaan keuangan sebagai jalan menuju kemapanan finansial di tengah situasi yang tidak menentu,” lanjutnya.

Di Indonesia, hampir tiga perempat (72%) responden menyatakan ingin membeli polis baru dalam enam bulan ke depan—sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan (71%). Perlindungan dari penyakit kritis, perlindungan kesehatan secara umum, dan asuransi untuk pendidikan anak adalah beberapa hal yang diutamakan dalam rencana investasi nasabah.  

Hampir tiga dari lima responden Indonesia (58%) juga merasa lebih nyaman mengelola polis menggunakan sarana digital seperti aplikasi ponsel, termasuk untuk mengajukan klaim dan memproses pembayaran. Survei ini juga mengungkap bahwa 58% responden pernah berkonsultasi dengan tenaga pemasar tentang pembelian polis.

“Banyak nasabah yang masih aktif berkomunikasi dengan tenaga pemasar mereka. Jadi, meskipun tren digital tampaknya akan bertahan dalam jangka panjang, kehadiran para tenaga pemasar tetap sangat berharga. Untuk itu, dalam distribusi produk, pendekatan yang kami ambil adalah omnichannel, yaitu pendekatan yang memaksimalkan layanan digital dan kemampuan tenaga manusia yang unggul dalam hal berempati, membangun rasa percaya, dan memahami kebutuhan para nasabah secara menyeluruh,” pungkasnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)