Indonesia, Land of Promise? Ini Faktanya!

Ada banyak indikasi maupun fakta mengapa Indonesia seringkali disebut sebagai Land of Promise atau daratan yang menjanjikan bagi semua pelaku bisnis. Indikasi pertama adalah besaran market dan kondisi ekonomi Indonesia yang tercatat menggairahkan. Pertama, jumlah penduduk Indonesia yang menyentuh 262 juta jiwa. Dengan demikian, Indonesia menjadi negara terbesar keempat di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak dan tiga terbesar di dunia dengan jumlah segmen muda tertinggi. Demikian dipaparkan Sutanto Hartono, Managing Director (COO) EMTEK & CEO SCM, di hadapan ribuan peserta AdAsia 2017 pada hari ini (9/11) di Bali.

Fakta lainnya, Indonesia juga memiliki jumlah kelas menengah yang sangat besar, yakni mencapai 120 juta. Itu artinya, yang terbesar kedua di Asia. Sementara itu, GDP Indonesia telah menyentuh angka US$ 932 miliar. Dengan demikian, berdasarkan angka GDP itu, ekonomi Indonesia menempati peringkat pertama di ASEAN dan tertinggi kelima di Asia.

Bagaimana dengan pengguna media sosial di Tanah Air? Dengan penetrasi smartphone yang mencapai 85 juta di 2016—dan diperkirakan akan mencapai 148 juta di 2021—maka pengguna media sosial di Tanah Air terhitung menjanjikan. Jumlah pengguna BBM di Indonesia misalnya, menempati peringkat pertama di dunia. Selanjutnya, jumlah pengguna Instagram di Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik, peringkat keempat di dunia untuk pengguna Facebook, dan peringkat keempat di dunia untuk pengguna Twitter.

Sementara itu, untuk penetrasi pembelanja online di Tanah Air, jumlahnya sudah mencapai 11 juta di 2016. Dan, diperkirakan akan mencapai 42 juta di 2021. Adapun populasi yang sudah bankable mencapai 88 juta di 2016 dan diperkirakan akan mencapai 150 juta di 2021.

“Yang membuat Indonesia menjadi sangat unik adalah orang-orang Indonesia terbiasa memiliki dua handset atau ponsel. Yang unik lainnya adalah orang Indonesia menjadikan belanja konvensional sebagai liburan, sedangkan belanja online justru sebagai pekerjaan. Mengapa? Sebab, pada saat weekday, 70% orang Indonesia berbelanja online pada saat jam kerja,” papar Sutanto.

Ironisnya, sebagian negara Indonesia masih belum terkoneksi internet. Tak heran, meski pertumbuhan revenue dari layanan data tercatat signifikan, namun revenue dari layanan non data di Indonesia masih mendominasi. Jika di tahun 2014 dan 2015 layanan data pada tiga operator di Indonesia (XL, Telkomsel, dan Indosat) mencapai 26% dan 31%, maka layanan non-data di 2014 ke 2015 mengalami penurunan dari 74% ke 69%. Di tahun 2016, revenue untuk layanan non-data kembali menurun menjadi 62%, sedangkan layanan daya naik menjadi 38%. “Dominasi layanan non-data pada revenue operator salah satunya didorong oleh konsumsi voice atau menelpon dan trafik SMS yagn masih tercatat tinggi. Trafik SMS pada tahun 2016 misalnya mencapai 450 miliar,” jelasnya.

Bicara soal akses perbankan di Tanah air, ia menegaskan bahwa mayoritas penduduk di Indonesia masih unbankable, yakni mencapai 65%. Pemegang kartu kredit pun masih di angka 8 juta dan 65% meminjam dari lembaga peminjaman informal. Bahkan, lebih dari 50% mengirim uang dari non-bank.

Menggarap Pasar Indonesia
Oleh karena itu, menurut Sutanto, ada sejumlah tantangan yang harus dijawab oleh para pemasar yang ingin menggarap pasar Indonesia. Pertama adalah bagaimana brand dapat menciptakan engagement secara efektif dengan orang-orang yang tidak terjangkau media digital, di mana jumlah populasi non online mencapai 49%? Kedua, bagaimana menjangkau pelaku bisnis individual dan kecil untuk kemudian menyiapkan keterampilan dan asset digital mereka? Ketiga, bagaimana menciptakan transaksi keapda orang-orang yang unbankable, yang jumlahnay mencapai 65%?

Diungkapkan Sutanto, berangkat dari sederet fakta di atas, maka tidak ada cara lain yang efektif untuk menggarap pasar Indonesia, selain menggunakan media tradisional. Sebab, penetrasi TV di Indonesia mencapai 96%. Adapun online mencapai 53%, radio 37%, koran 7%, dan tabloid serta majalah 3%.

EMTEK sebagai salah satu pemain di industri media, dipaparkanya, memiliki 115 juta penonton untuk stasiun TV SCTV dan Indosiar. “Di Sosial media, kami punya 6,2 juta follower Twitter, 4,7 juta fans di Facebook, 1,6 juta pengikut di Instagram, 1,4 juta penonton di Youtube, dan 1,3 juta penonton di Vidio.com.

Diklaim Sutanto, Vidio.com tercatat sebagai platform online video terpopular di Tanah Air, setelah Youtube. “Ada 22 juta pengguna aktif tiap bulannya di Vidio.com, 120 juta yang memutar tayangan setiap bulannya, dan 1 miliar menit yang menonton di Vidio.com,” tegasnya.

Selain itu, EMTEK juga punya eCommerce Bukalapak.com. Dikenal sebagai pemimpin di marketplace C2C/small B2C, Bukalapak.com juga telah terhubung dengan jutaan seller individual dan sepuluh juta konsumen di Indonesia. E-commerce lainnya yang juga dimiliki EMTEK adalah Hijup.com. EMTEK juga punya platform payment DANA, voucher online Lakupon, online rider Uber, Rumah.com, Karir.com, OTO, dan Reserrvasi.com. Portofolio lainnya yang dimiliki EMTEK adalah media online, seperti Liputan.com, Bintang.com, dan Bola.com.

“Kami percaya dengan mengkombinasikan semua platform yang EMTEK miliki, maka pemasar dapat menjangkau pasar sekaligus akar rumput yang ada di Indonesia. Kami juga ingin membantu pemasar untuk menciptakan peluang sekaligus mengoptimalkan pasar yang potensial di Indonesia melalui semua platform yang kami miliki,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)