Ini Strategi Agar Pertarungan di Pasar Fixed Broadband Tidak Terjebak Perang Tarif

MIX.co.id - Pandemi Covid-19 turut mendorong pertumbuhan pengguna fixed broadband di Indonesia. Pertumbuhan tersebut tak lepas dari hampir seluruh aktivitas selama pandemi—baik bekerja, belajar, berbelanja, dan sebagainya—dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet.

Sejatinya, pertumbuhan tersebut merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Tak heran, jika jumlah pemain yang menggarap segmen fixed broadband pun meningkat. Bahkan, mereka pun tampak agresif demi menaklukkan hati pelanggan.

Deretan pemain yang tampak serius menggarap pasar fixed broadband adalah IndiHome, First Media, Biznet, MyRepublic, MNC Play, CBN, Link Net, dan Oxygen. Termasuk operator selular juga ikut kepincut dengan menghadirkan layanan sejenis. Sebut saja, XL Home dari XL Axiata dan HiFi dari Indosat Ooredoo Hutchison). PLN pun ikut masuk dengan brand Iconnet. Paling anyar, demi memperkuat segmen fixed broadband-nya, XL Axiata mengakuisisi First Media dari Lippo Group.

Merujuk data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) pada Juniu 2022, di pasar fixed broadband, IndiHome masih menjadi market leader, dengan menguasai pangsa pasar sebesar 67,54%. Selanjutnya, diikuti oleh First Media 3,88%, MNC Vision 2,88%, IConnect 2,24%, BizNet 1,54%, dan Oxygen 1,04%.

Diungkapkan Vice President Marketing Management Telkom E. Kurniawan, yang akrab disapa Iwan, pada acara Selular Business Forum yang digelar hari ini (25/10), di Jakarta, “Tren pemakaian fixed broadband pasca pandemi rupanya tidak berubah atau tidak mengalami penurunan. Hasil survey mengungkapkan bahwa 75% konsumen Indonesia memutuskan untuk tetap memakain layanan fixed broadband.”

Tren ini terjadi juga di IndiHome. Menurut Iwan, sampai saat ini, konsumsi internet pelanggan IndiHome mencapai 67 petabyte per hari. Sementara itu, ada 187 juta device yang terkoneksi dengan IndiHome. “Ini membuktikan bahwa kebiasaan di masa pandemi dengan menggunakan fixed broadband tetap berlanjut hingga sekarang, meski mobilitas dan aktivitas di luar rumah sudah mulai pulih.

Diakui Iwan, pertumbuhan pasar fixed broadband yang siginifkan berakibat pada perang tarif. Salah satu contohnya, ada brand yang menawarkan bayar 7 bulan, namun konsumen bisa memperoleh layanan jaringan internet hingga 12 bulan.

Namun, IndiHome tidak ingin terbawa arus perang tarif. “Kami memilih meningkatkan kualitas dengan fokus pada menaikkan mbps dengan harga berlangganan yang tetap sama. Saat ini, ada 80% pelanggan kami yang memiliki paket langganan 10 mbps. Target kami ke depan, mereka bisa memperoleh layanan 40 mbps,” lanjut Iwan.

Lebih jauh ia menegaskan, berdasarkan data pelanggan IndiHome, kemampuan konsumen Indonesia untuk berlangganan fixed broadband per bulannya mencapai Rp 280 ribu per bulan untuk 30 mbps. “Harga ini menunjukkan penurunan terus Jika dibandingkan dulu, di mana 10 mbps mereka harus membayar Rp 400 ribu per bulan,” tandas Iwan.

IndiHome juga memiliki strategi jitu untuk menggaet pelanggan, yakni dengan mengusung konsep Window of Entertainment. Dia mencontohkan, IndiHome menyediakan konten menarik yang bekerja sama dengan 14 OTT (Over the Top) partner seperti Netflix, MOLA, Vidio, WeTV, serta memiliki variasi paket sesuai kebutuhan pelanggan, mulai dari paket 30 Mbps hingga 300 Mbps.

Pada kesempatan yang sama, ditambahkan CEO Selular Uday Rayana, persaingan ketat antar pemain fixed broadband menjadikan harga sebagai instrument utama dalam memenangkan pasar. “Dengan ratusan penyelenggara yang ada di bisnis ini, potensi munculnya perang tarif, dapat saja terjadi," ucapnya.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)