Inilah Empat Tokoh Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2019

Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74, Yayasan Achmad Bakrie bersama Freedom Institute & Bakrie Group, kembali menggelar program “Penghargaan Achmad Bakrie 2019”. Program berkelanjutan yang tahun ini memasuki perhelatan ke-17 itu, merupakan apresiasi Bakrie Group kepada sejumlah  tokoh inspirasional yang telah berjasa bagi kehidupan bangsa Indonesia. “Penyelenggaran kali ini juga bertepatan dengan perayaan 77 tahun kelompok usaha Bakrie Group,” ujar  Ketua Penyelenggara Pernghargaan Achmad Bakrie 2019 Ardiansyah Bakrie, pada pertengahan Agustus ini (14/8), di Jakarta.

Lebih jauh ia menjelaskan, sejumlah tokoh yang dipilih adalah insan terbaik dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, serta mereka yang telah membaktikan hidupnya di bidang kemanusiaan. “Selama kurun waktu tujuh belas tahun, Penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 76 penerima yang terdiri dari 72 individu dan 4 lembaga,” lanjutnya.

Penghargaan yang mengambil benchmark dari penghargaan “Nobel” itu, merupakan salah satu implementasi dari corporate value yang dimiliki Bakrie Group. Corporate value yang telah ditanamkan dan dijalankan oleh Achmad Bakrie tersebut adalah nilai KeIndonesiaan, kemanfaatan, dan kebersamaan.

Sejatinya, corporate value tersebut juga tercermin dari keempat penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2019. Keempat penerima penghargaan tersebut adalah Jakob Oetama yang mewakili kalangan Jurnalisme, Ashadi Siregar yang mewakili Sastra Popular, Anna Alisjahbana dari disiplin ilmu Kedokteran, dan Anawati dari disiplin ilmu Sains.

Prof. Anna Alisjahbana misalnya, ia dikenal memiliki dedikasi yang tinggi untuk memperbaiki kualitas anak Indonesia secara holistik dan integratif. Antara lain, inisiatifnya adalah mengilhami pengembangan perangkat inovatif dan tepat guna “Deteksi Dini Tumbuh Kembang". Temuannya itu bertujuan menjaring anak dengan gangguan perkembangan pada masyarakat rentan dan kurang mampu, yang diterapkan pada Taman Posyandu, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dan pendidikan keluarga, untuk mempersempit kesenjangan anak desa-kota.

Sementara itu, Dr. Anawati rela meninggalkan gemerlap karir dan gemerincing mata uang Euro karena melihat kualitas air minum perdesaan di Sumbawa hampir sebagiannya terkontaminasi logam berat.  Risetnya tentang Tubular Anodic Aluminium Oxide (AAO) dan gagasannya memanfaatkan teknologi pelapis bahan lokal, telah membantu masyarakat Sumbawa.

Sementara itu, malam penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie 2019 digelar pada  14 Agustus 2019, di XXI Ballroom Djakarta Theater dan ditayangkan tvOne pada 17 Agustus 2019 dengan menghadirkan empat tokoh Penerima Penghargaan. Acara tersebut juga dapat disaksikan melalui live streaming via aplikasi tvOne Connect, viva.co.id, dan ANTV yang akan memberikan sajian liputan eksklusif seputar Penghargaan Achmad Bakrie 2019.

“Konsep malam puncak Penghargaan Achmad Bakrie 2019 adalah dengan menghadirkan motif batik khas nusantara, yaitu Truntum dan Megamendung. Motif batik Truntum menggambarkan cinta tulus tanpa syarat yang abadi dan semakin lama terasa subur berkembang (tumaruntum). Warna biru yang ada pada batik Megamendung melambangkan warna langit yang luas, tenang, bersahabat dan melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nanti sebagai pembawa kesuburan dan memberi kehidupan. “Arti dari motif batik Truntum dan Megamendung itulah yang kemudian kami nilai sesuai dengan semangat ‘Mempersatukan Negeri’ dari gelaran kali ini,” tutupnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)