Inilah Tiga Hal yang Harus Dihindari dalam Membuat Personal Branding

Bagi beberapa orang mungkin sulit untuk mendeskripsikan tentang diri sendiri. Bahkan memulainya saja sulit. Di sisi lain, seminar, artikel, ataupun webinar selama bertahun-tahun mengajarkan orang untuk membuat personal branding yang terlalu muluk. Beberapa bahkan mengajarkan untuk mengubur kepribadian asli demi kepentingan birokrasi. Tidak heran, banyak orang menjadi bingung dalam mendeskripsikan diri mereka sendiri.

PB Personal branding

Banyak dari kita yang kerap melakukan kesalahan dalam mendeskripsikan diri saat orang lain bertanya 'apa pekerjaan Anda?'. Dilansir dari forbes.com, ada tiga hal yang sering menjebak ketika kita menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama adalah tasks. Dalam konteks ini, istilah task artinya daftar aktivitas pekerjaan yang sudah Anda lakukan. Saat memulai karir dulu, kita biasanya menggunakan task dalam membuat personal branding supaya klien mengerti apa saja kemampuan kita berdasarkan pengalaman yang pernah dikerjakan.

Saat kita sudah mampu melihat peran dari posisi yang lebih tinggi, sebenarnya task itu tidak penting dalam membangun branding. Sebab kita sejatinya kita bisa melakukan beragam task. Yang lebih penting adalah dampaknya terhadap hasil pekerjaan dan dampaknya terhadap rencana pekerjaan kita berikutnya. Oleh karena itu, sebaiknya deskripsikan diri lebih dari sekedar task yang pernah kita kerjakan. Personal branding Anda lebih dari sekedar task.

Kedua adalah trophy. Istilah ini maksudnya adalah nama-nama populer yang biasanya digunakan dalam membuat personal branding, seperti sekolah kenamaan tempat kita belajar atau perusahaan besar tempat kita pernah bekerja. Padahal sebenarnya personal branding Anda lebih dari sekedar pencapaian Anda.

Membuat rangkuman pencapaian Anda di profile LinkedIn misalnya, bukanlah upaya membangun personal branding yang tepat. Berbuat demikian justru seolah-olah mengatakan kepada pembaca 'Semoga saya berharga buat Anda! Lihatlah penghargaan yang pernah saya capai dan goal yang sudah berhasil.'

Human branding itu sebenarnya berdasarkan diri manusia itu sendiri, bukan berdasarkan report cards atau award. Hal tersebut hanyalah bagian dari kita. Untuk mendapatkan peluang pekerjaan, ada banyak hal lain yang mesti Anda tunjukkan, dibandingkan hanya menunjukkan pencapaian kita. Personal branding yang paling kuat datang dari apa yang kita percaya dan apa yang menjadi pilihan kita, bukan dari pujian orang lain atau award.

Ketiga adalah zombie branding. Istilah ini berarti branding yang sudah umum digunakan para pencari kerja lain. Mayoritas kita diajakarkan untuk mendeskripsikan kita seperti ini:

“Profesional yang berorientasi pada hasil, taat pada disiplin dan berpengalaman dalam lintas tim fungsional, profesional yang mampu termotivasi sendiri dan bekerja dengan semua level staf. Team player yang berdedikasi tinggi dan mampu mencapai atau melebihi ekspektasi.”

Branding seperti ini bisa menggambarkan semua orang. Tidak ada hal unik yang bisa diangkat. Sementara sang pemilik resume sebenarnya punya kekuatan unik yang bisa ditonjolkan dalam resume. Terlebih lagi, manager HRD sebenarnya sudah ribuan kali membaca zombie resume ini. Untuk itu, sebaiknya tunjukkan keunikan yang Anda punya dalam resume.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)