Inisiatif Gramedia Tingkatkan Literasi Membaca dan Menulis

Tahun 2005, ada 14,9 juta orang Indonesia (usia 15-59 tahun) yang tercatat buta aksara. Itu artinya, mencapai 9,55%. Tahun 2015-2017, jumlah orang Indonesia yang buta aksara menurun menjadi 2,07% atau sekitar 3,8 juta. Sayangnya, literasi membaca masih belum merata di berbagai daerah di Indonesia. Jakarta masih tercatat yang paling tinggi tingkat literasi membaca. Sedangkan Papua, terhitung paling rendah tingkat literasi membaca. Demikian dikatakan Maman Suherman, salah seorang penulis buku sekaligus penggiat literasi, dengan mengutip data yang dirilis Biro Pusat Statistik (BPS).

Dibandingkan negara lain, minat baca orang Indonesia terendah kedua. Maklum saja, rata-rata orang Indonesia membaca 2-3 buku setahun. Diyakini Maman, posisi terendah Indonesia terhadap literasi membaca tak hanya disebabkan rendahnya minat baca, tetapi juga disebabkan oleh sulitnya mengakses buku.

Fakta itulah yang membuat Gramedia berinisiatif menggelar program "Gramedia Writers and Readers Forum" (GWRF). Sukses digelar di tahun lalu, dengan diikuti oleh lebih dari 1.500 pengunjung selama dua hari, tahun ini Gramedia kembali menggelar sekuelnya. Rencananya, GWRF 2019 akan digelar selama tiga hari (2-4 Agustus 2019), di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Kapasitas yang disediakan di tahun ini sebanyak 2.850 orang.

Diungkapkan Direktur Kelompok Penerbitan Kompas Gramedia Suwandi S. Brata pada hari ini (1/8) di Jakarta, "Misi utama Kompas Gramedia adalah hidup cerdas melalui sharing informasi dan pengetahuan. Salah satu upaya yang kami lakukan untuk mewujudkan misi itu adalah dengan menggelar program GWRF dan bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia."

Program GWRF adalah forum bertemu, berinteraksi, diskusi, dan sharing antara penulis dan pembaca. Mengusung tema "Literacy in Divetsity", GWRF 2019 akan menyajikan talkshow, workshop, editor's clinic, film review, bazaar buku, music performance, dan Awarding Gramedia Short Film Festival. Sebanyak 45 penulis buku dan pemateri profesional akan hadir di sana. Di antaranya, Sapardi Djoko Damono, Maman Suherman, A. Fuadi, Ayu Utami, dan sebagainya.

Seiring dengan bertumbuhnya literasi membaca, diakui Suwandi, pertumbuhan printed dalam beberapa tahin terakhir mulai menurun. Jika sebelum tahun 2010 pertumbuhan bisnis printed masih di atas 30%, maka tahun 2010 pertumbuhannya melorot menjadi 28%. Tahun 2011, pertumbuhannya menjadi 22,5%, tahun 2013 menjadi 17,5%, dan 2017 justru minus 0,4%. "Akan tetapi, pada semester pertama 2019, kembali tumbuh, yakni mencapai 4,5%," ia menerangkan.

Ada sejumlah strategi yang dilancarkan Gramedia menghadapi tantangan menurunnya bisnis printed maupun meningkatkan literasi membaca dan menulis. Salah satunya adalah dengan mendefinisi ulang bisnis penerbit. "Jika dulu kami hanya menunggu naskah yang datang, maka sekarang kami mendefinisikan diri sebagai content developer ataupun content creator," ucapnya.

Strategi lainnya adalah dengan melakukan transformasi digital dengan pendekatan kolaborasi. "Kami berkolaborasi dengan Amazone menghadirkan layanan Print on Demand. Kami juga bekerja sama dengan Google dan developer lokal Aksara Maya untuk menghadirkan e-Library di berbagai daerah di Indonesia," pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)