Ketika “Sinyal” Masih Berformat Cetak Paska Revitalisasi

Kendati belanja iklan media cetak sempat “berdarah-darah” dalam tiga tahun terakhir, bahkan menunjukkan titik minus, namun pada semester tahun 2016 lalu kinerjanya sudah kembali bergeliat. Merujuk data Nielsen, penurunan belanja iklan di media cetak hingga menyentuh titik minus mulai terjadi pada kuartal ketiga (Q3) 2014, yakni -1%. Selanjutnya, pada Q4 2014 belanja iklan di media cetak -2%. Pada Q1 2015, belanja iklan di media cetak kembali turun drastis, yakni -11%, dengan total belanja iklan yang mencapai Rp 6,955 miliar. Memasuki Q2 2015, belanja iklan media cetak masih minus, meskipun tak sedrastis Q1 2015. Penurunannya mencapai -4%, dengan total belanja iklan senilai Rp 8,237 miliar. Sementara itu, sepanjang tahun 2016, belanja iklan di koran mencatat angka Rp 29,4 triliun atau berkontribusi sebesar 22% dari total belanja iklan nasional. Sedangkan belanja iklan di majalah, hanya menyumbang 1% atau sekitar Rp 1,6 triliun. Meski demikian, pertumbuhan belanja iklan di media cetak sudah menunjukkan angka yang positif, alias tidak minus. Geliat itulah yang sepertinya ditangkap oleh “Sinyal”, media cetak berformat tabloid milik Gramedia Majalah Group. Sejak hadir 12 tahun silam sebagai panduan belanja ponsel bagi konsumen di Indonesia, Tabloid Sinyal juga menghadapi tantangan digital. Pergeseran perilaku konsumen Indonesia dalam mencari informasi yang mengarah pada digital, membuat Gramedia Majalah harus menutup Tabloid Sinyal pada akhir tahun 2016 lalu. Diungkapkan Moch. S. Hendrowijono, Pemimpin Redaksi Sinyal Magz, “Namun, belum saatnya kami harus pamit kepada pembaca setia. Oleh karena itu, pada Maret 2017, kami memutuskan untuk menerbitkan kembali Sinyal. Akan tetapi, tidak dalam bentuk tabloid yang terbit dua mingguan. Kini, kami terbit dalam format majalah bulanan.” Terkait revitalisasi tersebut, diterangkan Hendro, tidak ada yang berubah dari target market Sinyal. Artinya, target market yang disasar masih sama, yakni segmen remaja dan dewasa yang berusia 30-40 tahun. “Tentu saja, konten dan rubrikasi yang kami hadirkan pada Sinyal Magz berubah dan dikemas lebih menarik, mendalam, dan relevan,” lanjutnya. Diakui Hendro, penerbitan Sinyal Magz tidak lagi dilakukan oleh Gramedia Majalah. Akan tetapi, penerbitan dilakukan PT Kreasi Komunika Gitamedia, yang dibentuk oleh beberapa wartawan senior. “Dalam kesehariannya, Sinyal Magz tetap digarap oleh tangan-tangan yang sama, editorial yang sama, dah alamat yang sama, yakni Gedung Kompas Gramedia Jalan Panjang No. 8A, Jakarta Barat,” ia menambahkan. Selain media cetak, Hendo menerangkan bahwa Sinya juga hadir dalam bentuk website www.sinyal.co.id. Pada versi online tersebut, konten yang disajikan lebih pada informasi yang sifatnya aktual dan disukai pembaca Sinyal, antara lain review product, panduan belanja, dan sebagainya. Keputusan menerbitkan kembali Sinyal dalam format majalah, cukup dimaklumi oleh Merza Fachys, Ketua Asosisasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI). Menurutnya, masih ada celah dan peluang bagi media cetak untuk tetap eksis. Hal itu dapat terlihat dari hasil survei pada akhir tahun 2015 yang menyebutkan bahwa 88% responden masih bercaya bahwa untuk belajar, mereka lebih memilih menggunakan media cetak dibandingkan online. Sementara itu, 71% mengaku masih lebih rileks membaca lewat media cetak dibandingkan online. “Bahkan, masih dari hasil survei tersebut, 64% pengiklan mengaku masih memilih media cetak sebagai tempat mereka beriklan. Sementara itu, 60% dari orang yang membaca iklan, masih menyisakan waktu untuk membaca iklannya daripada membaca konten majalahnya,” ujar Merza. Fakta itulah, kata Merza, yang seharusnya menjadi “sinyal kuat” bagi para pelaku bisnis di media cetak untuk tetap optimis ke depannya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa untuk tetap eksis, pelaku bisnis juga harus mampu menghadirkan cara-cara baru bagi para pengiklan di media cetak. Belajar dari pengalaman Smartfren, ia melanjutkan, “Kami beriklan tidak lagi didasari pada kanal tradisional ataupun digital. Akan tetapi, seluruh kanal yang dihadirkan harus mampu menjadi 'jendela' untuk konsumen berinteraksi dengan brand. Oleh karena itu, media yang mampu menawarkan kanal terintegrasi-lah yang akan kami pilih untuk beriklan.” Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang hadir pada peluncuran Sinyal Magz hari ini (16/3) di Jakarta, juga menyarankan bahwa sudah saatnya perusahaan media cetak tidak hanya mengadalkan pada pendapatan iklan dari media cetak. "Namun, mereka harus mampu menghadirkan model pemasaran multi-channel, termasuk pemasaran digital. Mereka juga harus mampu mengintegrasikannya pada platform social media seperti faceboo, twitter, YouTube, dan sebagainya," ia menyarankan. Diuraikan Dahlan Dahi, Executive Director Kompas Gramedia Majalah, sejumlah tahapan memang perlu dilakukan Sinyal melalui transformasi bisnis. Oleh karena itu, upaya berupa penjualan bundling antara versi cetak dan online dapat dilakukan. Termasuk, membuat penjualan terprogam (progammatic sales) untuk pasar tertentu. “Pada tahap selanjutnya, kami juga dapat menggunakan skenario branded content maupun penyelenggaraan event yang berkerja sama dengan pengiklan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)