Mengapa Perusahaan Perlu Memanfaatkan Big Data?

Pertumbuhan jumlah data terus bertambah seiring dengan laju pertumbuhan pengguna perangkat digital. Salah satu pemicu pertambahan jumlah data tersebut antara lain bertumbuhnya perangkat mobile serta meningkatnya jumlah pengguna social media. Sejatinya, Big Data didefinisikan sebagai kumpulan data yang memiliki karakteristik jumlah yang sangat besar (volume), kecepatan (velocity), dan keragaman (variety), sehingga membutuhkan kemampuan untuk menangkap, memproses, menyimpan, mengelola, serta menganalisis data tersebut.

Ya, di era disrupsi seperti sekarang, pemanfaatan big data menjadi sebuah keharusan bagi perusahaan. Mengapa? Diungkapkan Head of Research & Big Data Telkom Komang B. Aryasa di seminar bertajuk "Digital Transformation: How Big Data is Changing Disruptive Innovation", yang digelar ISMS (Indonesian Strategic Management Society) pada hari ini (14/8) di kantor Cisco di Jakarta, bahwa ada banyak benefit yang dipetik perusahaan jika memanfaatkan big data (merujuk data Bain and Company).

Pertama, perusahaan yang menggunakan big data akan dua kali lebih baik dalam kinerja finansial. Kedua, perusahaan pun akan lima kali lebih cepat dalam mengambil keputusan bisnis. Ketiga, perusahaan yang menggunakan big data akan tiga kali lebih berhasil dalam eksekusi keputusan sesuai keinginan.

Lantas, apa kata para eksekutif terkait big data? Dipaparkan Komang, 45% eksekutif mengatakan bahwa analisis dan pengaplikasian data menjadi tantangan terbesar. Adapun 83% eksekutif mempertimbangkan penggunaan data real time. Menariknya, 68% ekesekutif pemasaran berencana meningkatkan belanja untuk data. Selanjutnya, 56% eksekutif akan merekrut tenaga kerja baru untuk posisi-posisi terkait data.

"Telkom sendiri sudah sejak tiga tahun lalu menggeluti big data. Kami mulai dengan mendirikan unit bisnis Big Data yang tugasnya untuk memanfaatkan data yang sangat besar yang selama ini kami miliki," ujar Komang yang menyebutkan bahwa saat ini, perusahaan-perusahaan yang masuk kategori data driven company tercatat sebagai perusahaan yang most valuable sekaligus yang memiliki kapitalisasi pasar. Sebut saja, Apple, Microsoft, Amazon, Facebook, dan sebagainya.

Sayangnya, diakui Komang, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi perusahaan ketika akan memanfaatkan big data. Tantangan pertama adalah People. Saat ini, masih minim individu yang mampu mengelola big data. Terutama, mereka yang memiliki kemampuan teknis, analisis data, ketajaman bisnis, dan story telling.

Tantangan kedua adalah Process. Untuk itu, jangan pernah memulai big data dari sudut pandang TI (Teknologi Informasi). Sebaliknya, mulailah proses big data dari business goal yang berujung pada value.

Tantangan ketiga adalah Technolgy. Menurut Komang, big data butuh dukungan dari teknologi yang dapat diandalkan, terutama untuk menangani volume data yang besar, data yang beraneka ragam, dan tingginya tingkat kecepatan data.

Prio Utomo, Director of Business Development Cisco Indonesia, yang juga menjadi pembicara di seminar tersebut menegaskan bahwa big data dapat dimonetisasi dan berdampak pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Caranya? Diterangkan Prio, pertama adalah dengan menyelaraskan customer journey dengan business outcome journey. Kedua, dengan menemukan peluang data driven market. Ketiga adalah dengan memanfaatkan big data dan data science untuk actionable insight. Keempat, mengubah paradigma dari business intelligence ke analisis prediktif dan perspektif. "Perlu diingat, big data bukanlah one time, tetapi journey," katanya mengingatkan.

Sementara itu, Pendiri Rumah Perubahan dan Guru Besar FEB UI Prof. Rhenald Kasali, PhD selaku pembicara kunci di seminar ini, menuturkan bahwa saat ini banyak data yang masuk ke perusahaan yang belum mampu diproses. Padahal, dengan memproses big data, perusahaan akan banyak memperoleh keuntungan.

Menurut Rhenald, tren big data sejalan dengan era disrupsi yang tengah dihadapi di global maupun di Indonesia. Di Amerika misalnya, ritel online yang baru mencapai 8% terbukti mampu mempengaruhi ritel konvensional. Terbukti, ratusan gerai Walmart, Sears, Kohl's, dan Macy's tutup. "Hal itu terjadi karena para incumbent harus menghadapi lawan-lawan yang tak terlihat seperti ritel online yang notabene mengandalkan big data," ucapnya.

Masih menurut Rhenald, saat ini dunia telah mengalami disrupsi. Jika selama ini para incumbent hanya fokus pada kurva permintaan dengan cara memperkuat branding, maka di era disrupsi seperti sekarang, para pendatang baru yang berbasis big data justru fokus pada pasar low end yang tak terlayani--yang notabene jumlahnya sangat besar.

Bagaimana cara mereka membidik pasar yang lebih besar itu? Dijawab Rhenald, mereka (para pendatang baru) mengedepankan produk atau layanan yang lebih simple, lebih murah, lebih terjangkau, dan lebih cepat.

Ditambahkan Sari Wahyuni, President ISMS, perusahaan akan menghadapi konsekuensi yang serius apabila tidak dapat memanfaatkan banyaknya data yang ada. "Untuk itu, acara seminar ini kami selenggarakan pertama kali sebagai wadah atau sharing forum dari anggota ISMS dalam berinteraksi dengan masyarakat. Melalui forum ini, kami mengharapkan kontribusi ISMS dalam pengembangan keilmuan strategik manajemen di berbagai sektor sekaligus dapat berguna bagi pelaku dan industri," tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)