Menyimak Perjalanan Transformasi Banyuwangi Melalui Bedah Buku

Dalam perjalanan satu dekade (sepuluh tahun) terakhir, Banyuwangi telah bertransformasi menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan di level nasional, bahkan internasional. Sederet penghargaan dan peningkatan kinerja berhasil diraih Banyuwangi dalam sepuluh tahun terakhir.

Sebut saja, penghargaan perencanaan pembangunan daerah terbaik, ASEAN Tourism Standard Award kategori clean tourist city, UNWTO Awards for Innovation in Public Policy Governance dari Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO), Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dengan predikat A selama 4 tahun berturut-turut, Opini WTP dari BPK selama 8 tahun berturut-turut, dan ratusan penghargaan lainnya.

Tranformasi Banyuwangi ini terangkum secara lengkap dalam tiga buku yang ditulis Abdullah Azwar Anas, yakni “Creative Collaboration”, “Anti-Mainstream Marketing”, dan “Inovasi Banyuwangi”.

Dalam buku tersebut dikisahkan tentang bagaimana keberhasilan transformasi Banyuwangi adalah hasil dari inovasi, kolaborasi kreatif, dan strategi marketing yang mumpuni. Di Banyuwangi, inovasi menjadi “denyut jantung” keberhasilan berbagai bidang, mulai dari ekonomi, sosial, lingkungan, kesehatan, pariwisata, pendidikan dan kebudayaan, hingga tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

Guna membedah lebih lengkap mengenai bagaimana perjalanan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam membangun Banyuwangi menjadi kota pariwisata yang bernilai tinggi, hari ini (15/2) digelar bedah buku tersebut. Digelar secara online, bedah buku tersebut mengusung tema “10 Tahun perjalanan Transformasi Banyuwangi”.

Melalui bedah buku ini, dibahas tuntas mengenai strategi, kebijakan, inovasi, dan kinerja Banyuwangi yang dimobilisasi dan diorkestrasi oleh Abdullah Azwar Anas. Hadir pada acara bedah buku tersebut antara lain Dr. Son Kuswandi, Direktur Politeknik Negeri Banyuwangi; Muhammad Edhie Purnawan, SE.MA, PhD, Ketua PP ISEI dan Ketua SBSI; Dr. Sahid Susilo Nugroho, Kepala Program Pascasarjana FEB UGM; Prof. Nunung Nuryartono, Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia BSBI); dan Prof. Abdul Mongid, Pengurus Pusat ISEI Bidang Kerjasama Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)