Meski Melemah, Tahun Ini Omset Industri Kemasan Capai Rp 85 Triliun

Dalam tiga tahun terakhir, industri kemasan di Tanah Air mengalami pelemahan. Pertumbuhannya hanya di bawah 10% setiap tahunnya. Sementara lima tahun lalu, pertumbuhan industri kemasan terhitung tinggi, yakni mencapai 10% atau lebih setiap tahunnya. Demikian diungkapkan Henki Wibawa, Direktur Eksekutif IPF (Indonesian Packaging Federation), pada acara press conference pameran “Plastic & Rubber Indonesia 2018” pada hari ini (6/11), di Jakarta.

Tahun ini, menurut Henky, diperkirakan omset industri kemasan di Indonesia mencapai Rp 85 triliun. Dari total angka itu, mayoritas dikontribusi oleh kemasan fleksibel seperti kemasan mie instant yang mencapai 45%. Disusul oleh kemasan karton dan kertas yang mencapai 28%. Lalu, kemasan plastik kaku seperti kemasan air minum yang mencapai 15%. Sisanya dikontribusi oleh kemasan kaleng, gelas, dan kayu.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa sejumlah perubahan yang tengah terjadi di industri kemasan perlu disikapi oleh para pelaku bisnis terkait. Setidaknya, ada tiga perubahan yang tengah terjadi. Pertama, perubahan gaya berbelanja kalangan muda atau millennilas yang menjadi lebih smart dan memilih berbelanja secukupnya. Kedua, perubahan gaya hidup anak muda yang lebih memilih traveling. Ketiga, bertumbuhnya food service seperti Go-Food dan Grab Food.

Tantangan lain yang perlu dihadapi para pelaku bisnis adalah stigma negatif yang selama ini melekat pada kemasan plastik—yang dinilai menjadi sampah yang lama terurai. “Padahal, yang lebih mengkhawatirkan adalah hampir 30% makanan terbuang percuma lantaran tak mampu dikemas dengan baik,” lanjutnya.

Hal itu, diyakni Henky, mencermikan bahwa perusahaan kadangkala belum siap menghadapi perubahan sekaligus tantangan yang tengah terjadi di market. “Sebenarnya, salah satu cara menyikapi perubahan itu adalah dengan memanfaatkan teknologi terkini, yang mampu menghadirkan inovasi kemasan yang berbasis pada 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Recover),” ucap Henky.

Guna memperoleh informasi terkini tentang teknologi dan inovasi di industri kemasan, tambah Henky, pameran “Plastic & Rubber Indonesia 2018” menjadi salah satu jawabannya. Sebab, berbagai mesin kemasan dengan terknologi terkini akan di pamerkan di sana.

Diterangkan Wiwiek Roberto, Project Director Pamerindo Indonesia selaku penyelenggara pameran, “Plastic & Rubber Indonesia 2018” merupakan pelopor dan satu-satunya pameran untuk industri pengolahan plastik dan karet berskala global di Indonesia.

“Tahun ini, pameran Plastic & Rubber Indonesia 2018 akan kembali diselenggarakan pada 14-17 November 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. pameran yang berlangsung selama empat hari ini menyajikan berbagai tren terkini di industri plastik, pengolahan minuman, serta teknologi dan solusi pengemasan,” urai Wiwiek.

Pameran tersebut juga akan menghubungkan lebih dari 470 perusahaan dengan lebih dari 13.000 buyers dan profesional. Peserta pameran berasal lebih dari 20 negara. Termasuk Cina, Indonesia, Taiwan, Italia, Jepang, Singapura, dan Jerman.

Selain memamerkan aneka teknologi plastik dan karet yang komprehensif, menurutnya, dihadirkan juga seminar yang menampilkan inovasi dan peluang di industri terkait. “Pada seminar ini, kami menggandeng sekaligus didukung oleh berbagai asosiasi di bidang plastik dan karet serta Food & Beverages, seperti Indonesian Packaging Federation (IPF), Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), dan Perkumpulan Pelaku Daur Ulang Plastik Indonesia (IPR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)