Personal Branding Bukan Pencitraan

Satu dekade lalu, ketika Tom Foremsky menulis dan melontarkan ide bahwa “every company is media company” hanya sedikit yang paham apa maksudnya. Namun dengan berjalannya waktu, ide itu semakin banyak dimengerti dan populer, terutama di kalangan praktisi media, komuniasi dan pemasaran. Hari ini, konsep itu menjadi sangat penting karena adanya evolusi media dan betapa powerful-nya media internet yang telah mengubah industri seluruh media bahkan hampir semua bisnis.

“Memang sudah lama sekali. Tapi sekarang semua kejadian, semua perusahaan telah menjadi perusahaan media karena masing-masing menerbitkan untuk pelanggannya, stafnya, masyarakat dan lain-lain. Untuk profesional markom, kondisi itu menghasilkan tantangan tersendiri saat Anda ingin melakukan personal branding karena semua orang sekarang bisa ngomong di media sosial,” begitu pembuka dari Yuswohady ketika menjadi moderator dalam talkshow bertajuk “Building an Excellent Personal Branding of Marketing & Communications Professional” yang diadakan saat peringatan ulang tahun Majalah MIX Marcomm ke-13, penghujung Februari lalu.

Selain dari jenis medianya, menurut Siwo, begitu panggilan akrab Yuswohady, profesional markom juga menghadapi tantangan dari sisi pola komunikasi. Jika dulu komunikasi yang umum adalah broadcasting one to many, dengan adanya media sosial, pola ini berubah menjadi many to many yang akan membentuk komuntas. Pada pola one to many, posisi marketer adalah sekadar sebagai broadcaster, namun ketika ia mengendalikan komunikasi berpola many to many ia mesti mampu berperan sebagai connector.

Talkshow menghadirkan dua narasumber profesional yang bukan hanya berkiprah dalam level lokal namun juga global. Masing-masing adalah Daniel Surya, Group CEO WIR dan Chairman DMID serta Elvera Makki, Senior Vice President, Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia.

Menjawab masih perlukah personal branding di era yang sangat clutter ini, Vera yang menjadi pembicara pertama menjawab tegas. “Sangat penting dan justru semakin penting.” Kendati konsep Foremsky sudah berlalu hampir satu dekade, menurut Vera, konsep mengenai personal branding terus berproses. “Kalau sepuluh tahun silam kita bicara personal branding masih meraba-raba,sekarang prosesnya semakin jelas,” lanjutnya. Merunut sejarah media sosial, Vera menyebut kemunculan Friendster merupakan awal kesadaran bahwa orang bisa menampilkan diri melalui internet, mendapat testimonial dari banyak orang dan akhirnya semakin paham risiko munculnya penilaian-penilaian yang semakin terbuka atas kepribadiannya.

Menurutnya, penampilan personal ini semakin ke sini semakin transparan. “Kita seperti hidup di dalam fish ball, di mana seluruh aktivitas ikan di dalamnya bisa dilihat dengan jelas karena sangat jernih dan warnanya gold,” paparnya. Maksud Vera, personality setiap orang begitu mudahnya diketahui melalui pencarian di dunia maya. “Di situlah pentingnya personal branding, sangat penting bagi kita untuk menata diri,” lanjutnya.

Sekali pun media sosial dan internet memudahkan kita untuk melakukan personal branding, Vera mengingatkan risiko pisau bermata dua jika kita salah meletakkan sikap. “Kalau personal branding-nya sudah salah, impresinya juga salah. Orang akan menilai kita salah kalau kita nulis sembarangan.”

Secara filosofis Daniel Surya berpendapat personal branding adalah sebuah wadah untuk menghargai ciptaan Yang Maha Kuasa karena sebenarnya tidak ada orang yang sama. Dalam bahasa komunikasi, ia berpendapat personal branding sejatinya adalah upaya untuk menunjukkan deferensiasi kita ke publik. Sayangnya, menurut Daniel, banyak orang yang terjebak pada kemiripan sehingga sukar menemukan deferensiasi alias keunikan diri sendiri.

Mengenai hakikat personal branding, Vera menyayangkan banyaknya persepsi keliru yang menyamakan dengan “pencitraan.” Personal branding yang sejati, menurutnya, adalah perjalanan “human being”, bukan sesuatu yang mendadak sehingga prosesnya mestinya mengalir saja. “Kita bisa stand out kalau sudah stand up dulu. Semua orang bisa berbeda. “ tutupnya. (Nurur R. Bintari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)