Pola Konsumsi Kopi yang Berubah

Kopi bagi orang Australia itu seperti teh bagi orang Inggris. Bisa dibilang bahwa kopi merupakan minuman nasional setelah bir. Kopi identik dengan bersosialisasi, alpukat dalam roti bakar dan sinar matahari Australia. Namun, sejak dimulainya penguncian COVID-19 di Australia, kebiasaan konsumsi kopi telah berubah.

Orang Australia dikenal karena budaya kedai kopi mereka. Menurut penelitian Nielsen Consumer Insights, satu dari dua (53%) warga Australia mengunjungi kedai kopi atau kafe setidaknya sebulan sekali pada 2019.

Namun, data omnichannel terbaru dari Uno Group mengungkapkan bahwa dalam empat minggu hingga 7 April, 2020, jumlah perjalanan ke kedai kopi turun secara signifikan (-39%) dibandingkan dengan periode empat minggu sebelumnya.

Sebagai gantinya, orang Australia minum lebih banyak kopi di rumah. Data Nielsen Homescan menunjukkan bahwa rumah tangga Australia menghabiskan 37% tambahan untuk kopi dari toko grosir untuk konsumsi di rumah dalam empat minggu menjelang 22 Maret, dibandingkan dengan tahun lalu.

Beberapa konsumen mungkin kehilangan barista lokal mereka. Kenapa? Riset itu juga menunjukkan peningkatan penjualan kopi premium dan pertumbuhan yang sangat kuat untuk biji kopi, kopi instan premium, kopi instan standar, dan kopi bubuk untuk dikonsumsi di rumah.

Dilihat dari segmen umur, rumah tangga di bawah 35 tahun tanpa anak-anak adalah kelompok yang peningkatan pengelurannya paling besar kopi selama periode ini, terutama untuk kopi instan premium, kopi bubuk dan biji kopi. Bisa jadi ini dikarenakan adanya pergeseran dari bekerja di kantor ke rumah  selama penguncian pandemic.

Pergeseran dalam konsumsi kopi hanyalah salah satu contoh bagaimana perilaku konsumen selama pandemi telah mempengaruhi pertumbuhan yang kuat dalam kategori bahan makanan tertentu karena orang Australia menghabiskan lebih banyak waktu makan dan minum di rumah.

Data survei dari Nielsen Global Consumer Sentiment Report mengungkapkan 28% orang Australia semakin jarang menggunakan layanan pengiriman makanan. Sekitar 40% mengatakan lebih sering makan di rumah.

Selama periode waktu yang sama, ada sejumlah kategori bahan dapur - seperti bahan masakan Asia dan India - yang menunjukkan kenaikan. Ini memberikan gambaran bagi sebagian orang, memasak di rumah menggantikan takeaway, termasuk pada Jum’at malam.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)