Saatnya Mem-branding Indonesia Melalui Family Business Inc.

Tak cuma destinasi wisata yang bisa digunakan sebagai tools pemerintah dalam membranding Indonesia di pasar mancanegara. Namun, merek-merek lokal--termasuk merek yang berasal dari perusahaan keluarga--juga dapat dijadikan tools untuk membranding (negara) Indonesia. Misi itulah yang dikedepankan Indonesia Brand Forum (IBF).

IMG_20160824_53635

Sejak diluncurkan pada 2013 silam, diungkapkan Program Director IBF Yuswohady, IBF dirancang bukan sekadar ajang konferensi branding tahunan. "Kami menjadikan IBF sebagai gerakan atau movement untuk mengingatkan bangsa Indonesia mengenai pentingnya membangun brand," tuturnya di perhelatan Indonesia Brand Forum 2016 yang digelar hari ini (24/8), di Grand Hyatt, Jakarta.

Jika Jepang bisa besar karena merek Toyota, Sony, Sharp, hingga Canon; Korea memiliki merek Samsung, Hyundai, dan Kia; atau Amerika punya Coca-Cola, Starbuck, dan GE; maka bukan tidak mungkin Indonesia juga dikenal karena merek-merek lokalnya. Terlebih, Indonesia sudah punya Indofood yang merupakan market leader di pasar Nigeria untuk pasar mie instant, Sritex yang sukses merangsek pasar ekspor hingga ke 30 negara, serta merek lokal lainnya yang juga sukses di pasar global.

"Nah, brand-brand yang sukses di pasar ekspor tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Mereka dapat bersinergi membranding Indonesia di pasar mancanegara layaknya Jepang, Amerika, dan Korea. Dan, IBF mencoba memberikan wadah bagi brand-brand lokal untuk saling bersinergi. Tentu saja, langkah itu harus mendapat dukungan pemerintah," harap Yuswohady.

Guna mewujudkan misinya itu, tahun 2016 ini IBF mengusung tema "Branding Family Business for the Nation: Lestari dari Generasi ke Generasi". Dipilihnya perusahaan keluarga sebagai tema IBF tahun ini tak lepas dari sejumlah fakta tentang tingginya kontribusi perusahaan keluarga terhadap perekonomia Indonesia.

Dipaparkan Yuswohady, lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga (PwC, 2014). Total kekayaan bisnis keluarga mencapai US$ 134 miliar atau sekitar 25% dari PDB Indonesia. Bahkan, 40 ribu orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga.

"Untuk itu, IBF menginisiasi tentang perlunya perusahaan keluarga di Indonesia bersatu dan menyamakan langkah untuk masuk dan bersaing di pasar global. Misalnya, melalui Family Business Inc. Sejatinya, Family Business Inc. adalah kolaborasi dan sinergi antar perusahaan keluarga, baik besar maupun kecil dalam rangka menghimpun kekuatan sumber daya, baik modal, teknologi, manajemen, dan SDM di tingkat global," lanjutnya.

Guna mewujudkan misi IBF itu, maka sebagai langkah nyata, dalam waktu dekat IBF berencana menggelar family business forum, yakni forum diskusi yang dihadiri oleh para owner. Tentu saja, forum tersebut diharapkan dapat digelar secara rutin tiap bulannya. "Melalui forum itu diharapkan dapat tercipta berbagai action ke depannya terkait branding maupun bertarung di pasar mancanegara," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)