Targetkan Pangsa Pasar 30%, CKD OTTO Resmikan Pabrik Obat Onkologi Bersertifikasi Halal

Chong Kun Dang Pharmaceutical Corp. (CKD Pharma), salah satu perusahaan farmasi terdepan di Korea Selatan, resmi menggarap pasar Indonesia mulai tahun ini melalui produk obat onkologi berkualitas. Kehadirannya di pasar farmasi Indonesia dengan menggandeng OTTO Pharmaceutical, anak usaha dari MENSA Group sebagai partner lokal di Indonesia. Dengan kesamaan visi dan komitmen dalam meningkatkan kualitas produk farmasi, CKD Pharma dan OTTO Pharma bersinergi melalui PT CKD OTTO Pharmaceutical (CKD OTTO Pharma) pada 2015.

Keputusan merangsek pasar Indonesia tak lepas dari  besarnya potensi pasar farmasi di Indonesia. Selain jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta,  pangsa pasar farmasi Indonesia sudah  mencapai sekitar 7,9 triliun Won (US$ 7,2 miliar) pada 2018 dan diperkirakan akan mencapai sekitar 13 triliun Won (US$ 11,9) pada tahun 2023. Sementara itu, merujuk data Litbang Departemen Kesehatan RI, kenaikan penderita kanker di Indonesia, dari 1,4% di tahun 2013 lalu menjadi 1,8% di tahun 2018. 

Sebagai langkah awal, CKD OTTO Pharma fokus pada produk obat onkologi berupa injeksi dalam bentuk cair dan bubuk. Pada hari ini (9/7), CKD OTTO meresmikan pabrik obat onkologi berlabel halal pertama di Indonesia, tepatnya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Pabrik yang sudah dibangun sejak 2016 lalu itu, telah memenuhi pedoman EU-GMP (standardisasi Eropa). Total investasi untuk pabrik CKD OTTO seluas 12.588 meter persegi itu mencapai US$ 30 juta dengan kapasitas produksi tahunan 1,6 juta vial.

Dijelaskan Baik In Hyun, Presiden Direktur PT CKD OTTO Pharma, CKD OTTO Pharma telah mendapatkan sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada September 2018. Di tahun yang sama, CKD OTTO Pharma memperoleh sertifikat manufaktur untuk obat-obatan dari Kementerian Kesehatan RI. 

Pada Februari 2019, CKD OTTO Pharma telah menerima sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menjadikan kami perusahaan farmasi pertama untuk produk onkologi dengan sertifikasi halal di Indonesia,” jelas Baik In Hyun, pada hari ini (9/7), di Cikarang, Bekasi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, fasilitas pabrik CKD OTTO menggunakan sistem produksi dan manajemen dari Chong Kun Dang. Termasuk, untuk obat anti-kanker utama yang diproduksi oleh Chong Kun Dang seperti Oxaliplatin, Gemcitabine, dan Docetaxel juga akan diproduksi dan didistribusikan secara lokal.

"CKD OTTO Pharma menargetkan untuk menguasai 30% pangsa pasar obat anti kanker di Indonesia dalam lima tahun ke depan dan menjadikan fasilitas di Indonesia sebagai basis produksi untuk target pasar di Timur Tengah, Afrika Utara (MENA), Eropa, dan sepuluh negara ASEAN,"  patok Baik In Hyun, yang menyebutkan bahwa CKD OTTO akan fokus pada pasar lokal lebih dulu, yang nantinya jika memasuki pasr ekspor, target komposisi lokal dan ekspor 50:50. 

Guna mencapai 30% pangsa pasar  tersebut, diuraikan Baik In Hyun, sejumlah strategi siap dijalankan. Di antaranya, memperoleh sertifikasi halal pertama untuk pabrik obat onkologi, menggunakan teknologi dari Korea, dan pabrik CKD OTTO berdedikasi hanya untuk memproduksi dan memasarkan obat Onkologi.

Ditambahkan  Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, SpM., Menteri Kesehatan Indonesia, biaya pengobatan kanker nasional secara total dari tahun ke tahun pun meningkat. “Tahun lalu biaya BPJS Kesehatan untuk penyakit katastropik menyedot paling besar Dana Jaminan Sosial sebesar Rp 1,2 triliun, sekitar 20-30% dihabiskan untuk pengobatan kanker,” ucapnya. Penyakit yang teridentifikasi sebagai penyakit katastropik antara lain cirrhosis hepatis, gagal ginjal, penyakit jantung, kanker, stroke, serta penyakit darah (thallasemia dan leukemia).

Menurut Nila, joint venture ini patut diapresiasi karena dapat menjadi salah satu solusi sekaligus menjadi transfer ilmu bagi Indonesia. "Sebab, jika Indonesia membangun pabrik sendiri tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, joint venture ini juga akan membuat harga obat onkologi menjadi lebih murah, karena tidak ada biaya pengiriman atau distribusi dari luar negeri," lanjutnya.

Diimbuhkan CEO Mensa Group Jimmy Sudharta, rencananya obat onkologi yang  diproduksi di pabrik Cikarang ini akan diekspor. "Namun, untuk rencana ekspor ini, kami memang harus bertahap, karena harus melewati perizinan dan audit dari negara yang ingin diekspor. Sebagai tahap awal, kami produksi untuk pasar Indonesia lebih dahulu. Dan, obat ini sudah masuk eKatalog dan BPJS," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)